Mohon tunggu...
Gatot Tri
Gatot Tri Mohon Tunggu... Swasta

life through a lens.. = Selalu patuhi protokol kesehatan selama pandemi COVID-19. Salam sehat selalu! =

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Mary Poppins Returns", Film Musikal Legendaris yang Sarat akan Pesan Moral

27 Desember 2018   21:57 Diperbarui: 30 Desember 2018   19:24 1392 8 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Mary Poppins Returns", Film Musikal Legendaris yang Sarat akan Pesan Moral
Sumber: Colombia.com

Desember selalu menjadi bulan yang pas untuk menonton film-film besar. Bukan hanya karena musim liburan, bulan Desember sepertinya menjadi bulan favorit bagi produser film mana pun untuk merilis film yang akan bersaing untuk tiga penghargaan film besar: Golden Globe Awards, Academy Awards, dan BAFTA.

Di bulan Desember 2018 ini, ada beberapa film yang bagus untuk ditonton, antara lain, seperti "Mortal Engines" yang epik, "Spider-Man: Into the Spider-Verse" yang lincah, taktis dan gesit, "Aquaman" yang luar biasa, "Bumblebee" yang fantastis dan drama kehidupan nyata "Welcome to Marwen". Namun ada salah satu film bergenre drama fantasi yang layak untuk ditonton, yaitu "Mary Poppins Returns".

Setelah film pertama yang meraih sukses besar pada tahun 1964, nanny atau pengasuh anak yang luar biasa itu bersembunyi sekian lamanya di antara awan, hingga sesuatu hal memanggilnya untuk menapaki Bumi lagi, untuk bertemu kembali dan sekali lagi membantu keluarga Banks.

Film "Mary Poppins Returns" ini berdasarkan pada novel yang ditulis oleh penulis kenamaan Inggris, P.L. Travers. Dalam film sekuel ini kedua anak George Banks dan Winifred Banks, Michael dan Jane, telah beranjak dewasa. Kini masing-masing memiliki kehidupan sendiri.

sumber gambar: gigazine.net
sumber gambar: gigazine.net
Michael yang berprofesi sebagai seniman lukis telah menduda. Istrinya diceritakan telah wafat. Michael masih tinggal di rumah keluarga Banks bersama ketiga anaknya yang lucu-lucu bernama John, Annabel dan Georgie. Sementara Jane yang bekerja sebagai aktivis buruh tinggal di sebuah apartemen.

Kehidupan Michael nampaknya sedang dirundung problem finansial yang cukup pelik. Latar waktu film ini memang di masa Depresi Besar yang melanda Inggris di tahun 1935. Tanpa diketahui oleh Jane, Michael memiliki sejumlah besar pinjaman di Fidelity Fiduciary Bank dengan jaminan rumah keluarga tersebut. Di bank tersebut Michael juga bekerja sebagai teller paruh waktu.

Karena hutang jatuh tempo, dua orang pengacara bank mengunjungi kediamannya dan menegaskan kepadanya bahwa rumah tersebut dalam proses repossession atau diambil alih oleh bank. Michael dan Jane pun merasa cemas akan kehilangan rumah yang penuh kenangan keluarga. Tiba-tiba mereka ingat kalau ayah mereka memiliki sejumlah saham di bank tersebut yang mungkin cukup untuk melunasi hutang Michael.

Namun ternyata mereka tidak tahu di mana sertifikat saham itu berada. Sepertinya sertifikat saham itu disimpan di suatu tempat di rumah keluarga Banks tersebut. Jadi, Michael dan Jane mulai mencari dokumen terpenting dalam hidup mereka atau mereka bakal kehilangan sebagian kenangan dalam hidup mereka.

Sementara itu, London ditutupi oleh awan mendung kelabu yang berangin. Nampaknya tidak lama lagi akan menuangkan air hujan ke seantero kota. Anak-anak Michael sedang dalam perjalanan ke toko untuk membeli makanan dengan sisa uang koin yang mereka dapatkan dari ayah mereka.

Ketika mereka melewati sebuah taman sebagai jalan pintas, si bungsu Georgie mengejar layang-layang yang terbawa oleh angin. Georgie bisa menangkapnya dan mencoba untuk menerbangkannya selagi angin sedang berhembus. Nampaknya angin berhembus terlalu kencang, membuat bocah itu tidak bisa menahan layang-layang itu lebih lama lagi. Tubuhnya pun mulai terangkat dari tanah.

Untungnya, Jack, seorang lampu jalan, muncul di saat yang tepat. Ia mampu menangkap Georgie. Keduanya pun bekerja sama untuk menarik tali guna membawa layang-layang kembali. Mereka hampir saja kehilangan layang-layang itu tetapi mereka terus menarik dan menggulung tali dengan kuat.

Tiba-tiba, sebuah fenomena aneh muncul. Entah bagaimana awan gelap itu merekah. Georgie dan Jack masih menarik tali, tetapi kali ini jauh lebih mudah. Sesuatu terjadi. Mereka tidak hanya menurunkan layang-layang, tetapi juga seorang wanita anggun. Yup, wanita itu adalah Mary Poppins. Ia memegang layang-layang dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang tas tangan. Ia mendaratkan kedua kakinya dengan lembut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x