Mohon tunggu...
Gatot Swandito
Gatot Swandito Mohon Tunggu... Gatot Swandito

Yang kutahu aku tidak tahu apa-apa Email: gatotswandito@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Politik

Turki yang Selalu Diuntungkan dengan Serangan Teror, Rencana Invasi Turki ke Suriah yang Tidak Jelas dan Keputusan Brilian Indonesia yang Menolak Bergabung dalam "NATO" Arab

20 Februari 2016   12:34 Diperbarui: 21 Februari 2016   15:31 0 2 2 Mohon Tunggu...

Bisa jadi Turki menjadi satu-satunya negara yang selalu diuntungkan dengan serentetan aksi teror yang dialaminya. Bagaimana tidak diuntungkan, pas Turki berencana menginvasi Suriah yang katanya untuk menghabisi ISIS, bom mobil meledak ketika iring-iringan bus militer tengah melintas. Akibatnya, tercatat 28 orang tewas dan 60 orang luka-luka. Jadi, dengan adanya serangan teror tersebut Turki mendapat legitimasi untuk melancarkan invasinya.

Sebelumnya, di saat DK PBB tengah membahas laporan yang disampaikan Suriah tentang keterlibatan Turki dalam pengiriman senjata kimia yang dimiliki ISIS, pada 12 Januari 2016 teroris menyerang Turki yang menewaskan 10 orang dan melukai belasan orang. Hanya berselang beberapa jam setelah serangan itu terjadi, pemerintah Turki langsung menyebut ISIS sebagai pelakunya.

Serangan teror yang terjadi pada 12 Januari 2016 tersebut mirip-mirip dengan aksi teror yang dialami Turki pada 1 dan 23 Desember 2015. Pada serangan yang terjadi pada Desember 2015, hampir bersamaan waktunya dengan diungkapkannya bukti-bukti yang dimiliki oleh Rusia dan Suriah tentang keterlibatan Turki dengan ISIS. Bahkan, Rusia menuding keluarga Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membeli minyak curian yang dijual oleh ISIS. Tidak hanya itu, dukungan Pemerintah Erdogan kepada ISIS pun diungkapkan oleh pihak oposisi dan sejumlah warga Turki.

Jadi, hampir bisa terbaca dengan sangat jelas, pesan apa yang ingin disampaikan lewat serangkaian serangan teroris yang ditujukan kepada Turki tersebut.

Kemudian soal rencana invasi Turki ke Suriah. Dengan adanya sejumlah serangan teror yang melanda negaranya, Turki memiliki legitimasi kuat untuk menyerang ISIS yang beroperasi di Suriah. Sayangnya, Turki tidak mungkin maju ke medan tempur sendirian. Turki butuh teman.

Kemudian keluarlah dukungan dari Saudi Arabia. Saudi tidak main-main dalam memberikan dukungannya. Negara Petro Dollar ini telah mengirim armada tempur udaranya pesawat ke markas udara Incirlik di Adana, Turki. Sementara ribuan prajurit Saudi sudah disiapkan untuk diterjunkan.

Karena alasan invasi tersebut untuk melawan teroris, maka bukan hanya Saudi yang akan bergabung. Dipastikan seluruh anggota koalisi militer anti teroris bentukan Saudi yang berjumlah 34 negara akan ikut serta dalam penyerbuan ke wilayah Suriah.

Turki butuh teman? Bukankah di Suriah sudah dari banyak pasukan dari berbagai negara yang tengah beroperasi di sana, termasuk Amerika berserta NATO-nya dan Rusia yang baru masuk Suriah pada awal Oktober 2015.

Masalahnya, siapa sebenarnya yang mau diperangi Turki dan Saudi di Suriah, ISIS atau Bashar al Assad?

Begini cerita singkatnya. Sejak 2011 Suriah terpapar “virus” Arab Spring. Terjadilah pemberontakan militer oleh Free Syirian Army (FSA) yang berupaya menggulingkan Assad. FSA ini mendapat dukungan dari Amerika and The Gank. Namun ketika pemberontakan ini mulai bisa diatasi oleh pemerintahan Assad, datanglah milisi ISIS dari Irak. Serbuan ISIS ini semakin membuat kacau situasi di Suriah. Aksi-aksi ISIS yang cenderung menebar teror ke rakyat sipil ini kemudian mengundang NATO dan sejumlah sahabat Amerika lainnya untuk masuk ke Suriah. Kedatangan NATO dan rekan ini  malah menambah kacau situasi. Terjadilah gelombang pengungsian ke luar dari Suriah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x