Gatot Tri
Gatot Tri

life through a lens..

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Ketika "Environmental Quotient" Bisa Selamatkan Lingkungan

11 Juli 2018   13:30 Diperbarui: 12 Juli 2018   19:41 2293 0 0
Ketika "Environmental Quotient" Bisa Selamatkan Lingkungan
sumber foto ilustrasi: zeenews.india.com

Faktor kecerdasan manusia selama ini bisa diketahui lewat metode penaksiran Intelligent Quotient atau IQ berdasarkan standar yang pertama kali dibuat oleh psikolog Jerman William Stern. Terdapat serangkaian tes terstandar dimana nilai setiap tes dihitung untuk mengetahui angka IQ-nya. Ada level jenius (di atas angka 140), sangat superior, superior hingga paling bawah adalah kelompok definite feeble-mindedness (di bawah angka 70) -- termasuk di sini moron dan idiot.

Mengikuti IQ, sejumlah quotient atau kecerdasan lainnya muncul. Berbeda dengan IQ yang ilmiah, istilah kecerdasan-kecerdasan yang muncul belakangan tidak memiliki sandaran ilmiah. Pun tidak ada standar baku untuk menilai kecerdasan-kecerdasan itu selain melihat sejumlah aspek atau syarat untuk memenuhinya. 

Kita mengenal misalnya Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosional untuk menakar sisi emosi individu terkait dengan hubungan sosial antar manusia di mana Daniel Goleman menjadi orang yang memperkenalkannya secara luas.

Ada pula Spiritual Quotient (SQ) untuk meraba tingkat kecerdasan spiritual individu dan Financial Quotient (FQ) atau Financial Inteligence untuk mengetahui tingkat kecerdasan mengelola keuangan. Serta sejumlah kecerdasan-kecerdasan lainnya. 

Nah, salah satu kecerdasan yang juga penting bagi manusia adalah kecerdasan lingkungan atau environment quotient. Referensi mengenai kecerdasan ini masih sangat minim. Namun menurut pendapat saya, kecerdasan ini penting karena kehidupan kita sehari-hari berkaitan langsung dengan Bumi yang kita tinggali.

Manusia hidup di Bumi, meyerap segala sumber dayanya untuk keberlangsungan hidupnya. Bumi dan seisinya telah menyejahterakan manusia, namun di sisi lain kondisi Bumi kian hari kian terancam akibat ulah manusia sendiri. Manusia mengeksploitasi alam tetapi secara bersamaan juga mendegradasinya.

Deforestasi hutan misalnya, dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia tetapi di sisi lain keragaman hayati dan biodiversitas terancam. Keberlangsungan hidup satwa yang sebelumnya telah lama hidup di sana menjadi terusik bahkan terusir.

Manusia juga berperilaku kurang bersahabat terhadap alam dengan misalnya membuang sampah sembarangan di sungai yang menggerus ekosistem di sana. Penebangan pohon secara tidak terkendali menyebabkan bencana tanah longsor di sejumlah tempat. Udara penuh dengan polutan disebabkan efek samping teknologi temuan manusia.

Berkaca pada sejumlah potret degradasi lingkungan yang nyata terjadi di depan mata kita, apa yang harus dilakukan oleh manusia untuk mengurangi degradasi lingkungan atau bahkan membuatnya menjadi nol?

Jawabannya adalah dengan memiliki environmental quotient atau kecerdasan lingkungan. Lalu, bagaimana kita bisa memilikinya?

Menurut saya, kecerdasan lingkungan bukan tentang bagaimana kita bisa memilikinya. Ini adalah soal kemauan. Ya, sesederhana itu. Kemauan untuk enggan merusak lingkungan, kemauan untuk tidak mencemari atau mengotori alam.

Contoh paling utama adalah tentang sampah plastik. Berton-ton sampah plastik masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dimana-mana. Tidak hanya di TPA, coba Anda amati jalan yang Anda lewati sehari-hari, Anda pasti akan menemukan botol plastik bekas minuman ataupun plastik bekas kemasan makanan.

Bila kita memiliki kecerdasan lingkungan, ketika berbelanja di toko atau supermarket misalnya, kita bisa mengurangi sampah plastik dengan membawa tas belanja sendiri yang bisa dipakai berkali-kali. Jika banyak orang melakukan hal yang sama, volume sampah plastik dapat berkurang secara signifikan.

Gerakan tanpa kantong belanja plastik pernah didengungkan dan lumayan berhasil mengurangi volume sampah plastik. Gerakan itu masih ada hingga kini. Terakhir saya membaca gerakan ini sedang berjalan di propinsi Kalimantan Selatan.

Tentang sampah plastik, saya hendak sedikit menceritakan pengalaman saya. Beberapa waktu lalu saya bersama keluarga mengunjungi sebuah kebun binatang di Jawa Timur. Ada even menarik di sana yaitu naik gajah. Meski tiketnya dibandrol lumayan mahal, animo pengunjung sangat tinggi hingga mereka membentuk antrian yang cukup panjang.

Saya ikut senang menyaksikan anak-anak dan orang tuanya menaiki punggung gajah mengelilingi venue. Ada dua gajah jinak di sana. Namun di sisi lain ada hal yang membuat saya miris. Saya melihat salah satu gajah ketika berjalan belalainya mengais-ngais tanah untuk meraih makanan baik rumput, daun-daun ataupun makanan dari pengunjung.

Namun gajah itu malah mendapat sampah plastik bekas kemasan makanan. Kejadiannya begitu cepat hingga akhirnya selembar sampah plastik itu pun ia lahap. Terlambat, tidak ada yang sempat merebut sampah plastik itu dari belalai gajah. Bahkan meskipun salah satu petugas ada yang mengetahuinya, saat itu posisinya cukup jauh dari gajah sehingga tidak sempat bertindak. 

Saya merasa prihatin melihat itu. Seharusnya venue bersih dari segala sampah, terutama sampah non-organik. Gajah tidak tahu apa yang ia masukkan ke mulutnya. Adanya sampah itu karena perilaku seseorang yang membuang sampah secara sembarangan. Bila orang itu memiliki kecerdasan lingkungan, ia akan membuang sampah pada tempat sampah yang banyak tersedia di sekitar venue.

Masih tentang sampah plastik, baru-baru ini ada berita seekor paus pilot yang ditemukan meregang nyawa hingga akhirnya mati di kanal Na Thap, Thailand. Ketika dibedah, di dalam perutnya terdapat sekira delapan kilogram sampah plastik. Sama dengan gajah di atas, paus mengira itu adalah makanannya.

BBC pernah memproduksi sebuah film dokumenter berjudul Blue Planet 2. Salah seorang kru film itu mengatakan bahwa ia kerap menemukan berbagai bentuk plastik di lautan mulai senar pancing, bungkus permen hingga botol minuman.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2