Gatot Tri
Gatot Tri

life through a lens..

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Menjaga Kesehatan Tubuh adalah Salah Satu Bentuk Profesionalisme

12 Juli 2018   19:15 Diperbarui: 15 Juli 2018   08:21 1079 3 2
Menjaga Kesehatan Tubuh adalah Salah Satu Bentuk Profesionalisme
Ilustrasi karyawan sehat. sumber: https://www.chromeriver.com/blog/keeping-your-team-happy-and-healthy-on-the-road

Kita sering mendengar atau membaca tentang profesionalisme dalam bekerja. Segalanya tentang melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan keahlian dan prosedur, bersikap solutional dalam menghadapi berbagai masalah teknis pekerjaan, mampu menjaga hubungan dan kerjasama yang baik dengan tim atau kolega, menjalin hubungan yang baik dengan klien dan sebagainya.

Namun ada salah satu aspek profesionalisme yang sebetulnya penting yang jarang dibahas, yaitu menjaga kesehatan tubuh. Menurut pendapat saya, menjaga kesehatan tubuh dengan menjalani pola hidup sehat sama pentingnya dengan seorang karyawan yang merawat keilmuan dan keahliannya dengan mengikuti sejumlah pelatihan, seminar atau pun workshop.

Coba Anda lihat riwayat cuti sakit Anda dalam setahun ini ke departemen HR Anda atau lewat HR info system jika kantor Anda telah memilikinya. Anda cuti sakit satu hari? Dua hari? Atau tujuh hari atau bahkan 14 hari? Jika terlalu banyak, sepertinya kadar profesionalisme Anda patut dipertanyakan. Hehe. Please don't take it personally.

Baiklah, pertama-tama saya hendak membagikan informasi mengenai sebuah survei yang dinamakan Jakarta Professional Health Index 2015 yang dilakukan oleh sebuah brand suplemen terkenal. Survei tersebut menemukan bahwa hanya ada 50% profesional (dalam hal ini karyawan/pegawai) yang menerapkan pola hidup sehat. Padahal 96% responden yakin bahwa kesehatan sangat berpengaruh pada performa kerja. (sumber)

Ada sejumlah pertanyaan terkait pola hidup sehat yang diajukan kepada para responden secara online. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain mengenai kebiasaan sarapan di pagi hari dan faktor pemicu stres. 

Kesimpulan yang bisa ditarik dari survei tersebut adalah mayoritas responden sebenarnya menyadari pentingnya kesehatan tubuh namun belum sepenuhnya menerapkan pola hidup sehat.

Begini, tubuh kita sudah dirancang sempurna oleh Tuhan. Sehari-hari kita beraktivitas (sekolah, bekerja) selama sekira delapan hingga sembilan jam per hari. Jika Anda bekerja, aktivitas harian itu belum termasuk sekian jam lembur atau lama perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya.

Waktu istirahat kira-kira memerlukan delapan jam setiap harinya. Ini agar tubuh sempurna melakukan metabolisme secara alami, mengganti sel-sel tubuh yang rusak dengan sel-sel baru, membuang racun-racun dari apapun yang kita konsumsi, dan sebagainya. Setelah menjalani tidur malam dengan sempurna, ketika bangun tubuh rasanya segar dan siap beraktivitas kembali sepanjang hari.

Itu adalah gambaran idealnya. Kenyataannya jarang sekali karyawan yang memiliki waktu istirahat seideal itu. Dalam survei tahun 2015 itu, yang rasanya masih cukup valid di tahun 2018 ini, menyebutkan ada sepertiga responden bekerja hingga 10 jam setiap hari. Hal ini dapat memicu stres yang rentan mempengaruhi kesehatan.

Survei itu juga menyebutkan bahwa faktor pemicu stres lainnya yaitu beban pekerjaan, tekanan dari atasan ataupun kolega dan yang terbesar adalah kemacetan lalu lintas (sekali lagi, responden survei ini adalah profesional yang bekerja di Jakarta).

Sekedar sharing, saya pernah punya pengalaman bekerja overtime dimana saya dan sejumlah rekan kerja saya harus menginap di kantor hingga tiga hari nonstop tanpa pulang. Ini karena tekanan pekerjaan dimana waktu itu mendekati tenggat waktu pekerjaan yang telah disepakati dengan klien perusahaan tempat saya bekerja.

Selang satu atau dua hari kemudian ketika bekerja malam hari di kantor, perut saya mual dan terasa nyeri. Saya meminta pulang ke atasan saya dan segera mengunjungi dokter. Dokter mendiagnosa saya mengalami infeksi saluran pencernaan, membuat saya harus bed rest di rumah selama beberapa hari. Nampaknya tekanan pekerjaan menjelang deadline membuat kadar asam lambung saya meningkat.

Memang, tuntutan pekerjaan mungkin membuat kita bekerja overtime. Namun kita harus menyiasatinya disesuaikan dengan kondisi kita masing-masing. Hal paling penting adalah jangan sampai terlambat makan dan cukup minum air putih.

Jika punya riwayat penyakit tertentu, ada baiknya untuk mengenalinya. Pantangan makanan atau minuman harus benar-benar dihindari. Sebagai contoh jika memiliki kadar kolesterol dalam darah yang tinggi, maka mengonsumsi hanya makanan rebus adalah tindakan bijak. 

Jika gula darah meningkat, sebaiknya menghindari makanan berkadar gula tinggi. Karena jika mengonsumsinya maka tubuh akan terasa lemas atau menderita kesemutan yang sudah pasti akan mengganggu aktivitas dan performa kerja.

Berbicara tentang makanan, menu makan sehari-hari perlu menjadi perhatian. Sarapan sangat penting. Jarang atau tidak pernah sarapan, atau sarapan air putih saja membuat tubuh kekurangan kalori yang diperlukan untuk bekerja dan berpikir jernih. 

Makan siang dengan menu junk food yang asal kenyang tanpa memperhatikan kandungan gizi makanan lambat laun berdampak kurang baik terhadap kondisi kesehatan. Begitu pula jika mengonsumsi makanan yang seharusnya menjadi pantangan.

Ketika akhir pekan, kadar profesionalisme seorang karyawan bisa diukur dengan kegiatan yang dipilih. Jika melakukan aktivitas berlebihan, dikhawatirkan kondisi tubuh lelah ketika kembali bekerja di hari Senin. Terkadang saking lelahnya, malah jatuh sakit.

Bila karyawan jatuh sakit umumnya perusahaan telah menyediakan asuransi kesehatan. Misalnya BPJS Kesehatan dimana ini bersifat mandatory atau wajib. Ada pula perusahaan yang memberikan asuransi kesehatan tambahan yang berlaku untuk karyawan dan anggota keluarganya. 

Jika tidak ada asuransi, ada sebagian perusahaan yang memberikan fasilitas reimbursement atau penggantian biaya berobat dengan pagu tertentu. Pada intinya, umumnya perusahaan telah berupaya menjamin aspek kesehatan karyawannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2