Mohon tunggu...
Gielangbina
Gielangbina Mohon Tunggu... Penulis - Cerpenis

Menulis cerpen dan puisi di waktu senggang.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Bang Pi'i

21 Oktober 2021   06:53 Diperbarui: 21 Oktober 2021   07:04 101 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Namanya Imam Syafei, tapi orang biasa memanggilnya Bang Pi'i. Orang tuanya menamakannya begitu berharap jika sudah besar anaknya bisa menjadi ulama yang terkenal, mengikuti Imam Asy-Syafi'i. Ia lahir di Jalan Bungur, Senen, dalam suasana kemerdekaan. Sejak kecil, orangtuanya selalu menitipkannya ke pamannya yang seorang guru ngaji terkenal di Bungur untuk belajar ilmu agama, dan bela diri. Namun, Pi'i kecil hanya gemar belajar ilmu bela diri. Ketika waktunya mengaji, ia akan kabur bermain bersama kawan-kawannya di tanah lapang.

Kedua orangtuanya pun telah lama meninggalkannya. Ibunya lebih dulu meninggalkannya ketika ia baru menyelesaikan khataman Al-Qur'an pertamanya. Kekurangan kasih sayang seorang ibu membuat Pi'i kecil tumbuh menjadi pribadi yang keras. Dengan ilmu bela diri yang diajarkan pamannya, Pi'i kecil gemar sekali berkelahi.

Menjelang remaja, sang ayah akhirnya pergi meninggalkannya akibat penyakit TBC yang telah lama diidapnya. Ekonomi yang serba kekurangan membuat Pi'i tidak bisa membawa ayahnya berobat ke rumah sakit. Jadilah Pi'i seorang anak yatim piatu.

Bersama dengan Ridwan, alias Bopeng yang memiliki bekas jerawat menyerupai kawah anak Gunung Krakatau di wajahnya, Pi'i mencoba bergulat di sekitar Terminal dan Pasar Senen. Dengan alasan mencari rezeki, mereka berdua mencopet, menjambret, dan berkelahi dengan para preman. Sudah puluhan kali mereka merasakan dinginnya jeruji besi, namun berakhir kembali karena dorongan manusiawi. Sekarang dialah yang memegang wilayah Pasar Senen, sedangkan area terminal dipegang oleh Bopeng.

Menjelang siang biasanya mereka berdua akan datang mengambil uang setoran yang telah dikumpulkan oleh anak buahnya. Para pedagang kios, ataupun supir bus tidak ada yang menyukai mereka, kecuali Mak Iyam yang tak pernah ditagih uang keamanan.

Mak Iyam membuka sebuah warung makan, di sanalah Pi'i dan Bopeng selalu makan siang selesai menerima uang keamanan. Bukan tanpa alasan, Pi'i enggan menyuruh anak buahnya untuk menagih uang keamanan kepada Mak Iyam. Ia naksir dengan anak semata wayang Mak Iyam yang bernama Siti Nur Layla, biasa dipanggil Lela. Di warung itu, ia gemar sekali menggoda Lela. Biasanya Lela membalasnya dengan berseloroh, atau hanya tersenyum malu-malu.

Walaupun Mak Iyam senang karena Pi'i tak pernah menagih uang keamanan kepadanya, namun ia tidak suka jika anaknya berhubungan dengan Pi'i. Bukan karena wajah Pi'i yang tak tampan dengan kumis dan janggut yang menyatu seperti Pulau Sulawesi, bukan karena rambut Pi'i yang terurai sebahu, bukan juga karena tato tengkorak dan naga yang melingkari lengannya, tapi ada hal lain yang membuat Mak Iyam enggan merestui hubungan keduanya.

***

            Siang itu, seperti biasa ia bersama Bopeng mampir ke warung Mak Iyam untuk makan siang. Kebetulan hari itu Mak Iyam sedang tak ada di warung. Tinggallah anak semata wayangnya dan Mpok Ira, sepupuh jauh Mak Iyam yang biasa membantunya jika sedang kerepotan.

            "Eh Bang Pi'i, Bang Bopeng mao makan pake ape nih?" tanya Lela dengan senyuman yang semringah.

            "Biasa Neng pake telor semur, ame tempe orek aje. Minumnye teh tawar anget ye," jawab Pi'i sambil tangannya memilin-milin ujung janggutnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan