Mohon tunggu...
Gentur Adiutama
Gentur Adiutama Mohon Tunggu... ASN di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Pecinta bulutangkis dan pengagum kebudayaan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan featured

Debut Negara-negara Pasifik di Piala Sudirman

2 Februari 2017   22:22 Diperbarui: 24 Mei 2019   22:17 0 10 3 Mohon Tunggu...
Debut Negara-negara Pasifik di Piala Sudirman
Piala Sudirman (sumber foto: http://www.sudirmancup.com.au/)

Kejuaraan bulutangkis beregu campuran Piala Sudirman kembali digelar tahun ini. Edisi kelima belas dari turnamen yang telah dimulai sejak tahun 1989 ini akan berlangsung pada tanggal 21-28 Mei 2017 di Gold Coast, kota pantai Australia yang terletak di negara bagian Queensland.

Seperti pada edisi sebelumnya, tim-tim peserta akan bertanding untuk memperebutkan Piala Sudirman setinggi 80 cm yang terbuat dari perak berlapiskan emas 22 karat. Piala berbentuk menyerupai shuttlecock dengan mahkota replika mini Candi Borobudur ini dinamai untuk menghormati jasa Dick Sudirman, mantan pebulutangkis Indonesia yang merupakan salah satu pendiri Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dan sekaligus wakil presiden International Badminton Federation pada tahun 1975.

Negara adidaya bulutangkis, Tiongkok merupakan juara bertahan dan juga yang paling banyak memenangkan piala ini. Tahun 2015 lalu di hadapan publiknya sendiri di Dongguan, Lin Dan dkk. membawa Tiongkok mencatat rekor gelar juara Piala Sudirman ke-10. Negara lain yang pernah berjaya di turnamen dua tahunan ini adalah Korea Selatan (3 kali) dan Indonesia (1 kali).

Tim Tiongkok di podium juara Piala Sudirman 2015 (sumber foto: http://www.channelnewsasia.com)
Tim Tiongkok di podium juara Piala Sudirman 2015 (sumber foto: http://www.channelnewsasia.com)
Hari ini yaitu tanggal 2 Februari 2017 merupakan batas akhir pendaftaran tim peserta yang akan mengikuti Piala Sudirman 2017. Berdasarkan rilis resmi yang dikeluarkan oleh induk olahraga bulutangkis sedunia Badminton World Federation (BWF) disebutkan bahwa 32 negara yang berasal dari 4 konfederasi telah menyatakan konfirmasi partisipasi. Negara-negara tersebut adalah:
  • Asia: Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Tiongkok, Vietnam, Chinese Taipei, Makau
  • Eropa: Austria, Belanda, Denmark, Jerman, Inggris, Rusia, Skotlandia, Slovakia, Spanyol, Swedia
  • Oceania: Australia, Selandia Baru, Tahiti, Guam, Fiji, Kaledonia Baru
  • Pan-Amerika: Amerika Serikat, Kanada, Meksiko

Total jumlah peserta Piala Sudirman tahun ini (32 negara) memang menurun dibandingkan edisi sebelumnya (35 negara). Jumlah tersebut juga sangat sedikit apabila dikomparasi dengan penyelenggaraan edisi tahun 2001 yang mencatat rekor jumlah negara peserta terbanyak (53 negara). Di samping itu, masih belum ada informasi dari BWF tentang alasan tidak adanya negara dari Afrika dalam daftar tersebut.

Meskipun demikian, ada hal menarik yang ditemui ketika melihat daftar negara peserta tahun ini. Terdapat 4 negara di kawasan Pasifik yang akan melakukan debut di ajang bulutangkis beregu campuran ini: Tahiti, Guam, Fiji dan Kaledonia Baru. Pada edisi-edisi sebelumnya, hanya Australia dan Selandia Baru yang muncul sebagai wakil Oceania.

Sepanjang sejarah pelaksanaan Piala Sudirman, negara-negara kepulauan kecil yang tergabung dalam Oceania Badminton Confederation ini belum pernah sekali pun ikut serta. Jangankan hadir di turnamen sebesar Piala Sudirman, para pebulutangkis dari negara-negara tersebut hampir tidak pernah terdengar namanya di kancah bulutangkis dunia. 

Mereka jarang mengikuti turnamen internasional seperti International Series, Grand Prix, Grand Prix Gold maupun Superseries. Jam terbang yang mereka dapatkan lebih banyak berasal dari kompetisi tingkat nasional dan regional Oceania saja. Wajar bila akhirnya mereka berada di luar 100 besar dunia dalam daftar peringkat pebulutangkis oleh BWF.

Debut mereka di Piala Sudirman 2017 ini pun bisa jadi dikarenakan oleh jarak tempuh yang dekat dari negara mereka ke lokasi turnamen di Australia. Nampaknya juga ada bantuan dari Australia yang mendorong negara-negara 'mungil' itu untuk memutuskan berpartisipasi, walaupun hal ini belum diberitakan secara resmi.

Tim nasional bulutangkis Fiji (sumber foto: http://websites.sportstg.com)
Tim nasional bulutangkis Fiji (sumber foto: http://websites.sportstg.com)
Seperti yang diprediksi oleh para pengamat bulutangkis, empat negara Pasifik itu akan menjalani debut yang susah di Piala Sudirman 2017. Selain karena minimnya pengalaman mereka dalam bertanding di kejuaraan beregu level atas, beberapa dari anggota tim bulutangkis negara tersebut sebenarnya bukan atlet profesional. Mereka adalah mahasiswa, pegawai atau buruh yang senang bermain bulutangkis di tengah-tengah kesibukan sehari-hari. 

Mereka tentu tidak memiliki kekuatan fisik, stamina dan pengetahuan strategi sebagus para pebulutangkis dari negara lain yang dalam kesehariannya digembleng latihan berjam-jam secara fokus dan intensif di klub atau pemusatan latihan nasional. 

Bulutangkis belum menjadi olahraga yang digemari secara masal di negara-negara yang masyarakatnya lebih kecanduan pada sepakbola dan rugby sevens ini. Oleh karena itu, jumlah atlet yang menekuni bulutangkis di sana juga sangat sedikit. 

Di turnamen Piala Sudirman nanti, beberapa dari mereka harus bermain rangkap di dua nomor karena minimnya jumlah pemain yang tergabung di tim nasional bulutangkis.

Pemain andalan Tahiti, Remi Rossi harus bermain dua kali di nomor tunggal putra dan ganda putra. Pasangan bermainnya di ganda putra yaitu Leo Cucuel juga harus memeras keringat lebih banyak karena ia mendapat tugas lain untuk turun di nomor ganda campuran. Para pemain putri juga bertanding di dua nomor: tunggal putri dan ganda putri atau ganda campuran.

Remi Rossi dan Leo Cucuel dari Tahiti (kanan) saat bertanding di Oceania Championship 2016 (sumber foto: http://websites.sportstg.com)
Remi Rossi dan Leo Cucuel dari Tahiti (kanan) saat bertanding di Oceania Championship 2016 (sumber foto: http://websites.sportstg.com)
Tidak salah bila banyak yang menilai tim dari negara-negara Pasifik ini hanya akan menjadi bulan-bulanan bagi tim-tim lainnya di Piala Sudirman. Kekalahan dengan skor telak adalah hal yang langsung dapat dibayangkan ketika tim tersebut melawan tim dari Asia atau Eropa. Apabila mereka berhasil memaksa pemain-pemain pro harus bermain hingga tiga set, maka itu sudah merupakan pencapaian yang baik.

Namun, olahraga bukan hanya tentang menang dan kalah. Keikutsertaan mereka di Piala Sudirman untuk pertama kalinya ini patut diapresiasi dan dapat disebut sebagai suatu kemajuan bagi upaya BWF mengglobalkan bulutangkis. 

Dalam lima tahun terakhir, BWF sangat gencar memperkenalkan bulutangkis di negara-negara yang masih asing dengan olahraga tepok bulu ini. BWF aktif mengadakan serangkaian proyek pelatihan, pemberian beasiswa dan public awareness event

Kawasan Pasifik menjadi sasaran utama proyek penyebarluasan bulutangkis oleh BWF, selain negara-negara Afrika, Timur Tengah dan Amerika Selatan. Selama ini, bulutangkis terlalu identik dengan sejumlah negara Asia dan Eropa. 

Bahkan banyak negara di dunia ini yang ternyata belum punya asosiasi bulutangkis tingkat nasional. Hal itu tentu tidak baik bagi perkembangan bulutangkis sebagai olahraga permainan yang berstandar internasional.

Sebagai salah satu cabang olahraga yang telah rutin dipertandingkan di Olimpiade sejak Barcelona 1992, bulutangkis harus populer secara global dan tidak boleh didominasi oleh kelompok negara tertentu. Apabila bulutangkis minim peminat, ada kekhawatiran olahraga yang lahir di Inggris Raya ini bisa dicoret dari pagelaran Olimpiade di masa mendatang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2