Gatot Swandito
Gatot Swandito lainnya

Yang kutahu aku tidak tahu apa-apa Email: gatotswandito@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Pilgub Jabar 2018, Setelah Ridwan Kamil Melubangi Kapalnya Sendiri

13 Februari 2018   09:54 Diperbarui: 31 Maret 2018   15:28 9027 16 15
Pilgub Jabar 2018, Setelah Ridwan Kamil Melubangi Kapalnya Sendiri
www.kompas.com

Diakui atau tidak, Pilgub Jabar 2018 sudah bukan milik Ridwan Kamil lagi. Ridwan alias Kang Emil yang selama lebih dari dua tahun terakhir disebut-sebut sebagai Gubernur Jawa Barat 2018-2023, kini pamornya sudah semakin terpuruk.

Kang Emil memang belum seluruhnya tamat. Tetapi, lubang yang mengangnga di "lambung kapalnya" terlalu lebar, dan tidak mungkin lagi untuk ditambal.

Menariknya, justru Ridwan sendiri lah yang melubangi lambung kapalnya sendiri dengan menerima pinangan Nasdem, dan selanjutnya menghadiri acara deklarasinya yang dihelat pada 19 Maret 2017.

Lubang selebar gerbang sekolah dasar negeri yang ada pada lambung kapal tersebut pastinya bisa dijadikan pintu air oleh para pesaingnya. Semakin banyak air yang masuk ke dalam kapal, semakin membebani Ridwan. Dan, air itu adalah pengakuan Ridwan sendiri tentang alasannya yang mau didukung oleh Nasdem.

Kemungkinan karamnya Ridwan ini sudah terbaca oleh Golkar dan PDIP. Kedua parpol kawakan yang baru saja merasakan kekalahan menyakitkan dalam Pilgub DKI 2017 ini kemudian membuat langkah-langkah mitigasi.

Golkar dengan tangkas melempar sauhnya kepada Demokrat. Demokrat yang membutuhkan dukungan parpol lain untuk memenuhi persyaratan ambang batas pencalonan gubernur dan wakil gubernur pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang datang padanya. Koalisi ciamik pun digalang, Deddy Mizwar pun digandengkan dengan Dedi Mulyadi.

Sedangkan PDIP mencoba lepas dari marabahaya dengan menurunkan sekocinya TB Hasanuddin yang dipasangkan dengan Anton Charlyan. PDIP beruntung sebab untuk Pilgub Jabar 2018, partai binaan Megawati Soekarnoputri ini tidak membutuhkan parpol lainnya.

Dengan Kondisi Ridwan yang semakin memburuk tersebut, diakui atau tidak, saat ini Pilgub Jabar 2018 telah menjadi milik duo Deddy-Dedi yang masih ditempel ketat oleh pasangan Mayjen (Purn) Sudrajat-Ahmad Syaiku. Sementara pasangan TB dan Anton saat ini masih mengekor di urutan buncit.

Sebenarnya, pada akhir Juli 2017, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengeluarkan rilisnya yang mengatakan Pemilih di Jawa Barat tidak terpengaruh isu bahwa Ridwan Kamil akan diusung oleh partai politik pendukung Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkada DKI Jakarta (KOMPAS.com).

Tetapi, hasil survei SMRC tersebut sulit untuk dipercaya. Karena pada kenyataannya, warga Jabar sangat terpengaruh oleh penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Itulah mengapa begitu Ridwan menerima dukungan Nasdem yang diketahui sebagai salah satu parpol yang paling militan mendukung Ahok, ketika itu juga Ridwan yang dikenal sebagai jawara polling media sosial langsung sempoyongan.

Golkar dan PDIP pastinya tidak akan membuka alasannya meninggalkan Ridwan. Sebab, jika kedua parpol gaek itu membukanya itu sama artinya dengan meramu racun untuk diminumnya sendiri.

Kehancurleburan Ridwan tersebut dituliskan dalam artikel "Pilgub Jabar: Seperti Dewi Sinta, Ridwan Kamil Harus Menyucikan Dirinya" yang ditayangkan pada Agustus 2017. Sebuah artikel yang sangat bertolak belakang dengan hasil survei SMRC. Bahkan, dalam artikel tersebut dituliskan kalau Ridwan dapat mengembalikan kekuatannya jika ia menjaukan, membersihkan, dan menyucikan dirinya dari Nasdem.

Pertanyaannya, mungkin ada yang bertanya, kenapa artikel yang ditayangkan di Kompasiana tersebut berbeda dengan hasil survei SMRC?

Jawabannya, karena hasil pengamatan yang dilakukan dengan mata kejujuran dan dituangkan secara tulis ikhlas ke dalam sebuah tulisan sangat jauh berbeda dengan hasil survei yang diduga dipenuhi oleh motif-motif tertentu.

Sekilas dua hasil survei Populi Center yang dirilis pada April 2016 ini terlihat normal-normal saja (baca di sini).

Tetapi, begitu mendapatkan sekuelnya yang dirilis pada Oktober 2016 (baca di sini), baru tercium ada sesuatu dengan rilis survei Populi Center tersebut.

Dan, sesuatu tersebut lebih menyengat lagi jika memerhatikan peristiwa yang terjadi pada Juni 2016 (baca di sini).

Perhatikan kronologinya (rilis Populi Center pada bulan April, pemberitaan media pada bulan Juni, dan rilis Populi Center pada Oktober 2016.

Sepertinya ada kemiripan antara kedua rilis survei Populi Center tersebut mirip-mirip dengan rilis survei SMRC pada April 2017. Seolah ada sebuah alam pikiran yang dicoba untuk dijejalkan kepada publik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3