Mohon tunggu...
Ghifar Fauzi
Ghifar Fauzi Mohon Tunggu... Entrepreneur, Designer dan Engineer

Lahir di Tasikmalaya, 1997. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Teknik Kimia Institut Teknologi Kalimantan. Fokus pada bidang bisnis, perikanan, teknologi proses dan desain grafis. Owner dari Sokavit.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

SOKAVIT - Produk Suplemen Molting Kepiting Soka

14 Juli 2019   09:51 Diperbarui: 17 Juli 2019   01:13 0 0 0 Mohon Tunggu...
SOKAVIT - Produk Suplemen Molting Kepiting Soka
dokpri

Presiden Joko Widodo mengatakan sumber daya alam laut merupakan kunci kesejahteraan masyarakat Indonesia yang telah lama diabaikan. Dimana, diketahui sendiri bahwa kekayaan laut Indonesia sangatlah melimpah. Menurut data pemerintah, potensi perekonomian sumber daya alam laut Indonesia mencapai Rp 17 ribu triliun setiap tahunnya. Salah satunya di perairan Balikpapan, kelurahan Teritip. Para petambak khususnya kepiting Soka yakni kepiting bakau dengan keunikan cangkang lunak, mereka bisa menghasilkan 3-4 ton perbulannya.

Ada puluhan kepala keluarga yang bergantung pada profesi tambak kepeting soka ini, tatapi semenjak pengeluaran Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 tentang Penangkapan Lobster, Kepiting, dan Rajungan, kepiting soka harus memenuhi standar ukuran berat minimal 200 gram, kini hanya menyisihkan 5 kepala keluarga yang bertahan menjadi petani tambak. Pro dan kontra akan aturan pemerintah membuat petani tambak semakin gelisah. 

Keuntungan memang sangat baik bagi kelestarian kelautan. Dimana, kedepannya berharap agar kelak anak cucu penerus bangsa mampu menyaksikan keindahan kelautan alam Indonesia.  Namun, bagi yang berprofesi sebagai petani tambak seperti diatas, sangat merugikan mereka yang berdampak terjadinya penurunan perekonomian hingga hasil perbulan mereka hanya maksimal 1 ton kepiting soka. Sebab mengacu pada Surat Edaran tersebut. Adapun, lahan tambak yang dulunya produktif  sekitar 80% membudidayakan, kini sudah tidak produktif lagi bahkan hingga dialih fungsikan lahan tambaknya.

dokpri
dokpri
Menangkap masalah yang ada, mahasiswa ITK (Institut Teknologi Kalimantan) Kampus dengan visi Menjadi perguruan tinggi yang unggul dan berperan aktif dalam pembangunan Nasional melalui pemberdayaan potensi daerah Kalimantan pada tahun 2025 ,yang terdiri atas Dwi Kartika, Zulfadli, Ghifar, Nur Khalisah, dan Hakim menyimpulkan bahwa perlu adanya formula untuk mangatasi Surat Edaran pemerintah tersebut dengan membuat formula agar kepiting dapat dijual sesuai bobot yang ditetapkan pemerintah, yang sekaligus menjadi perwakilan 7 PKM ITK yang lolos terdanai oleh Dikti dalam bidang PKM-K. Atas dasar hasil pengembangan produk selama satu bulan, pada tanggal 18 Juni 2019 terciptalah produk Suplemen Molting Kepiting yang diberi nama "SOKAVIT". Awal mula uji coba Sokavit ini dilakukan pada KUB Patra Bahari Mandiri di Desa Selok-oseng, Kariangau, Balikpapan Timur. 

dokpri
dokpri
Pak Rustam, selaku Ketua Patra Bahari Mandiri mengatakan, "Kami sangat antusias dan senang atas kunjungan mahasiswa ITK disini." Lanjutnya, "Mereka sangat berperan penting akan peningkatan taraf hidup pendapatan warga sekitar dan lebih produktif lagi untuk masyarakatnya. Satu hal lagi, kami berharap agar kita saling berbagi pengalaman dan mahasiswa ITK membimbing kami dalam hal managementpemasaran dan pemasukan keuangan kami.". Adapun saat  sosialisasi bersama tim Dinas Perikanan Balikpapan ke Teritip, sangat disambut hangat dan bangga akan hasil karya lokal mahasiswa ITK tersebut. 

dokpri
dokpri
Berbicara karya Sokavit, keunggulan yang dimiliki ialah pertama, mampu meningkatkan bobot panen kepting. Kedua, mempercepat proses panen (Molting) Kepiting. Selanjutnya, cara penggunaan Sokavit tergolong sangat mudah, efisien dan efektif yakni hanya dengan menyemprotkan ke pakan Kepiting. Manfaat program adalah meningkatkan pendapatan petani kepiting hingga 40%, menghidupkan kembali 40-80% tambak yang telah tidak produktif di Balikpapan, terciptanya komunitas produksi sokovit di berbagai daerah, meningkatkan penghasilan petani bayam 40%, dan terakhir adanya 1000 supliyer sokavit di Indonesia.

"Meski terkendala mesin produksi, Tim Sokavit berharap agar penelitian ini kedepannya dapat tetap berlanjut meski pasca program PKM berakhir." Tegas Ghifar , Mahasiswa Teknik Kimia ITK tahun ketiga.

dokpri
dokpri
Tim Sokavit juga mengajak para kaum muda milenial Balikpapan untuk lebih peka kepada peluang potensi lautan Balikpapan dengan cara berinovasi bersama terhadap berbagai potensi melimpah yang dimiliki oleh Balikpapan. (*end)