Gentur Adiutama
Gentur Adiutama Pegawai Negeri Sipil

Pecinta bulutangkis dan pengagum kebudayaan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Curhat Mantan Pemain Pelatnas PBSI tentang Kejamnya Perundungan Warganet

20 November 2018   15:34 Diperbarui: 21 November 2018   05:56 2164 9 4
Curhat Mantan Pemain Pelatnas PBSI tentang Kejamnya Perundungan Warganet
Ilustrasi (Pixabay)

Di tengah euforia raihan dua gelar juara oleh Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon di Tiongkok dan Hong Kong. Beberapa hari terakhir ini banyak pecinta bulutangkis Indonesia dikagetkan dengan viralnya video dua pemain bulutangkis eks Penghuni Pelatihan Nasional (Pelatnas) PBSI.

Pemain tunggal putra bernama Muhammad Bayu Pangisthu dan pemain ganda putra bernama Kenas Adi Haryanto, mengunggah video di akun Youtube mereka untuk menyoroti isu perundungan (bullying) yang dilakukan oleh warganet kepada sejumlah atlet bulutangkis Indonesia. 

Bayu (kiri) dan Kenas (kanan) yang mengangkat isu perundungan dalam video mereka. Foto: Kenas Vlog.
Bayu (kiri) dan Kenas (kanan) yang mengangkat isu perundungan dalam video mereka. Foto: Kenas Vlog.
Dalam videonya, mereka membela rekannya sesama pebulutangkis yang telah disudutkan oleh kata-kata pedas dan bahkan mengarah ke tidak pantas seiring dengan kekalahan yang dialami di kejuaraan internasional. 

Selain itu, mereka juga sekaligus mencurahkan isi hati atau yang populer disebut dengan istilah curhat tentang bagaimana mereka sendiri telah menjadi korban perundungan saat dulu masih turun berkompetisi dengan status sebagai pemain pelatnas.

Bayu dan Kenas mengalami degradasi dari pelatnas PBSI dan dipulangkan ke klub pada akhir tahun 2017 dengan alasan karena tidak berhasil mencapai prestasi yang ditargetkan. Kini mereka masih bermain di sejumlah kompetisi baik di dalam maupun luar negeri dengan membawa bendera klub.

Video-video curhat tersebut mendadak viral dan telah ditonton oleh puluhan ribu orang. Para pecinta bulutangkis menaruh perhatian pada video itu karena ternyata banyak dari mereka yang selama ini juga gusar dengan makin meningkatnya perundungan pada atlet bulutangkis Indonesia. 

Mereka melayangkan komentar yang mendukung Bayu dan Kenas dalam mengangkat kasus ini agar menjadi perhatian khalayak yang lebih luas.

Bila dicermati, memang perundungan pada pemain bulutangkis itu semakin hari semakin mengkhawatirkan. Kita bisa dengan mudah melihatnya di kolom komentar akun-akun media sosial pribadi para pemain atau fan base bulutangkis berskala besar di Indonesia seperti Badmintalk, BulutangkisRI, dan lain-lain.

Warganet tega menghujat dengan kata-kata yang kasar ketika pemain kalah. Bermunculan komentar tentang strategi dan gaya permainan yang salah, seolah-olah 'netizen yang maha benar' adalah ahli bulutangkis nomor wahid. 

Terkadang mereka menambahkan dengan body shaming menyangkut berat badan si pemain.

Beberapa contoh komentar pedas warganet kepada pebulutangkis Indonesia di Instagram.
Beberapa contoh komentar pedas warganet kepada pebulutangkis Indonesia di Instagram.
Perundungan itu dianggap ironis oleh Bayu dan Kenas karena warganet gemar memuji pemain hingga 'terbang ke langit ketujuh' saat menang namun berbalik menghujat tak kenal ampun ketika kalah. 

Padahal harusnya pendukung bulutangkis itu memberi motivasi untuk bangkit saat si pemain menderita kekalahan, alih-alih semakin menjatuhkannya.

Bayu dan Kenas juga angkat bicara tentang pengorbanan luar biasa yang dilakukan oleh para atlet pelatnas mulai dari jadwal latihan yang padat, program latihan yang berat dari pelatih, tinggal jauh dari orang tua, nyeri dan sakit badan karena cedera, dan lain-lain. 

Hal-hal seperti ini tidak banyak diketahui oleh warganet dan tidak menjadi pertimbangan sebelum mengarahkan jari-jari mereka untuk mengetik komentar pedas di akun media sosial si pemain.

Dua pemain yang masih berusia muda ini juga menyanggah komentar nyinyir warganet yang kadang menuduh atlet bermain tidak semangat dan berujung kekalahan. 

Tentu tidak ada pemain yang mau tampil apa adanya dan kalah. Semua sudah berusaha dengan kemampuan mereka. Jika itu masih belum cukup membawa kemenangan, maka bukan berarti mereka tidak berjuang. Justru harus didorong agar semakin tangguh dalam bertanding di kesempatan berikutnya.

Pendukung bulutangkis wajib mengapresiasi keringat dan air mata perjuangan para atlet. Foto: PBSI.
Pendukung bulutangkis wajib mengapresiasi keringat dan air mata perjuangan para atlet. Foto: PBSI.
Akibat buruk dari perundungan juga sekilas disampaikan oleh mereka. Tidak semua atlet memiliki mental baja yang kuat untuk tetap tegar di tengah banyaknya komentar nyinyir tentang cara mereka bermain. 

Para atlet juga manusia yang punya aneka kepribadian. Tidak sedikit yang akhirnya malah jadi terpuruk mentalnya karena perundungan yang terus terjadi pada mereka.

Lalu apakah para warganet tidak boleh memberikan kritikan kepada pebulutangkis kita? Kalimat "Ini adalah bentuk kritik saja." kerap menjadi excuse bagi para pecinta bulutangkis untuk berkomentar ini-itu saat si pemain kalah atau tampil tidak sesuai ekspektasi.

Menurut penulis, kritikan itu berbeda sangat jauh dengan perundungan. Kritikan sifatnya adalah konstruktif, jadi tidak sekedar menyalahkan namun juga memberikan kata-kata penyemangat untuk bisa menjadi lebih baik. Kritikan juga tidak boleh menggunakan kata-kata yang kasar, nyinyir atau asal lempar saja.

Fans bulutangkis Indonesia perlu bersikap lebih dewasa saat mengkritik atlet. Foto: Detik.
Fans bulutangkis Indonesia perlu bersikap lebih dewasa saat mengkritik atlet. Foto: Detik.
Masyarakat Indonesia punya hak untuk ikut memonitor dan mengkritik pebulutangkis yang bermain di pelatnas PBSI. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2