Mohon tunggu...
Sr. Gaudensia Habeahan OSF
Sr. Gaudensia Habeahan OSF Mohon Tunggu... Guru - Biarawati
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hidup ini indah, seindah saat kita dapat berbagi dengan sesama

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Wajahmu adalah Hidupku, Buatlah Aku Bahagia

10 September 2020   20:57 Diperbarui: 10 September 2020   20:54 58 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Wajahmu adalah Hidupku, Buatlah Aku Bahagia
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Saya ,kamu,mereka atau siapa pun yang melihat wajah yang indah, cantik, bersih, dengan sendirinya pasti tertegun, tersenyum bahkan ingin memeluk dan mencium wajah itu. Keseringan disapa oleh wajah yang tersenyum, wajah yang gembira, wajah yang lucu, wajah yang bahagia pasti bermuara pada tercapainya kedamaian batin.

Sebagian dari kita mungkin mengerti wajah dari sudut fisik. Ya, Wajah itu daging. Secara faktual kita melihat bahwa wajah selalu bersentuhan dengan rasa, citra personal meski ia kadang dirias atau dihias. 

Wajah merupakan pelabuhan empat indera yakni penglihatan, cita rasa, pendengaran dan pembauan. Dari wajah juga kita bisa menilai usia seseorang, gender dan ras diri dengan bermacam-macam derajat keakuratan. Wajah juga memperlihatkan suasana hati dan emosi, bahkan kepribadian manusia.

Namun di pihak lain, wajah sebenarnya tidak bisa dipandang  hanya pada wilayah fisik saja. Kita harus belajar untuk mengerti wajah dengan horizon berpikir yang lebih luas. Dalam ajaran Kristiani, manusia merupakan gambar Allah (Imago Dei). Ia adalah makhluk spritual sekaligus rasional. Hal ini terungkap jelas dari Kitab Kejadian, "Allah menciptkan manusia menurut gambar-Nya" (Kej 1:27).

Dengan kata lain, wajah itu mengatakan korelasionalitas hidup manusia dengan Tuhan. Ia harus mengalir dari penciptanya, yakni Allah sendiri. Mengabdi pada wajah Allah berupa kelembutan, kerendahan hati, kedamaian, cinta, saling membantu dan sebagainya. Inilah makna wajah yang sesungguhnya.

Maka sulitlah membicarakan wajah fisik bila ia hanya kita lihat sebagai fakta tak lebih dari seonggok daging lepas dari kerangka makna.Sejatinya, wajah adalah 'tulang punggung' citra kemanusiaan manusia. Masing-masing kita harus berpartisipasi dan mengembangkan diri menuju kecantikan dan kebaikan Wajah Allah sendiri.

Wajah akhirnya kita maknai sebagai sebuah tindakan yang mengharuskan masing-masing kita untuk berperilaku baik, anggun, indah, sopan, mempesona, membangun kebahagiaan, hikmat dan kebenaran sebagaimana karakter Allah.

Semoga kehadiran wajahku dan wajahmu tidak sedang menghardik dan melenyapkan wajah yang lain. Dan semoga kita mampu mengenakan aksesoris kebaikan pada wajah kita bukan aksesoris kepalsuan/ topeng kebinasaan.

Salam..

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan