Mohon tunggu...
Transportasi

Transportasi Nyaman, Aman dan Kompetitif Harga Mati!

17 Desember 2018   02:54 Diperbarui: 17 Desember 2018   03:03 0 0 0 Mohon Tunggu...
Transportasi Nyaman, Aman dan Kompetitif Harga Mati!
whatsapp-image-2018-12-09-at-10-12-45-pm-5c16916dc112fe0240126586.jpeg

Suatu waktu di atas kereta api Progo yang membawa penumpang dari Jogja ke Jakarta saya duduk bersebelahan dengan seorang bapak paruh baya. Pada satu percakapan ia mengatakan pada saya kekagumannya pada sistem kereta api KAI masa kini yang menurutnya sangat nyaman. Kekagumannya wajar, mengingat terakhir kali ia mengakses kereta api pada tahun 1995. Selebihnya ia memilih moda transportasi lain kala bepergian jauh.  Si bapak mengatakan bahwa dulu kereta api bergitu sesak dan sumpek. Asap rokok memenuhi ruangan kereta. Di lantai kereta penumpang duduk atau yang sedikit beruntung bisa tidur mengemper. Keadaan ini jauh berubah 180 derajad. Kereta api kini begitu nyaman dengan AC, pengumuman di tiap stasiun dan tempat duduk yang telah diatur. "Sayangnya satu mbak, nggak bisa merokok..", begitu ucapnya.

Di lain waktu gantian ibu saya yang memuji bus-bus pariwisata yang banyak melintas di jalanan Jogja. Tinggi-tinggi dan besar. Saya menimpali, itu demi keamanan dan kenyamanan penumpang. Persaingan moda transportasi masa kini memaksa PO bus untuk membuat perjalanan senyaman mungkin. Kursi empuk, AC, selimut dan bertoilet untuk beberapa rute. Ditambah lagi pesawat terbang semakin kompetitif harganya. Masyarakat semakin leluasa memilih, dan mereka punya satu kemauan yang sama dan jadi harga mati. Nyaman dan aman!

Maka kemudian keputusan PT. KAI mengeluarkan rute baru KA Joglosemarkerto adalah keputusan logis yang didasari pada kebutuhan mobilitas masyarakat jaman now yang makin dinamis. Transportasi massal kini harus nyaman dengan harga kompetitif, karena masyarakat semakin cerdas dan dinamis.

Keputusan PT. KAI juga selaras dengan visi Bambang Soepijanto, calon anggota DPD RI dari DIY  untuk membangun Jogja dengan memperhatikan nilai lokal. Artinya pembangunan tidak hanya berorientasi ekonomi saja, namun memperhatikan apa yang baik dan dibutuhkan. Bambang Soepijanto juga mengusung semboyang DPDnya wong cilik yang Ngayomi, Ngayemi dan Ngayani.