Gatot Tri
Gatot Tri swasta

life through a lens..

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Antara Mengejar Kualitas Hidup dan Perilaku Boros

8 Februari 2019   19:21 Diperbarui: 9 Februari 2019   05:13 349 9 4
Antara Mengejar Kualitas Hidup dan Perilaku Boros
ilustrasi menghitung jumlah pengeluaran dan pemasukan. (sumber gambar: allamericanhc.com)

Ada sebuah artikel menarik dari BBC.com berjudul "Do money apps make us better or worse with our finances?" . Artikel ini mengenai pengendalian keuangan melalui aplikasi. Tujuannya adalah agar kita bisa mengetahui sekaligus mengendalikan pengeluaran kita.

Beberapa aplikasi yang diulas nampaknya menarik untuk dipakai. Ada satu fitur menarik dari salah satu aplikasi dimana aplikasi itu akan memberikan peringatan jika perilaku konsumtif kita tidak biasa. Perilaku konsumtif yang tidak biasa ini sepertinya sebelas dua belas dengan perilaku boros.

Berbicara mengenai perilaku boros biasanya berbanding lurus dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup ini di sisi lain dapat memuaskan seseorang, namun di sisi lain dapat menjerumuskan kehidupan seseorang.

Ini terjadi apabila seseorang memaksakan gaya hidup konsumtif yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Bisa jadi karena gaya hidup, seseorang memiliki hutang kartu kredit yang besar. Bahkan membayar tagihan minimal saja tidak mampu.

Kondisi finansial masing-masing individu tidaklah sama. Mungkin ada diantara Anda yang setelah menerima gaji atau pendapatan langsung terpakai untuk membayar cicilan kartu kredit atau tagihan rutin yang menyisakan sekian nominal yang mepet untuk hidup sehari-hari. Banyak yang demikian, termasuk saya.

Atau mungkin Anda adalah seorang yang habis gajian langsung bersiap buat pelesir ke luar kota di akhir pekan. Tidak masalah karena toh masih lajang dan tinggal di rumah orang tua.

Atau mungkin ada yang bisa pelesir saban akhir pekan dan sama sekali tidak menjadi masalah. Gaji bulanannya habis tetap tenang. Bisa jadi ia memiliki bisnis sampingan yang omzetnya sudah lumayan stabil.

Sebagian lainnya hobi ngopi di kafe premium tujuh hari dalam seminggu untuk sekadar melepas penat sepulang kerja atau chit chat dengan kawan. Bagi fashionista mungkin ada yang selalu membeli barang-barang branded terbaru walau penghasilan bulanannya pas-pasan.

Wah kalau begitu, jangan-jangan Anda adalah pengikut aliran BPJS alias Bujet Pas-pasan Jiwa Sosialita. Hehe..

Menilai diri kita boros memang relatif. Pada dasarnya tidak ada standar tertentu yang mengkategorikan kita boros atau tidak boros. Bagi orang gajian, bila uang sudah menipis di pertengahan bulan, mungkin saja ada pemborosan di awal bulan. Tapi tidak bisa juga digeneralisasi bahwa ketika uang menipis tanda adanya pemborosan.

Kadang kita baru menyadari bahwa kita boros ketika gaji bulanan kita sudah menipis sebelum tanggal gajian berikutnya. Bila sudah begitu, kita mungkin akan mengingat-ingat atau mencatat barang atau jasa apa saja yang kita beli dalam beberapa hari terakhir yang membuat gajian seperti numpang lewat saja.

Tetapi kadang kita terlalu cepat menilai kita boros walau hanya membeli sebuah bantal baru untuk menggantikan bantal lama di rumah yang sudah kempis dan bau apek. Perasaan menyesal pun hinggap, mengapa membeli bantal baru sementara bantal lama meskipun apek masih bisa dipakai (padahal bisa jadi bakteri dan tungau sudah berkoloni dengan mapan di bantal lama).

Begini, barang atau jasa apapun yang kita belanjakan dengan uang kita (baca: income atau penghasilan kita) pada dasarnya adalah hak kita guna memenuhi kualitas hidup yang kita inginkan. Cara menebusnya bisa secara tunai atau kredit sepanjang sesuai dengan kemampuan.

Kualitas hidup antara individu satu dengan lainnya tidaklah sama karena setiap individu memiliki pandangan berbeda mengenai pemenuhan kualitas hidupnya sehingga sifatnya relatif. Uang, saat ini adalah alat tukar suatu kualitas hidup yang diinginkan oleh individu dimana kemampuan finansial masing-masing individu juga pasti berbeda.

Oleh karena itu, pemenuhan kualitas hidup seseorang seharusnya berangkat dari kebutuhan. Jika kebutuhan seseorang terpenuhi artinya ia telah mencapai kualitas hidup menurut versinya.

Jika keinginan untuk mencapai kualitas hidup belum tercapai karena, misalnya, belum memiliki cukup uang untuk mewujudkannya, tidak serta merta kualitas hidup tidak tercapai. Bisa dibilang, statusnya masih dalam proses.

Tetapi pemenuhan kualitas hidup seseorang juga mestinya realistis. Dari nilai gaji atau penghasilan rutin, seseorang dapat mengukur kemampuan finansialnya untuk mencapai kualitas hidup yang ia inginkan. Lalu bagaimana bersikap realistis?

Contoh, ada seseorang sebut saja Fandi, yang membeli rumah tipe 21 secara kredit di sebuah kompleks perumahan sederhana di pinggiran kota. Keputusannya membeli rumah tersebut berdasarkan alasan sederhana saja, ia membutuhkan tempat tinggal untuk keluarga kecilnya. Fandi memilih rumah tipe 21 karena profil keuangannya sesuai dengan harga rumah tipe 21.

Biasanya rumah tipe 21 hanya memiliki satu kamar. Tetapi secara bertahap, Fandi mampu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membangun satu kamar tambahan untuk sang buah hati yang kian tumbuh. Sekian tahun berlalu, rumah tinggalnya kini menjadi dua lantai.

Di rumahnya kini tersedia carport untuk satu unit mobil minivan yang ia beli secara kredit pula untuk keperluan ke kantor, mengantar anak-anak ke sekolah dan rekreasi keluarga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3