Mohon tunggu...
Gielangbina
Gielangbina Mohon Tunggu... Penulis - Cerpenis

Menulis cerpen dan puisi di waktu senggang.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Ziarah ke Makam Ayah

23 Oktober 2021   10:18 Diperbarui: 23 Oktober 2021   10:38 196 6 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Foto: Leuweung Tikus (BBC News Indonesia)

Blitar Selatan, 2000

Bagi mereka yang telah lama pergi, kembali ke kampung halaman adalah suatu kesenangan tersendiri. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Rianto, kembali ke kampung halaman berarti kembali mengingat tragedi berpuluh tahun silam yang menimpa bukan hanya keluarganya, tapi hampir seluruh penduduk di kampung halamannya.

Dalam semilir angin di atas mobil pikap yang ditumpanginya, satu-persatu kenangan itu kembali datang.

***

Blitar Selatan, 1966

Kampung halamannya adalah sebuah desa di Selatan Pulau Jawa yang sangat terisolir dari dunia luar. Saking terisolirnya desa itu, ayahnya selalu bercerita kepadanya, kalau dahulu penjajah enggan untuk menginjakkan kaki ke desanya. Walaupun begitu, desanya adalah sebuah tempat yang asri karena dikelilingi oleh barisan hutan jati. Banyak pula yang menjuluki desanya sebagai surga bagi kaum tani. Karena di desanya para penduduk mendapatkan lahan yang sama rata, sehingga para petani dapat memenuhi kebutuhan hidupnya masing-masing.

Hingga pada suatu hari, ia tidak ingat tepatnya kapan, tapi seingatnya ketika itu umurnya baru menginjak usia 7 tahun. Desanya kedatangan beberapa orang yang mengenakan pakaian yang necis. Orang-orang itu menemui ayahnya, mereka mengobrol di ruang tamu dengan suara yang cukup kencang, kadang diselingi oleh tawa, sehingga Rianto dapat mendengarnya dari dalam kamar. Ia mendengar kata perlawanan, revolusi, angkat senjata, dan serangkaian kata-kata lain yang sulit dimengerti olehnya. Ia masih ingat, ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri ayahnya, salah satu orang itu mengusap kepalanya ketika mereka hendak berpamitan meninggalkan rumahnya.

Seperti anak-anak seusianya yang haus akan rasa ingin tahu, setelah orang-orang itu pergi, ia bertanya ke ayahnya, siapa orang-orang itu. Ayahnya hanya menjawab kalau orang-orang itu adalah para pejuang yang berasal dari Jakarta. "Pejuang?" Dalam hatinya ia mulai bertanya-tanya, untuk apa pejuang itu datang ke desanya? Apakah akan terjadi perang seperti pelajaran sejarah yang diajarkan gurunya di sekolah rakyat? Entahlah, ia terlalu kecil untuk memahami apa yang tengah terjadi. Yang pasti, semenjak kedatangan orang-orang itu, suasana di desanya memang berubah. Orang-orang yang setiap pagi pergi ke sawah mengenakan pakaian sederhana, kini tiap sore mereka berseragam rapi dan berbaris pergi ke lapangan dengan menenteng senjata di lengan kanan.

Tiap sore, bersama Pai, ia datang ke lapangan untuk menyaksikan orang-orang itu latihan baris berbaris. Bukan tanpa alasan mereka berdua datang ke sana, di dalam barisan itu ada ayah Pai dan ayahnya yang berada di baris paling depan. Ia juga melihat orang-orang yang pernah datang menemui ayahnya di rumah, sedang memberi instruksi kepada orang-orang yang ada di barisan.  Cukup lama orang-orang di desanya melakukan kegiatan itu.

Sampai pada suatu malam, ketika Rianto tengah mencoba memejamkan matanya, dari luar terdengar suara tembakan yang cukup deras menembus dinding kamarnya. Seketika suasana menjadi mencekam, ia berpikir waktu itu, penjajah telah kembali ke Indonesia, dan ayahnya bersama orang-orang itu mencoba untuk berjuang mengusirnya. Tapi ia berubah pikiran, karena ia masih ingat kalau ayahnya pernah berkata kalau penjajah enggan datang ke desanya. Entahlah, yang pasti sejak suara tembakan di tengah malam itu, ayahnya tidak pernah pulang ke rumah. Dan kegiatan baris-berbaris yang biasa diadakan tiap sore sudah tidak pernah dilakukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan