Mohon tunggu...
Ghulam Falach
Ghulam Falach Mohon Tunggu... Pengajar yang selalu ingin belajar untuk mensyukuri fungsi akal sehat

Salah satu praktisi di STTKD Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menolak Lupa! Hari Keluarga Nasional, Nafas Generasi Pancasila!

30 Juni 2020   09:45 Diperbarui: 30 Juni 2020   09:51 6 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menolak Lupa! Hari Keluarga Nasional, Nafas Generasi Pancasila!
(gambar diambil dari laman web siedoo.com)

"Sudah terbukti Pancasila yang saya gali dan dipersembahkan kepada rakyat Indonesia adalah satu dasar yang dinamis satu dasar yang benar-benar bisa menghimpun seluruh tenaga Indonesia dan mempersatukan Indonesia," pidato soekarno pada tanggal 1 Juni 1945.

Menengok kembali sejarah kelahiran Pancasila, dimana nilai-nilai luhur digali dari kehidupan  bangsa  Indonesia yang syarat akan kedamaian dan kekuatan nilainya. Pancasila  merupakan  cerminan dari  jiwa  dan  kepribadian bangsa Indonesia. Nilai nilai luhur Pancasila telah melebur bagi seluruh individu Indonesia dan berevolusi sebagai ideologi setiap warga dengan berdasarkan kepada  Tuhan  YME, saling menyayangi  dan  mencintai  sesama, bersatu  dalam perbedaan, permufakatan berkekeluargaan, dan adil untuk semua.

Terlepas dari berita ricuh sebab RUU HIP, sebagai pribadi yang berkeluarga dan bersosial sedikit mengingat saat tanggal 29 Juni ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional. Konsep-konsep  keluarga tersebut  kemudian  menjadi  inspirasi  dan  penyemangat  terhadap  pembentukan hukum  keluarga yaitu Undang Undang (UU) No. 1 tahun 1974. Keluarga  sebagai  unit  sosial  dalam komunitas terkecil termasuk bagian penting dalam negara,  maka  berbagai  konsep  keluargapun  diperkenalkan seperti “keluarga sejahtera”, “keluarga sakinah”, “keluarga bahagia” dan sebagainya.

Sejenak untuk mengilhami bentuk kekeluargaan yang terpatri bagi setiap individu. Emosi memang wajar muncul bila berbentrokan dengan egoisme-politik dan jangan sampai mengorbankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hirup pikuk akibat ujaran egois melahirkan letih lelah bangsa  akan kepentingan politis hingga golongan. Pada hakikatnya memang kita itu jelas berbeda. Manusia satu dengan lainnya berbeda, golongan satu dengan lainya berbeda, partai satu dengan lainnya berbeda. Jangan jadikan perbedaan itu berubah menjadi ajang pamer tanduk. Asas kekeluargaan perlu lebih dioptimalkan sebagai bentuk responsi.

Berkekeluargaan dapat menjadikan masyarakat berharap adanya kesejahteraan, kedamaian dan  kebahagiaan yang  menjadi  dasar bagi pembentukan sendi-sendi berbangsa dan  bernegara. Surplus positif terbangun dari pembentukan nilai dan pendidikan dalam keluarga. Terjadinya perkawinan antara seorang pria dan wanita yang lalu menjadi keluarga sebenarnya menjadi awal untuk bersejahtera bersama bukan bersejahtera secara individual.

Tekad seseorang yang telah saling membuat ikatan dalam satu ikatan kekeluargaan, sejak saat itu pula terikat untuk saling melaksanakan hak dan kewajibannya masing-masing dengan penuh tanggung jawab. Masing-masing harus bisa menanggalkan egosentrisnya untuk membangun komitmen yang selaras guna mewujudkan rumah tangga atau keluarga yang bahagia. Bila hal ini dapat ditanamkan terus menerus sebagai landasan dalam berbangsa dan bernegara, bukanlah hal yang tak mungkin untuk menjauhkan Pancasila dari noda kepentingan individualisme.

Merenungi hakikat komitmen dan pengaplikasiannya yang berlandaskan nilai-nilai dan etika positif maka semuanya akan menjadi mudah untuk dijalani dan memunculkan tujuan berkesejahteraan Pancasila. Jika sebaliknya komitmennya lemah maka bisa dipastikan rumah tangga yang telah dibangunpun akan mudah  retak ataupun goyah sehingga  berdampak  tidak  baik terhadap generasi berikutnya. Begitu juga imbasnya dalam Negara, jika komitmen beridelogi Pancasila lemah, maka keretakan Negara oleh generasi penerus berpotensi terjadi.

Generasi muda harus terus disirami dengan pemahaman nilai-nilai Pancasila dan implementasinya dalam kehidupan. Jangan sampai generasi penerus tongkat estafet bangsa plin-plan dalam penerapan Pancasila. Penanaman ideologi Pancasila sejak dini yang dimulai oleh terapan keluarga merupakan opsi yang penting. 

Tentunya kita semua tidak menginginkan simbol Negara kehilangan perisainya. Dimulai dari keluarga menuju masyarakat untuk menguatkan jiwa berbangsa dan bernegara dengan berlandaskan Pancasila adalah corak khas yang harus terus kita jaga. Semoga dihari keluarga nasional kemarin kita dapat lebih mewujudkan harapan kesaktian Pancasila dan tetap menjaga gagahnya si Garuda agar tetap terbang dengan perisainya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
30 Juni 2020