Mohon tunggu...
Gielangbina
Gielangbina Mohon Tunggu... Penulis - Cerpenis

Menulis cerpen dan puisi di waktu senggang.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Si Tengleng

22 Oktober 2021   13:13 Diperbarui: 22 Oktober 2021   13:14 136 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Foto: Buku Operasi Sandi Yudha

Entah, sejak kapan pemuda itu datang kemari. Yang pasti, setiap hari dia  selalu menghabiskan waktunya dengan memancing ikan di muara sungai yang berada di sebelah kampung. Masyarakat di kampung biasa memanggilnya Si Tengleng. Bukan karena wajahnya yang mirip peranakan Tionghoa, tapi karena kepalanya yang teleng (miring) ke arah sebelah kiri.

Tidak seperti masyarakat lain yang tinggal di pesisir pantai, dia membangun gubuknya yang kecil di area tepi hutan, agak jauh dari pemukiman masyarakat. Perangainya yang ramah membuat masyarakat kampung tidak curiga dan dengan senang hati menerimanya.

Tidak banyak yang aku tahu dari Si Tengleng, dia jarang sekali berbicara dengan masyarakat kampung. Bahkan jika berpapasan di jalan, dia hanya mengangkat topi capingnya, menganggukkan kepala dan tersenyum. Biasanya sepulang memancing dia selalu mampir sebentar ke warung kopi untuk membarter hasil tangkapannya dengan beberapa keperluan dapur.

Yang membuat kami, orang-orang yang berkumpul di warung kopi senang adalah terkadang jika hasil tangkapannya melimpah, dia akan memberikannya kepada beberapa orang yang berada di warung itu dengan cuma-cuma, termasuk aku. Tapi, sudah hampir seminggu aku tidak melihatnya mengunjungi, atau sekedar melewati sambil menegur orang-orang yang berada di warung kopi.

Kadang aku bertanya kepada pemilik warung kopi, apakah Si Tengleng telah lewat atau datang kemari, tapi kata pemilik warung itu, sudah hampir seminggu dia tidak melihatnya. 

Mungkin, beberapa orang di kampung telah melupakannya, tapi tidak denganku. Si Tengleng sendiri pernah membantuku untuk membenarkan atap rumahku yang bocor, bahkan dia tidak meminta imbalan sedikitpun setelah selesai membenarkannya. Aku khawatir dia sedang sakit parah di gubuknya, dan orang-orang kampung tidak menyadarinya.

Setelah meneguk habis kopi pesananku hingga hanya tersisa ampasnya, aku segera membayarnya dan melangkah pulang ke rumah. Di rumah, aku ceritakan permasalahan ini kepada istriku. 

Sehabis mendengarkan semua penjelasakanku, dia lantas menyuruhku untuk membesuk Si Tengleng di gubuknya, dan membekaliku dengan berbagai macam jenis buah-buahan, seperti jeruk, pisang, kelapa sebagai oleh-oleh.

Sesampainya di sana, aku mengetuk pintu gubuk itu dengan perlahan, namun tak ada yang menyahut dari dalam. Memang, ini adalah pertama kalinya aku bertamu ke gubuk Si Tengleng. Jaraknya yang agak jauh dari pemukiman membuat masyarakat kampung enggan untuk bertamu ke gubuknya.

Setelah agak jenuh memanggil-manggil dari luar, dengan terpaksa aku memutuskan untuk membuka pintu gubuk itu sambil berbisik permisi. Tapi setelah membuka pintu itu, aku tidak mendapati seorangpun yang ada di dalam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan