Mohon tunggu...
Ghali Rizqillah
Ghali Rizqillah Mohon Tunggu... Penulis amatir, ga perlu satir, apalagi nyinyir.

Mahasiswa tingkat biasa aja, sedikit nulis banyak ngelamunnya

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Apakah Utang Luar Negri Selalu Berdampak Negatif?

16 April 2021   00:35 Diperbarui: 16 April 2021   00:41 53 1 0 Mohon Tunggu...

Hutang luar negri apakah selalu berdampak negatif?

Pembangunan ekonomi merupakan bagian tidak terpisahkan bagi negara berkembang seperti Indonesia yang bertujuan untuk mengimbangi kompetisi kemajuan ekonomi diseluruh dunia, semakin bertambahnya tahun perubahan baik dari tingkat perkembangan manusia, teknologi, dan ekonomi semakin bertambah kompetitif, tetapi untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada suatu negara pasti mengalami beberapa kendala seperti kurangnya produktifitas pada sumberdaya ekonomi, terutama sumberdaya modal yang menjadi peran penting dalam perekonomian. 

Untuk menutupi kekurangan modal pada suatu negara maka pemerintah melakukan upaya untuk menutupinya dengan mendatangkan sumberdaya modal dari luar negri melalui berbagai jenis pinjaman.

Banyak dari masyarakat Indonesia kebingungan mengapa pemerintah selalu berhutang kepada negara luar sedangkan hutang yang dimiliki Indonesia sudah mencapai 6.000 Triliun rupiah, hal ini lumrah jika masyarakat mempertanyakan hal itu, tentunya komunikasi pembangunan yang efektif harus dilakukan dari pemerintah untuk mengedukasi rakyat agar miskonsepsi mengenai hutang luar negri dapat diluruskan.

Penyebab utama Indonesia melakukan hutang luar negeri untuk menggenjot pembangunan infrastruktur di Indonesia, faktanya infrastruktur Indonesia masih berada di bawah rata-rata pembangunan infrastruktur di negara-negara lain yang setara.

ketertinggalan infrastruktur Indonesia menimbulkan tingginya biaya ekonomi yang harus ditanggung oleh seluruh masyarakat Indonesia dan menyebabkan rendahnya daya saing nasional.

Hutang luar negri Indonesia juga memiliki dampak jangka panjang dan jangka pendek. Dalam jangka pendek utang luar negri berdampak sangat positif terhadap pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan berbagai keutungan lainnya, tetapi tujuan utama negara berhutang pada negara maju untuk menutupi defisit anggaran pendapatan dan belanja negara lainnya. Dalam jangka panjang implikasi terhadap negara yakni menimbulkan permasalahan ekonomi dari  negara debitur kepada Indonesia dan menyebabkan beban psikologis politis bagi Indonesia.

Strategi Indonesia dalam membayar hutang luar negri patut di apresiasi, pasalnya ratio hutang luar negri Indonesia terhadap luar PDB cukup baik, pada era akhir kepemimpinan Suharto Indonesia memiliki hutang luar negri sebesar 551,4 triliun rupiah dengan PDB mencapai 955,6 triliun rupiah membuat rasio hutang 57,7%, pada era presiden BJ Habibi mewarisi hutang dari Suharto sebesar 938,8 triliun rupiah PDB saat itu sebesar 1.099 triliun rupiah dan menyebabkan rasio hutang membengkak 85,4% , pada era presiden Abdurrahman wahid Indonesia memiliki hutang sebesar 1.271 triliun rupiah dengan PDB sebesar 1.491 triliun rupiah dengan rasio hutang ke level 77,2%, saat Presiden Megawati Soekarnoputri, utang yang diwariskan mencapai Rp1.298 triliun. dan PDB yang melonjak ke level Rp2.303 dengan rasio utang turun menjadi 56,5%. 

Sepuluh tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin, hutang mencapai Rp2.608 triliun. Namun, lonjakan PDB yang juga berlipat hingga Rp10.542 triliun membuat rasio utang mencapai level terendah 24,7%. 

Pada era Presiden Joko Widodo per Juni 2019, pemerintah memiliki utang mencapai Rp4.570 triliun. dengan PDB yang juga melesat ke level Rp15.381 triliun dengan rasio utang berada pada angka 29,5%. Penjelasan ini menandakan bahwa kemampuan Indonesia membayar hutang sangat baik dibandingkan dengan negara selevel dengan Indonesia dalam membayarnya, hal ini diklaim mentri keuangan Indonesia Sri mulyani sebagai kemampuan pemerintah Indonesia dalam membayar hutang luar dengan baik dan selalu tepat waktu.

Semakin bertambahnya utang luar negeri pemerintah, berarti juga semakin memberatkan posisi APBN RI, karena utang luar negeri tersebut harus dibayarkan beserta dengan bunganya, tetapi demi memajukan ekonomi Indonesia berhutang juga perlu dipertimbangkan sebagai solusi konkrit untuk mengurangi deficit anggaran pendapatan dan belanja negara, serta mendongkrak pembangunan infrastruktur di Indonesia demi mengejar ketertinggalan dari berbagai negara se level dengan Indonesia.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x