Mohon tunggu...
Gelar S. Ramdhani
Gelar S. Ramdhani Mohon Tunggu... Penulis -

Mari berkunjung ke website pribadi saya www.gelarsramdhani.com

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Kenapa Saat Puasa Masih Bisa Beraktivitas?

24 Juli 2012   23:01 Diperbarui: 9 Agustus 2018   22:26 1273
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Oleh: Gelar S. Ramdhani

Mungkin diantara anda masih ada yang bertanya mengapa tubuh masih bisa beraktivitas ketika seseorang berpuasa?, padahal seperti yang kita ketahui pada saat seseorang berpuasa tidak mengkonsumsi makanan dan minuman. Untuk menjawab pertanyaan tersebut mungkin ada baiknya kita meninjau dari sudut pandang medis (fisiologis manusia).

Sebagian besar makanan dan minuman mengandung zat yang dibutuhkan oleh tubuh dalam menunjang metabolisme tubuh. Sebut saja karbohidrat, protein, lemak dan lain sebagainya. Jika kita analogikan dalam sebuah kendaraan makanan dan minuman adalah bahan bakar agar kendaraan tersebut bisa berjalan, ketika puasa berarti asupan bahan bakar berkurang, sederhananya jika asupan bahan bakar berkurang maka kinerja mobil akan berkurang, kecuali ada cadangan. Berbicara mengenai cadangan, Allah SWT menciptakan manusia dengan sangat sempurna. Termasuk dalam sistem metabolisme tubuh, Allah menyusunya agar manusia mempunyai cadangan energi ketika berpuasa.

Seseorang setalah makan masuk ke dalam fase absorbsi, sedangkan jika seseorang tersebut dalam keadaan puasa beberapa jam masuk ke dalam fase post absorbsi (fase puasa). Ketika masuk dalam fase absorbsi zat makanan yang masuk ke dalam tubuh akan diserap melalui traktus digestivus yang kemudian akan disebarkan ke seluruh tubuh. Pada fase inilah glukosa (gula darah) yang merupakan sumber energi terbesar sangat banyak jumlahnya.

Sedangkan zat sisa lainnya seperti lemak dan protein sedikit sekali digunakan untuk kebutuhan energi manusia. Lemak dan protein yang tidak digunakan dikategorikan sebagai kelebihan energi, akan tetapi tidak dibuang begitu saja melainkan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk glikogen dan trigeserid. Seperti yang telah disinggung tadi bahwa dalam keadaan puasa manusia setelah fase absorbsi akan memasuki fase post absorbsi atau fase puasa, dan dalam fase inilah cadangan energi yang berbentuk glikogen dan trigeserid tadi akan dirubah menjadi energi bagi tubuh kita (Guyton&Hall, 2006). Jadi meskipun ketika berpuasa terasa sedikit lapar -wajar karena merupakan proses fisiologis normal manusia- akan tetapi dalam waktu tertentu manusia masih bisa hidup beraktivitas karena masih mempunyai cadangan energi.

Satu hal lagi yang sangat luar biasa Allah SWT menciptakan tubuh kita adalah ketika puasa meskipun kita tidak minum atau aspuan cairan kurang akan tetapi sistem tubuh kita bekerja sangat pintar. Ketika seseorang mengalami kekurangan cairan akan mengakibatkan ginjal terangsang untuk memproduksi renin, yang melalui jalur Renin Angiotensin Aldosteron (RAA) akan diubah menjadi Aldosteron, dan Aldosteron ini yang meningkatkan reabsorbsi natrium dalam tubulus proksimal ginjal, sehingga meningkatkan reabsorbsi air, hal ini yang menyababkan produksi urine (air kencing) menurun. Akan tetapi meskipun produksi urine menurun ginjal tetap dapat memproses zat berbahaya, sehingga wajar saja kalau urine orang berpuasa sedikit pekat (Guyton&Hall, 2006). Dengan menurunnya produksi urine maka secara otomatis meskipun saat berpuasa tubuh kita kekurangan cairan akan tetapi tubuh tetap dalam keadaan seimbang. Luar biasa bukan tubuh kita? -Nikmat mana lagi yang engkau dustakan? (QS. Ar-Rahman 1-13)-

Meskipun tubuh kita mempunyai cadangan akan tetapi kita juga harus tetap bijak menjaga tubuh kita agar tetap dalam keadaan sehat, salah satu contohnya sahur dan buka dengan makanan dan minuman yang mengandung gizi yang cukup dan berimbang untuk tubuh kita, istirahat yang cukup, tentunya ada baiknya berolahraga ringan saat berpuasa adalah salah satu pilihan bijak. Selamat berpuasa

Referensi:

Guyton A.C., John E. Hall. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit EGC: Jakarta

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/51084346.pdf (diakses pada 25 Juli 2012)

-------------------------------------------

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun