Mohon tunggu...
Gia Safitri
Gia Safitri Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar

Seorang siswi SMA yang gemar merangkai kata. Pemimpi yang handal, serta pemalas sejati. Banyak hal yang ingin dicapai, tetapi enggan memulai.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cermin: Bahagia yang (Tak) Abadi

19 November 2022   08:55 Diperbarui: 19 November 2022   09:07 73
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Hidup di dunia dengan keluarga yang saling menyayangi dan mengasihi adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepadaku. Tidak pernah ada pertengkaran maupun percekcokan di rumah. Rasanya begitu damai dan tenang.

Kebahagiaan seolah selalu menyelimuti sedari aku kecil. Ayah yang selalu menyediakan waktu bagi anak-anaknya ditengah rentetan pekerjaan yang menyibukkan. Jangan lupakan juga sosok ibu yang sangat memahami kebutuhanku, pun seorang kakak yang tidak pernah absen menjagaku.

Hidupku terasa begitu sempurna. Keluarga harmonis, kondisi finansial yang selalu berkecukupan, serta sahabat yang pengertian. Tidak ada celah bagiku untuk tidak mengembangkan senyum selama ini.

Namun, semua itu seolah percuma. Kebahagiaan yang selalu aku agung-agungkan selama ini lenyap bak ditelan malam, kala pagi tadi dokter mengungkapkan hidupku tidak akan lama lagi. Aku didiagnosis terkena kanker otak stadium tiga.

Hancur! Aku tidak tahu mesti berbuat apa. Selama ini, aku tidak pernah mengira, dalam tubuhku bersarang penyakit mematikan itu. Penyakit yang bisa merenggut nyawaku kapan saja. Ya, bahkan pada detik berikutnya.

"Kita akan mencoba yang terbaik untuk pengobatan kamu," kata ibuku menenangkan. Meski aku tahu beliau sama hancurnya denganku, bahkan bisa jadi lebih hancur dariku, tetapi ibu tetap bisa bersikap tenang. Pemikiran-pemikiran positif ibu tuangkan padaku, mungkin berharap agar aku tidak memilih menyerah pada keadaan.

Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri, semenjak diagnosis itu dinyatakan, suasana berubah. Seluruh anggota keluargaku murung, tampak tidak bergairah melakukan aktivitas apa pun. Kendati di hadapanku mereka tetap tersenyum ceria, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, aku bukan gadis bodoh yang tidak mengetahui kebenarannya melalui sorot mata mereka.

Ayah yang selama ini selalu menyediakan waktu untuk berkumpul, kini tidak lagi. Pria paruh baya itu bekerja lebih keras karena semenjak aku sakit, ekonomi keluarga memburuk lantaran harus membiayai biaya pengobatanku yang tidak sedikit.

Ibu pun turut bekerja dengan menerima catering yang masuk. Juga kakak yang belakangan ini jarang kutemui di rumah, entah apa yang dia lakukan di masa akhir kuliahnya. Tetapi, dari uang yang dia berikan kepadaku, aku tahu, dia pun ikut bekerja. Semua mereka lakukan demi pengobatanku.

Jangan lupakan pula sesok sahabat yang selalu menemaniku. Setiap hari dia datang membawakan makanan yang tidak lagi hambar. Pun dengan bibir tipis yang senantiasa mengumandangkan kalimat-kalimat penguat agar aku tetap bisa bertahan.

Aku tahu, mereka berusaha yang terbaik untukku, tetapi aku tidak sekuat itu untuk bertahan. Maka, ketika ayah ingin menjual rumah yang kami tinggali, aku menolak. Aku tidak ingin menjadi beban untuk mereka. Aku putuskan untuk berhenti berobat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun