Gentur Adiutama
Gentur Adiutama Pegawai Negeri Sipil

Pecinta bulutangkis dan pengagum kebudayaan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Optimisme Indonesia Juarai Kembali Piala Thomas

11 Februari 2018   23:50 Diperbarui: 12 Februari 2018   01:42 1551 0 0
Optimisme Indonesia Juarai Kembali Piala Thomas
Tim Putra Indonesia di Kejuaraan Beregu Asia 2018. (Foto: PBSI)

Sudah enam belas tahun berlalu sejak Indonesia terakhir kali merebut Piala Thomas. Lambang supremasi bulutangkis beregu putra tertinggi di dunia itu digenggam oleh para pebulutangkis kita pada tahun 2002 saat Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia dengan skor 3-2. Sejak itu, Indonesia kesulitan untuk mengulang prestasi yang sama. Dua kali Indonesia lolos ke partai final namun kalah dari Tiongkok di tahun 2010 dan Denmark di tahun 2016.

Kekalahan pada tahun 2016 adalah salah satu yang paling pahit karena pertandingan berlangsung hingga partai kelima setelah Denmark mengambil poin dari dua partai tunggal dan Indonesia berhasil menang di dua partai ganda.

Ihsan Maulana Mustofa yang menjadi tunggal ketiga tidak mampu memikul beban sebagai penentu dan kalah dari Hans-Kristian Vittinghus dalam dua set langsung. Para pemain, pelatih, pengurus PBSI dan masyarakat pecinta bulutangkis Indonesia larut dalam kekecewaan pada saat itu.

Meskipun demikian, tim bulutangkis Indonesia berjanji akan "membalas" kegagalan di tahun 2016 itu dengan gelar di tahun 2018. PBSI segera melakukan pembenahan agar Piala Thomas dapat benar-benar dibawa pulang lagi ke Tanah Air.

Berbekal materi pemain yang ada di Cipayung, berbagai program disiapkan selama dua tahun terakhir sehingga tim putra Indonesia siap bersaing dengan negara-negara jagoan seperti Tiongkok, Denmark, Korea, Jepang, Malaysia, dan lain-lain.

Tim Indonesia tak bisa sembuyikan kekecewaan saat kalah di final Piala Thomas 2016. (Foto: PBSI)
Tim Indonesia tak bisa sembuyikan kekecewaan saat kalah di final Piala Thomas 2016. (Foto: PBSI)
Ganda putra Indonesia adalah unggulan untuk merebut poin dalam kejuaraan beregu. Materi pemain kita di nomor ini bisa dibilang adalah salah satu yang terkuat di dunia. Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo berada di puncak permainannya dengan torehan rekor 7 gelar Superseries dalam satu kalender. Status mereka di peringkat 1 dunia juga menjadi jaminan akan kualitas ganda 'tengil' ini.

Sementara itu, pemain-pemain lain seperti Mohammad Ahsan, Rian Agung Saputro dan Angga Pratama punya pengalaman yang sangat banyak dalam bertanding di kejuaraan beregu.

Bila salah satu dari mereka cedera dan harus absen, kita masih punya Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto yang mulai menunjukkan taringnya di turnamen level elit. Herry I.P. selaku pelatih ganda putra tidak pernah kekurangan jagoan untuk dimajukan ke arena pertandingan.

Tunggal putra yang disebut-sebut sebagai penyebab kekalahan Indonesia di final Piala Thomas 2016 lalu telah banyak berubah. Angin segar dihembuskan oleh para pemain di bawah asuhan Hendri Saputra ini. 

Jonatan Christie dan Anthony Ginting kini semakin matang dan mulai banyak mengoleksi kemenangan atas para juara dunia dan juara Olimpiade seperti Lin Dan, Chen Long, Viktor Axelsen, dan lain-lain. Keduanya bahkan menciptakan all-Indonesian final di Korea Open Superseries bulan September lalu.

Optimisme untuk memenangkan Piala Thomas 2018 semakin kuat setelah Indonesia berhasil menjuarai Kejuaraan Bulutangkis Beregu Asia 2018.

Ajang yang juga dijadikan sebagai kualifikasi menuju Piala Thomas 2018 ini bisa dianggap sebagai "pemanasan" bagi tim putra kita. Indonesia berhasil mengalahkan Tiongkok dengan skor 3-1 di partai final dan memastikan piala yang pada tahun 2016 juga direbut Indonesia itu tetap bertahan di Cipayung.

Tim Indonesia bersama piala Kejuaraan Beregu Asia 2018. (Foto: PBSI)
Tim Indonesia bersama piala Kejuaraan Beregu Asia 2018. (Foto: PBSI)
Perjalanan Indonesia mempertahankan gelar di Kejuaraan Beregu Asia 2018 ini menyisakan beberapa catatan penting yang semakin menguatkan optimisme publik Tanah Air akan berakhirnya kerinduan pada Piala Thomas. Kali ini Indonesia memang selangkah lebih siap dibandingkan pada tahun 2016 lalu.

Tunggal putra adalah nomor yang sangat krusial di ajang beregu seperti Piala Thomas. Hal itu karena dari lima partai yang dipertandingkan, tiga diantaranya adalah tunggal putra. Tak hanya itu, tunggal putra juga menjadi partai pertama yang dilabeli sebagai pembuka jalan bagi rekan-rekan yang bertanding berikutnya. Kemenangan atau kekalahan di partai pertama punya pengaruh yang cukup besar secara psikologis bagi pemain-pemain yang turun di partai kedua dan ketiga.

Di Kejuaraan Beregu Asia 2018 yang berlangsung di Alor Setar, Malaysia ini, Indonesia menempatkan Jonatan Christie sebagai tunggal pertama. Jonatan punya peringkat dunia yang lebih baik dibandingkan Ginting pada saat pendaftaran nama-nama pemain bulan Januari lalu. Ginting menjadi tunggal kedua dan kemudian dilapis oleh Ihsan Maulana Mustofa atau Firman Abdul Kholik sebagai tunggal ketiga.

Tanggung jawab sebagai tunggal pertama sukses diemban oleh Jonatan yang tidak pernah kalah selama 6 kali bermain. Hebatnya lagi, tiga diantara enam kemenangan itu diraih Jonatan atas pemain yang berperingkat di atasnya yaitu Srikanth Kidambi (India) di babak grup, Son Wan Ho (Korea Selatan) di semifinal dan Shi Yuqi (Tiongkok) di final. Banyak orang yang tak menyangka Jonatan mampu meraih pencapaian ini karena prestasinya yang kurang konsisten di tahun 2017 lalu.

Kemenangan Jonatan sebagai tunggal pertama diakui membantu membawa semangat positif bagi pemain-pemain yang beraksi di partai berikutnya. Hal itu disampaikan oleh Susi Susanti selaku Manajer Tim dan beberapa pemain ganda putra seperti Mohammad Ahsan, Angga Pratama dan Kevin Sanjaya Sukamuljo. Dalam partai-partai sengit yang mempertemukan pemain-pemain dengan kekuatan seimbang seperti melawan Jepang di perempatfinal dan Korea Selatan di semifinal, skor 1-0 untuk Indonesia di partai pertama adalah suatu keuntungan besar.

Saat Piala Thomas 2018 yang akan digelar Bangkok pada tanggal 20-27 Mei besok, Jonatan kemungkinan besar tidak akan menjadi tunggal pertama. Posisinya akan digantikan oleh Anthony Ginting yang peringkat dunianya melesat dalam dua minggu terakhir setelah meraih juara di Indonesia Masters 2018. Per 8 Februari 2018, Ginting berada di peringkat 9 sementara Jonatan di peringkat 13.

Jonatan Christie tak terkalahkan di Alor Setar minggu ini. (Foto: PBSI)
Jonatan Christie tak terkalahkan di Alor Setar minggu ini. (Foto: PBSI)
Kita berharap agar Ginting mampu melakukan hal yang telah Jonatan lakukan. Bermain dengan tenang dan percaya diri meskipun tahu bahwa tanggung jawabnya sebagai tunggal pertama cukup besar. Melihat ketenangan bermain Ginting saat mengalahkan Chen Long dan Chou Tien Chen di Indonesia Masters 2018 lalu, kita yakin pemain yang mengidolakan Taufik Hidayat ini sanggup memenuhi harapan itu.

Sementara itu, Jonatan sebagai tunggal kedua juga diberikan ekspektasi untuk bisa tampil luar biasa dan tak terkalahkan di Bangkok nanti, seperti halnya di Alor Setar kemarin. Banyak pecinta bulutangkis Indonesia yang memuji Jonatan sebagai pemain yang penampilannya seolah berubah drastis saat di kejuaraan beregu dibandingkan di perorangan. Aura dan semangat kebersamaan tim disinyalir menjadi bahan bakar yang menyalakan daya juang dan kegigihan Jonatan di Alor Setar kemarin.

Apabila ada catatan yang bernada kurang positif yang harus diperhatikan oleh PBSI, maka itu adalah kesiapan tunggal ketiga Indonesia.

Di Alor Setar, Indonesia memasukkan nama Ihsan dan Firman dalam tim. Ihsan tampil baik saat menjadi penentu kemenangan Indonesia atas India di babak grup. Namun penampilannya angin-anginan saat melawan Jeon Hyeok Jin dari Korea Selatan di semifinal. Ihsan kalah dua set langsung dari Jeon yang secara usia dan jam terbang tidak beda jauh dari dirinya. Bila Ihsan dibawa ke Bangkok nanti, semoga ia bisa lebih konsisten.

Firman sudah sejak dua tahun terakhir menjadi bulan-bulanan para pecinta bulutangkis Indonesia karena prestasinya yang buruk di berbagai turnamen perseorangan. Yang terbaru adalah pada Indonesia Masters 2018 kemarin ketika ia bahkan tidak sanggup lolos dari babak kualifikasi karena kalah dari pemain muda Thailand, Kantaphon Wangcharoen. 

Namun di luar dugaan ia menjadi bintang yang menyelamatkan Indonesia dari kekalahan saat partai semifinal Indonesia melawan Korea Selatan harus diselesaikan dengan partai kelima. Di set ketiga, ia mampu membalikkan keadaan dari tertinggal 14-20 menjadi menang 22-20 atas Lee Dong Keun yang lebih senior darinya. Semoga kejutan manis seperti ini bisa dihadirkan lagi oleh Firman bila ia ikut ke Bangkok nanti.

Para punggawa tunggal putra Indonesia. (Foto: PBSI)
Para punggawa tunggal putra Indonesia. (Foto: PBSI)
Catatan lain yang makin menggelorakan keyakinan kita akan kemampuan tim putra Indonesia adalah kekuatan lengkap dari para pemain ganda putra.

Nomor ini sudah sangat kenyang sanjungan karena punya pelatih yang sarat pengalaman dan bertangan dingin seperti Herry I.P. serta deretan pemain dengan kalungan gelar juara yang tak bisa dihitung dengan jari lagi. Kehadiran living legend Hendra Setiawan yang bersedia memperkuat tim Piala Thomas tahun ini setelah keluar dari pelatnas di tahun 2017 lalu menambah sisi mentereng nomor ganda putra.

Secara individu, pemain-pemain ganda putra Indonesia sangat mumpuni. Mereka punya skill yang luar biasa dan mental bertanding yang kokoh. Hal ini sudah berkali-kali disebut sebagai modal utama tim Indonesia. Namun ada satu kekuatan ganda putra kita yang baru terlihat saat Kejuaraan Beregu Asia di Alor Setar ini. Kekuatan itu bukan dari kehadiran pemain namun dari kematangan strategi tim.

Berbekal enam pemain yaitu Kevin, Gideon, Ahsan, Hendra, Angga dan Rian, pelatih Herry I.P. meracik strategi jitu memadu-madankan mereka satu sama lain. Di Alor Setar ini, Indonesia menurunkan TUJUH kombinasi pasangan ganda putra yang berbeda-beda yaitu Kevin/Gideon (versus Maladewa), Hendra/Angga (versus Maladewa dan Filipina), Ahsan/Rian (versus Filipina), Ahsan/Kevin (versus India dan Jepang), Angga/Rian (versus India), Hendra/Rian (versus Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok) dan Ahsan Angga (versus Korea Selatan dan Tiongkok). Hal ini baru pertama kali terjadi di penampilan Indonesia dalam kejuaraan beregu putra.

Herry I.P. tidak sembarangan dalam memutuskan bongkar-pasang ini. Selain dilandasi oleh faktor non-teknis seperti cederanya Gideon di tengah turnamen, ia juga yakin bahwa pasangan siapapun yang diturunkan mampu meraih hasil yang baik. Keyakinan itu dilatar belakangi oleh fakta bahwa para pemain ganda putra sudah biasa bermain dengan pasangan-pasangan yang berbeda saat latihan di Cipayung. Maka, mereka tidak akan kesulitan untuk berpadu dan menerapkan pola permainan yang tepat saat mendadak dipasangkan dengan pemain yang bukan pasangan regulernya di pertandingan resmi.

Aksi bongkar pasang ini menuai hasil yang bagus karena selama bertanding di Alor Setar, ganda putra Indonesia hanya kalah sebanyak dua kali yaitu Ahsan/Kevin saat melawan India dan Hendra/Rian saat melawan Korea Selatan. Ini membuktikan bahwa mereka tidak hanya bagus secara individu namun juga luar biasa kompak secara tim.

Secara strategi, hal ini juga bermanfaat bila dilanjutkan di Bangkok nanti. Tim lawan akan kesulitan menganalisis siapa ganda putra yang akan diturunkan oleh Indonesia. Semoga kekompakan pemain-pemain ganda putra ini bisa berlanjut di Bangkok.

Hendra-Ahsan-Gideon-Kevin. Empat pemain ganda putra andalan Indonesia. (Foto: @king_chayra)
Hendra-Ahsan-Gideon-Kevin. Empat pemain ganda putra andalan Indonesia. (Foto: @king_chayra)
Berbekal dua catatan itu, maka kita boleh punya harapan besar agar Piala Thomas dapat direbut kembali oleh Indonesia tahun ini. Para pemain siap berjuang untuk nama bangsa dan kita semua wajib mendukung dengan doa. Give your best, let God do the rest!!