Mohon tunggu...
Gayoku
Gayoku Mohon Tunggu... Sapa-sapa Maya

email : anakgayo91@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Masih Adakah Penyuluh Pertanian di Gayo Lues?

20 Agustus 2017   12:02 Diperbarui: 21 Agustus 2017   19:19 0 4 0 Mohon Tunggu...
Masih Adakah Penyuluh Pertanian di Gayo Lues?
Penyuluh aceh tengah yang membuat pelubang mulsa lebih efektif. Dok: Fathan Muhammad Taufiq/Kompasiana

Seperti yang kita ketahui dan akui bumi Indonesia tidak perlu diragukan lagi kesuburannya. Maka, tak ayal seorang politikus pada masa pencalonan pasti mejual diri di bidang pertanian. Walau pun kadang selama menapak di bumi ini tidak pernah bercocok tanam, tapi mulutnya berbusa-busa mengaku diri sang ahli.

Mulai dari tingkat kepala desa, Bupati/Walikota, DPR, DPD dan termasuk Presiden saat ini, Joko Widodo, melakukan hal serupa---kira-kira ujungnya memberdayakan petani. Sah-sah saja sepajang tidak dilempar batu saat ngomong, bukan?

Walaupun kadang, memang harus kita akui juga barang yang seharusnya tumbuh elok, malah pada waktu tertentu harus mengimpor demi memenuhi defisit kebutuhan. Akan hal itu, juga tidak elok jika kita semena-mena menuding pihak yang harus bertanggung jawab. Sip, ya?

Untuk memuluskan jalan menjadi RI-1, Presiden kita tercinta terkenal dengan sihir dahsyat beliau, nawa cita. Makjleb, umpan dimakan.

Karena sudah menaiki tangga tiga tahun, maka bolehlah selang beberapa bulan lalu Lembaga pengaji dan penganalisis yang berinduk di Landen itu memandu tepuk tangan penghargaan. Dan bapak 'dalang' kasus E-KTP mengamininya. Aplus!

Didalam Nawa cita yang agung, mencakup gairah menggenjot sektor pertanian, "meningkatkan swasembada pangan" dengan salah satu cara: memperluas lahan bagi petani, keren.

Namun, tidak perlu terlalu jauh dengan lahan baru yang akan diberikan. Nyatanya di daerah-daerah, terkhusus daerah penulis, lahan yang sudah digenggam saja masih memaparkan peliknya hasil.

(Bukan mau menjelek-jelakan, apalagi ngiri) Sebagian prajurit pemerintah, terkhusus Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), yang sudah diberi mandat mulia malah mangkir dari lintasan.

Seharusnya pionir pemerintah dalam bidang pertanian ini berbaur erat dengan petani. Jadi, konyol namanya jika PPL benci beceknya sawah yang sedang dibajak.

Kerena profesi keluarga saya mutlak petani. Sepulang dari rantau, daripada menabung bosan saat waktu luang, saya memilih ikut dari belakang. Saya pernah bertanya siapa PPL untuk Kampung kami. Ketika itu kebun Cabai keluarga sedang digerogoti habis-habisan oleh antraknosa.

Anehnya, keluarga saya tidak ada yang tau. Ya, itu masih bisa dimaklumi, karena secara total warga kampung adalah petani, maka wajar jika PPL tidak sempat bertegur sapa dengan semua. Tak apa cahaya suluh tidak sempurna memberi terang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x