Mohon tunggu...
Gusty Fahik
Gusty Fahik Mohon Tunggu... Administrasi - Ayah dan pekerja. Menulis untuk tetap melangkah.

I'm not who I am I'm who I am not (Sartre)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Saksi Itu Bernama Ibnu Sina (Avicenna)

6 Maret 2019   08:01 Diperbarui: 6 Maret 2019   08:10 1025
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
www.biografiasyvidas.com

Persia, 1022 M

Akhirnya madrasah itu dihancurkan, komunitas Yahudi dibantai, ketika Sang Tiran, Shah Ala ad Daula terbaring lemas oleh serangan tifus. Di jalanan para Mullah berteriak-teriak mengacungkan pedang, menghadang setiap Yahudi yang mencoba meloloskan diri. Hukum Allah yang sekian tahun diinjak-injak oleh sang tiran kini harus ditegakkan. 

Karenanya toleransi perlu dihilangkan dari bumi Persia. Keputusan Shah mengizinkan orang Yahudi untuk tinggal di kota Asfahan, dinggap melanggar Hukum Allah, sehingga Allah menghukum kota itu dengan wabah pes yang mematikan. 

Satu-satunya cara mengembalikan keadaan ialah dengan mengambil kekuasaan dari tangan sang penguasa dan menjalankan Hukum Allah di kota Asfahan.

Demi tujuan ini, para mullah rela bersekongkol dengan orang-orang Seljuk yang dengan penuh ambisi haus darah, mengepung tembok kota Asfahan. Sang tiran akhirnya tumbang, bukan sebagai seorang sakit yang lemas di atas ranjang, melainkan sebagai seorang ksatria di medan perang terakhirnya. 

Tiga batang anak panah menancap pada tubuhnya, membawa sisa-sisa kebanggaan akan perdamaian yang berhasil ia ciptakan di bumi Persia dikangkangi oleh para mullah dan orang-orang Seljuk.

****

Madrasah, tempat Ibnu Sina mengajar aneka bidang ilmu pengetahuan, mulai filsafat hingga kedokteran, matematika hingga astronomi musnah dilalap api kebencian para Mullah, yang bertindak mengatasnamakan Allah.

 Bila hukum Allah telah dipakai, sia-sia seluruh dalil yang dihasilkan manusia. Bahkan Ibnu Sina yang kemudian tersohor sebagai salah satu pemikir muslim paling jempolan itu, tidak sanggup menahan amarah orang-orang yang dirasuki ambisi menegakkan Hukum Allah.

Dalam diamnya, Ibnu Sina menghadapi konflik batin yang luar biasa hebat. Di sebelah kiri, ia berhadapan dengan sang penguasa yang meski kejam dan tanpa belas kasihan melindas musuh, toh tetap mampu menjaga perdamaian tanah airnya. Membiarkan kaum Muslim, Yahudi dan Zoroaster hidup berdampingan di bawah bendera Kerajaan Persia. 

Madrasah yang diasuh Ibnu Sina tidak hanya menerima siswa Muslim, malah siswa andalannya di bidang kedokteran adalah seorang Kristen yang terpaksa menyamar sebagai orang Yahudi agar dapat menerima pengajaran dari sang guru. Rumah sakit yang ia dirikan, menerima semua pasien tanpa mebeda-bedakan. B

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun