Gentur Adiutama
Gentur Adiutama Pegawai Negeri Sipil

Pecinta bulutangkis dan pengagum kebudayaan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Anthony Ginting, Mutiara yang Sempat Dinomorduakan

23 September 2018   17:37 Diperbarui: 23 September 2018   22:13 921 1 1
Anthony Ginting, Mutiara yang Sempat Dinomorduakan
Ginting di podium juara China Open Super 1000. Foto: PBSI.

Pemain tunggal putra Anthony Ginting berhasil merebut medali emas di China Open Super 1000 pada hari Minggu, 23 September 2018. Perjalanannya hingga ke podium juara tidak mudah dan bisa dibilang telah membalikkan prediksi kebanyakan orang. Tampil dengan status non-unggulan, Ginting berhasil melibas para juara dunia dan juara olimpiade dalam delapan tahun terakhir.

Pemain-pemain dengan peringkat dunia lebih tinggi seperti Lin Dan, Viktor Axelsen, Chen Long, dan Chou Tien Chen dibuat tak berkutik. Di babak final, Ginting mampu mengulangi kemenangan yang diraihnya di Asian Games 2018 lalu atas Kento Momota yang sedang on fire dan calon penghuni nomor satu dunia minggu depan. Pertandingan dua set langsung yang menegangkan mewarnai raihan gelar Super 1000 pertama oleh pebulutangkis kelahiran Cimahi itu.

Pujian pun berdatangan kepada Ginting. Semua lawan-lawan yang dikalahkannya mengapresiasi kehebatan Ginting yang disebut punya kecepatan dan permainan netting yang mematikan. Legenda bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat yang selalu kritis terhadap regenerasi tunggal putra di PBSI melayangkan pujiannya dan sekaligus berharap Ginting terus konsisten di turnamen berikutnya.

Ginting membuktikan diri sebagai tunggal putra terbaik Indonesia saat ini. Foto: PBSI.
Ginting membuktikan diri sebagai tunggal putra terbaik Indonesia saat ini. Foto: PBSI.
Dengan raihan gelar juara ini maka Ginting mengukuhkan diri sebagai pemain tunggal putra terbaik yang dimiliki oleh Indonesia saat ini. Dua gelar juara yaitu BWF Super 500 di Indonesia dan BWF Super 1000 dilengkapi dengan medali perunggu pada Asian Games 2018 lalu. Peringkat dunia Ginting di nomor 9 minggu depan juga yang tertinggi dibandingkan Jonathan Christie dan Tommy Sugiarto yang sama-sama berada di Top 20.

Namun tidak banyak yang menyadari bahwa perjalanan karir Ginting sebenarnya tidak selalu mulus. Ginting memang sudah terlihat potensinya sebagai calon pemain hebat di masa depan saat berhasil merebut medali perunggu di Olimpiade Remaja tahun 2014 di Nanjing, Tiongkok. Sejak itu Ginting mulai dikirimkan ke berbagai turnamen internasional oleh PBSI.

Bersama dengan tiga pemain muda di sektor tunggal putra lainnya yaitu Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa dan Firman Abdul Kholik, Ginting digadang-gadang mampu mengakhiri stagnansi prestasi sektor prestisius ini pasca pensiunnya Taufik Hidayat. Para fans bulutangkis dan media massa mulai menjuluki mereka sebagai "Fantastic Four" atau disingkat F4 karena potensi bakatnya yang bagus.

Meskipun meraih medali di Olimpiade Remaja 2014, Ginting tidak otomatis menjadi pilihan pertama di mata pelatih dibandingkan Jonatan, Ihsan dan Firman. Keempatnya berteman namun juga sekaligus bersaing satu sama lain. Mereka memperebutkan tempat di tim Indonesia, terutama pada kejuaraan beregu.  

F4: Firman, Ginting, Ihsan dan Jonatan. Foto: PBSI.
F4: Firman, Ginting, Ihsan dan Jonatan. Foto: PBSI.
Pada tahun 2015, Indonesia tampil di dua turnamen beregu yaitu Piala Sudirman di Dongguan, Tiongkok dan SEA Games di Singapura. Di Piala Sudirman yang memainkan 5 partai dari 5 sektor yang berbeda, jatah tunggal putra adalah 1 orang per pertandingan. Sementara di SEA Games, dikompetisikan nomor beregu putra yang menurunkan 3 orang tunggal putra di tiap pertandingan.

Ginting masuk dalam tim SEA Games 2015 namun sayangnya ia tidak pernah dipilih untuk dimainkan satu kali pun. Saat Indonesia melawan Malaysia di semifinal, Jonatan, Firman dan Ihsan yang dipercaya oleh pelatih untuk mengisi tiga spot tunggal putra. Indonesia lolos ke final dengan skor 3-2 melalui kemenangan dua pasangan ganda putra dan Ihsan di partai kelima.

Saat tampil di final, lagi-lagi Ginting tidak dilirik oleh pelatih untuk dimainkan. Formasi tunggal putra Indonesia melawan Thailand tetap tidak berubah dari partai semifinal sebelumnya yaitu Jonatan, Firman dan Ihsan. Indonesia berhasil merebut medali emas setelah mengalahkan Thailand dengan skor 3-2. Lagi-lagi kemenangan Indonesia didapat dari dua pasangan ganda putra dan Ihsan di partai penentu.

Meskipun tim beregu putra Indonesia sukses mengibarkan bendera Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya, namun banyak pertanyaan muncul dari para pecinta bulutangkis Indonesia tentang mengapa Ginting tidak diberi kesempatan tampil satu kali pun di nomor beregu. Apalagi Ginting tidak sedang dalam kondisi cedera saat itu.

Ginting bersama tim beregu putra di SEA Games 2015. Foto: PB Djarum.
Ginting bersama tim beregu putra di SEA Games 2015. Foto: PB Djarum.
Banyak yang berpendapat bahwa dengan skill yang dimiliki Ginting, maka ia layak tampil menggantikan Jonatan, Firman atau Ihsan. Hal itu juga sekaligus sebagai bagian dari rotasi pemain dan strategi tim. Selama di SEA Games 2015, Ginting hanya duduk di kursi pemain di sisi lapangan dan bergabung dengan pemain-pemain lainnya sebagai pendukung bagi rekannya yang sedang bertanding.

Kompetisi bulutangkis SEA Games 2015 berlanjut ke nomor perseorangan. Masing-masing negara hanya diperkenankan menurunkan dua orang pemain di setiap nomor walaupun punya tiga atau empat pemain yang dibawa ke Singapura. Pelatih memilih Jonatan dan Firman yang turun mewakili Indonesia di nomor tunggal putra dengan alasan bahwa mereka berperingkat tertinggi diantara "Fantastic Four".

Sedangkan di kejuaraan beregu campuran Piala Sudirman tahun itu, Indonesia menyiapkan jagoan-jagoan di nomor ganda campuran, ganda putra, ganda putri, tunggal putra dan tunggal putri untuk tampil. Pada masing-masing nomor ganda, Indonesia memasukkan dua pasangan. Sementara untuk masing-masing nomor tunggal, Indonesia mendaftarkan tiga pemain.

Sektor tunggal putra Indonesia sempat dilanda dilema tentang siapa diantara "Fantastic Four" yang kali ini harus 'dikorbankan' untuk tidak bergabung dalam tim Piala Sudirman. Keempatnya sama-sama pemain muda dan sebelumnya belum pernah tampil di ajang beregu yang terakhir kali dimenangkan Indonesia tahun 1989 ini.

Pelatih pun membuat keputusan dan Ginting untuk ketiga kalinya tidak terpilih untuk bermain membela Indonesia pada kejuaraan beregu. Jonatan, Firman dan Ihsan adalah nama-nama yang dipercaya untuk berangkat ke Dongguan. 

Indonesia akhirnya harus puas dengan medali perunggu setelah dikalahkan Tiongkok di semifinal. Dari empat pertandingan yang dilakoni, tunggal putra Indonesia hanya menang satu kali yaitu di perempatfinal melalui aksi Jonatan.

Tim Indonesia di Piala Sudirman 2015, tanpa keikutsertaan Ginting. Foto: PBSI.
Tim Indonesia di Piala Sudirman 2015, tanpa keikutsertaan Ginting. Foto: PBSI.
Kegagalan masuk sebagai anggota tim beregu Indonesia di Piala Sudirman dan tidak terpilih untuk tampil di SEA Games 2015 tidak lantas membuat Ginting patah arang. Bagi pemain muda berusia 18 tahun seperti Ginting saat itu, momen seperti ini tidaklah mudah dilalui. Ia harus menerima fakta 'dikalahkan' oleh tiga teman sebayanya dalam persaingan tunggal putra Indonesia.

Bisa saja Ginting marah atau ngambek pada pelatih dan mempertanyakan keputusan itu. Kepercayaan dirinya sebagai pemain mungkin juga terganggu. Tidak ada yang mau dan nyaman dinomorduakan.

Untunglah Ginting mampu merespon masa kritis itu dengan positif. Kondisi itu justru malah memacu dirinya untuk memperbaiki kemampuannya agar tidak kalah dari Jonatan, Firman dan Ihsan. Dengan terus berlatih keras, tidak butuh waktu lama baginya untuk mencapai hal itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2