Mohon tunggu...
Sugie Rusyono
Sugie Rusyono Mohon Tunggu... Menulis merupakan ritus keabadian

Tinggal di Blora

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kearifan Lokal untuk Pendidikan Perempuan

5 April 2021   14:48 Diperbarui: 5 April 2021   14:49 122 6 1 Mohon Tunggu...

Masa Pandemi Covid-19 dan penerapan pembelajaran virtual atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), mau tidak mau langsung merubah pola pikir pendidikan yang ada saat ini. Bagaimana tidak, lantaran semua anak kini harus melalui melalui teknologi, tiap hari bergelut dengan dunia virtual atau dunia maya. Dunia yang mengajarkan sifat dan prilaku yang sebebas-bebasnya. Hanya dengan sentuhan jari, maka semua akses bisa di lihat secara langsung.

Inilah sebenarnya tantangan yang tidak ringan bagi dunia pendidikan, khususnya bagaimana lebih mengedukasi pendidikan perempuan saat ini, lebih khusus kepada anak-anak perempuan khususnya. Kalau melihat, peran orang tua dan ibu yang sangat penting dalam pendidikan virtual. Seperti yang dilakukan oleh Ibu Rina. Dirinya  selalu mengingatkan kepada Kinanthi anak perempuannya yang masih duduk di kelas V SD,  agar mengerjakan tugas-tugas yang dikirim oleh gurunya melalui grup WA orang tua dan siswa. Setiap hari itu selalu dilakukan sejak anak-anak sekolah menikmati sekolah virtual, maksudnya pembelajaran jarak jauh.   Ya selama PJJ memang ruang pendidikan berubah, orang tua dan anak mau tidak mau merubah pola pikir melakukan pendidikan. Peran guru yang begitu sentral dalam pembelajaran tatap muka, kini bergeser menjadi peran orang tua yang paling dominan.

Selepas magrib hal yang sama juga dilakukan. Bahkan waktu inilah yang digunakan untuk mendampingi anaknya dalam mengerjakan tugas dari sekolah. Tidak hanya itu saja, meski ada ayah, anak tetap meminta yang mengajarkan adalah ibunya. Lebih enak dan nyaman belajar bersama ibu, meskipun terkadang ibu cukup galak dan keras saat mendampingi belajar. Nah itu menandakan sebuah pesan bahwa ibu adalah guru pertama dan utama.  Maka dalam konteks pendidikan perempuan dan KPB pendidikan perempuan, saya melihat ibu harus menjadi tauladan yang baik bagi anak-anaknya, terlebih anak perempuan.

Di era sekarang, nampaknya mendidik dengan keteladanan langsung akan berdampak baik pada pola pikir dan tingkah laku. Jika yang dilihat sehari-hari dari ibunya adalah negative tentu akan berpengaruh pada anak. Hal-hal keteladanan inilah yang kembali saya tekankan. Seperti Memberikan edukasi akan epos kepahlawanan tokoh-tokoh perempuan. Saya rasa cukup banyak keteladanan dan perjuangan tokoh wanita di Indonesia yang layak untuk selalu di ceritakan kepada anak-anak perempuan. Tokoh-tokoh wanita dari beragam profesi dan keahlian.

Sekolah khusus perempuan diera sekarang masih ada tetapi nampaknya tidak sebanyak era dulu. Soal sekolah saya teringat akan sekolah khusus wanita yang ada di kota kelahiran Pramudya . Ya..tepatnya di Blora ada sekolah khusus wanita.  Ya ....diera sebelum Indonesia merdeka,  ada Sekolah  Darmorini. Saat itu sekolah khusus bagi perempuan pribumi didirikan agar perepuan pribumi bisa mengenyam pendidikan dan ketrampilan.   Kini menjadi SDN Kunden 1.

Ya..bangunan khas peninggalan kolonial ini ternyata menyimpan perjuangan kaum wanita yang ada di Blora khususnya dalam bidang pendidikan. Sekolah Darmorini memang sekolah setingkat SD yang khusus bagi perempuan.  Di sekolah itu mendapatkan ketrampilan membatik, menenun, menjahit dan menyulam diajarkan kepada siswanya. Adanya sekolah tersebut memang diilhami oleh cara RA Kartini dalam mendidik kaumnya. Sehingga sekolah kepanduan untuk perempuan di Blora didirikan.  Kalau melihat data yang ada di papan tahun berdirinya 1911 dan tahun perubahan 1983 menjadi SDN 1 Kunden. Adanya sekolah Darmorini di Blora menunjukkan bahwa emansipasi wanita di Blora sudah sejak dulu ada. 

Sejarah mewariskan betapa pendidikan perempuan telah dilakukan dengan mengedepankan kearifan lokal dan nilai-nilai adat perempuan. Maka diera kekinian memberikan edukasi tentang nilai-nilai kearifan lokal perempuan, harus terus tumbuh dan hidup di sekolah-sekolah formal. Kearifan lokal itulah yang menjadi ciri khas dan keteladanan pendidikan perempuan di Indonesia. Membangun kemandirian rumah budaya, rumah yang mengajarkan akan nilai-nilai tradisi lokal perempuan. Sekolah perempuan yang saat ini ada harus mampu meberikan bekal tidak hanya kemampuan pengetahuan kekinian tetapi akar tradisi tidak boleh hilang.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x