Gapey Sandy
Gapey Sandy Kompasianer, Writer, Blogger, Vlogger, Reporter, Buzzer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Kurasi Artikel Ekonomi Hilman Fajrian, "Rhenald Kasali"-nya Kompasiana

12 Januari 2018   14:34 Diperbarui: 13 Januari 2018   12:03 1180 6 8
Kurasi Artikel Ekonomi Hilman Fajrian, "Rhenald Kasali"-nya Kompasiana
Ilustrasi Disruption. (Sumber: rumahperubahan.co.id)

Siapakah the little "Rhenald Kasali" di Kompasiana? Langsung saya kasih jawabannya yak, Hilman Fajrian. Profesional yang bermukim di Balikpapan ini memang lebih dari sekadar bertalenta dalam menulis, menuangkan gagasan briliannya. 

Memang sih, kebanyakan tulisannya berkutat melulu pada urusan 'dapur' alias Ekonomi. Tapi, begitu ia membeslah sebuah persoalan dalam lingkup Tekno dan Media pun, Hilman jua yang paling sanggup menjadi "penerang". 

Sesuai dengan namanya Fajrian, yang berarti Fajar. Sudah menjadi takdir bagi fajar untuk menyingsing dan usir gelapnya malam.

Tulisan-tulisan Hilman "Sang Fajar" Fajrian, memang sanggup membuka kegelapan plus kebebalan pikir. (Kalau dipuji begini, jangan cengengesan ingat kita makan "Soto Ayam Bu Samino" di Palmerah, dekat Kantor Kompasiana yak ... hahahahaaaa, nambah terus satenya)

Sepanjang 2017, "Sang Fajar" menulis 6 artikel Ekonomi. Hebatnya, semua selalu nangkring jadi Artikel Utama alias Headline. Ya, mau ditaruh dimana muka admin penanggungjawab konten Kompasiana kalau sampai berani hanya meletakkan sebagai PilihanEditor atas tulisan bernas, lugas dan mendalam besutan "Sang Fajar".

Screenshot tulisan Hilman Fajrian di Kompasiana.
Screenshot tulisan Hilman Fajrian di Kompasiana.

Ini kurasi saya terkait 5 tulisan Ekonomi yang super duper karya "Sang Fajar".

1. Dilema Inovasi dan Kekalahan Sebuah Bangsa 

Ini tulisan Ekonomi perdana Hilman sepanjang tahun kemarin di Kompasiana. Ia mengunggahnya pada 20 Maret 2017, persis sebelum jam makan siang.

Tulisan ini membuka mata pembaca untuk memahami bahwa siapa saja pelaku usaha yang tidak siap mengikuti kekinian zaman, harus siap-siap tergusur oleh pendatang baru yang akrab dengan high-tech. Dengan begitu sederhana, Hilman mencontohkan industri penjaja rekaman musik melalui melalui Compact Disc yang sekarat lalu tergantikan teknologi MP3.

Belum selesai, penjaja rekaman musik yang menggunakan MP3 lantas kolaps lagi gara-gara muncul music streaming on demand. Artinya, orang tak perlu lagi membeli MP3 kemudian memilikinya dalam rentang waktu yang lama. 

Untuk apa? Bukankah orang mendengarkan musik juga tak perlu selama hidupnya tanpa henti. Orang mendengarkan musik pada saat-saat tertentu saja, sesuai dengan mood dan keinginannya.

Kecuali Pak Jokowi, yang setiap saat selalu ber-Metallica! Jreng ... master, master, master of puppets I'm pulling your strings ...!

Pergeseran hidup dan matinya bisnis ini merupakan fenomena atas apa yang dinamakan disrupsi. Ingat kan dengan buku Rhenald Kasali yang berjudul "Disruption"? Buku yang diluncurkan pada Februari 2017 ini antara lain banyak mengulas fenomena disrupsi. 

Jatuhnya incumbent bisnis oleh inovasi terkini yang dilakukan oleh "musuh yang tak terlihat", silent enemy.

Kompasianer bersyukur, bisa membaca tulisan Hilman ini sebagai bagian dari upaya memperkaya diri tentang disrupsi yang ternyata bisa saling bunuh, meski tak jarang ada juga yang justru menjadikannya sebagai alasan untuk membuka diri dan berkolaborasi usaha.

Hilman menulis:

"Inilah revolusinya. Dulu, kita bisa memiliki sebuah musik lewat kaset, CD atau MP3. Dokumen musik itu kita beli dan simpan. Padahal musik itu life cycle dan popularitasnya singkat, kita tak dengarkan terus-menerus.

Lalu, apakah konsumen merasa harus memiliki dokumen musik? Apakah kalau dokumen musik itu tidak kita beli, maka harganya bisa lebih murah? Bisakah kita hanya membeli 'waktu dengar' saja agar harganya lebih rendah? Ternyata bisa! Musik bisa jadi sesuatu yang tidak harus dimiliki.

Disrupsi, sejatinya adalah proses. Ia juga revolusi. Teorinya diperkenalkan oleh Clayton M Christensen pada 1997. Selain itu, disrupsi itu pun sama dengan inovasi, misalnya menggantikan teknologi masa lalu yang serbafisik dengan teknologi digital dan sebagainya. Pemikiran ini pun Hilman rancak sekali menuliskannya:  

"Dilema yang tak kalah besarnya adalah: bila perusahaan mencegah merilis inovasi yang bisa mengkanibal produk dan model bisnisnya sendiri, maka hanya persoalan waktu muncul pihak lain yang melakukannya.

Pihak lain itu tak hanya kompetitor, tapi juga entitas bisnis baru di luar industri. Siapa yang menyangka bahwa konglomerasi bisnis raksasa taksi se-Indonesia terancam bangkrut oleh seorang Nadiem Makariem (founder GoJek) yang namanya tidak pernah dikenal sebelumnya dalam industri transportasi?

Siapa mengira ojek yang tak pernah diperhitungkan keberadaannya dalam kompetisi bisnis transportasi tiba-tiba bisa membuat industri taksi bernilai triliunan gonjang-ganjing?

Hilman mengakhiri tulisannya dengan paragraf apik. Ia mengingatkan:

"Menghambat, mengancam dan membredel inovasi hanya langkah sementara untuk menunda kekalahan. Semua hanya soal waktu. Sementara di dunia internet dan teknologi yang tak lagi punya batas negara, perpindahan dan replikasi teknologi itu bisa terjadi dalam sekejap. Bila kita tak memanfaatkannya, maka orang lain yang akan melakukannya.

Setelah Alibaba membeli Lazada Rp 13 triliun tahun lalu, hari ini kita melihat begitu banyak seller dari China yang berjualan di Lazada. Tahun ini kabarnya Amazon akan rilis di Indonesia, dan kita akan segera lihat seller dari Barat ikut mencicipi manisnya triliunan uang kita. Kekalahan itu bukan lagi soal satu-dua pelaku usaha, tapi kekalahan sebuah bangsa.

Bila kita semua berpikir sama dengan cara lama, maka sebenarnya tak ada satupun dari kita yang berpikir.

By the way, sampai 11 Januari 2018, tulisan ini sudah diklik 1358 kali.

o o o O o o o

Screenshot tulisan Hilman Fajrian di Kompasiana.
Screenshot tulisan Hilman Fajrian di Kompasiana.

2. Mengapa Perusahaan Gagal Berinovasi?

Baru membaca judul tulisan ini saja, sudah muncul hasrat untuk membacanya. Apalagi, ketika Hilman mengawali naskahnya dengan sebuah pertanyaan jeli:

"Bila McDonald menemukan bahwa roti prata yang diolah dengan kismis, cabe dan es krim ternyata jauh lebih lezat dibanding Big Mac, apakah mereka akan menjualnya?

Sebagai penggemar Big Mac, saya pasti akan protes kalau menu ini dicoret McDonald. Tapi, bukan urusan sajian burger "bertingkat" itu yang jadi fokus Hilman. Melainkan sekadar memberi gambaran bahwa inovasi bisnis itu perlu. Inovasi yang ditingkahi risiko usaha tinggi untuk sampai pada tahap bagaimana mampu melahirkan produk-produk kreatif dan inovatif.

Dalam bahasanya yang tegas tanpa tedeng aling-aling, Hilman mengungkapkan: 

"Mengapa perusahaan gagal berinovasi? Karena makin kaya Anda, makin pula Anda takut mengambil risiko. Anda takut gagal dan jadi miskin. Bila Anda miskin dan kelaparan, pilihan Anda makin sedikit dan siap untuk gagal mencoba ketimbang mati.

Itu sebabnya banyak kisah sukses seseorang yang pernah mengalami keterpurukan hebat dalam hidupnya -- karena ia tak punya pilihan selain mencoba dan gagal tampaknya tidak terlalu buruk. Steve Jobs punya nasihat fenomenal:stay hungry, stay foolish.

Di perusahaan besar dimana para pemegang saham dan eksekutif sudah kaya raya, tim inovator yang dulu membuat mereka tajir telah lenyap. Perusahaan berjalan secara auto pilot. Yang mereka lakukan sehari-hari hanya merepetisi yang itu-itu saja.

Ada semacam keyakinan bahwa tugas utama orang-orang dalam perusahaan besar adalah melanjutkan kebesaran itu sendiri. Kenyamanan seperti ini membuat perusahaan besar lebih sering mengekor dibanding mencipta. Mereka baru panik ketika penerimaan dan laba berguguran. RIM, Kodak, Olympus, Nokia, Sunoco, JC Penny, McDonalds adalah beberapa contohnya.

Tulisan Ekonomi kedua Hilman pada 23 Mei 2017 ini seolah menjadi sambungan atas tulisan sebelumnya yang berjudul Dilema Inovasi dan Kekalahan Sebuah Bangsa. Benang merahnya tetap sama, yaitu "Disruption" yang ujung-ujungnya adalah inovasi juga.

Masalahnya, tidak semua pimpinan perusahaan sadar untuk melakukan inovasi. Padahal, zona aman yang meninabobokan mudah runtuh akibat "lawan-lawan yang tak terlihat" dan menguasai "pasar yang baru". Incumbent kolot seperti ini yang hendak dipecut Hilman. 

Makanya, ia menuturkan 3 hal penting untuk melandasi semangat berinovasi: Motivasi, Kultur dan Keberanian.

Diantara "Keberanian" yang dimaksud sudah barang tentu keberanian juga untuk mengucurkan dana demi melindungi usaha agar jangan sampai diserang (disrupted). Hilman menulis:

"Mendanai inovasi artinya membiayai sebuah perjalanan mencari keberuntungan. Itulah sebabnya kita melihat perusahaan-perusahaan baru startup bisa melejit begitu dahsyat dan mampu mematikan perusahaan besar hanya 'dalam semalam'.

Karena mereka punya sesuatu yang tidak dimiliki perusahaan besar: anak-anak muda yang lapar dan berani. Mereka bersedia menjelajahi yang tak pasti demi mendapatkan keberuntungan -- karena gagal merupakan sesuatu yang bisa diterima.

Mereka tetap menjaga ukurannya tetap kecil, memulai sesuatu dari yang kecil, tetapi bisa membesar dengan sangat cepat. Patron mereka adalah Google, Facebook, Amazon, Apple, Uber -- perusahaan-perusahaan yang menjadikan keberanian dalam berinovasi (dan berbuat kesalahan) sebagai bahan bakar utama.

Role model bagi generasi ini bukan lagi Caltex, P&G, DuPont, Shell, British Petroleum, Unilever, atau Coca Cola -- nama-nama merk yang sudah tergeser dalam peringkat 5 besar brand dengan nilai tertinggi di dunia digantikan oleh para perusahaan teknologi hanya dalam waktu 5 tahun.

Berapa kali tulisan ini sudah dibaca orang? Per 11 Januari 2018, mencapai 1813 klik.

o o o O o o o

Screenshot tulisan Hilman Fajrian di Kompasiana.
Screenshot tulisan Hilman Fajrian di Kompasiana.

3. Mengapa Usaha Kreatif Gagal dan Pendekatan Baru Mengatasinya

Saya tuh suka beli Tabloid Kontan. Laporan Utama dan Reportase selalu saya baca karena mendalam dan ditingkahi dengan bahasa yang enak dibaca. Jumputan kata-katanya kadang memperkaya kosakata. Gaya jurnalisme seperti ini saya suka, karena berhasil menyederhanakan istilah ekonomi yang biasanya sulit. Selain itu, rubrik Refleksi juga tak pernah ketinggalan saya lahap. Banyak pelajaran yang dituliskan praktisi, pakar dan tokoh ternama. Saya banyak mempelajarinya.

Nah, pada kurasi tulisan Ekonomi ketiga karya Hilman Fajrian, saya menemukan hal yang sama. Tulisan yang diunggah pada 24 Mei 2017 ini, tema strategi pemasaranlah yang saya pelajari. 

Baca saja sekali lagi judul artikel yang sebenarnya bisa dijadikan dua naskah ini: Mengapa Usaha Kreatif Gagal? Hilman membedah persoalan yang masih membelit usaha kreatif. Menariknya, ia menyodorkan fenomena bahwa bisnis kekinian harus menganut falsafah kekinian juga. Contoh, nasehat Bob Sadino dalam berbisnis, tak selamanya peka dengan problema masa kini.

Hilman mengatakan:

"Setiap nasehat punya masanya masing-masing. Lebih dari itu: kita perlu metode yang sesuai dengan kenyataan yang kita hadapi, bukan jargon."

Bahagian berikutnya, Hilman membeberkan 8 pendekatan baru untuk mengatasi kegagalan usaha kreatif. Berikut, adalah saripati petuah-petuah tersebut:

a. Memulai Dari Pertanyaan.

Setiap bisnis hanya punya satu kesempatan emas untuk menciptakan sebuah produk yang superior sebelum akhirnya mereka kehabisan uang

b. Costumer Centric

Setiap pedagang harus punya satu obsesi, yakni obsesi pada pelanggannya. Doktrin ini merupakan hukum besi dalam bisnis. Tapi sangat tidak mudah melakukannya. Pencipta seringkali merasa superior atau paling tahu.

Bila kelak produk kreatifnya gagal, dengan mudah mereka menyalahkan konsumen yang dianggap bodoh atau kompetitor yang jahat. Atau menyalahkan Jokowi.

Di sisi lain, menebak selera pasar bukan sesuatu yang mudah. Tapi sangat mungkin dilakukan. Namun tak mungkin kita bisa menebak selera pasar dan mengujinya bila di awal kita sudah merasa punya jawaban yang benar dan pelanggan harus ikut dengan jawaban kita itu. Jadi, lagi-lagi kita harus beranjak ke pertanyaan selanjutnya: apakah produk yang saya ciptakan ini sesuai dengan keinginan konsumen?

c. Purwarupa

Akui saja, setiap kita yang berbisnis pasti diawali dari sebuah tebakan akan selera pasar. Tapi kita seringkali -- bila tidak selalu -- menindaklanjutinya dengan pertaruhan. Kita menganggap jawaban kita pasti benar.

Sehingga yang kita lakukan selanjutnya adalah memproduksi dan merilis produk hasil tebakan itu dalam jumlah yang langsung besar dan melempar ke pasar. Anda bukan tiket lotere, maka anda harus berhenti melakukan pertaruhan model ini.

Dengan membuat purwarupa, kita sudah berhasil menghindari pemborosan amat besar memproduksi sesuatu yang tak pasti dan tak teruji. Tujuan purwarupa kita adalah untuk menguji reaksi target konsumen.

Ini sama sekali bukan survei pasar ketika anda datang ke calon pelanggan dan membawa kertas checklist lalu bertanya apa yang mereka inginkan. Tidak. Ini sesuatu yang riil yang berasal dari hipotesis anda sendiri.

d. Batch Kecil

Anda ingin berdagang kuliner dan merasa resep rahasia sayur lodeh nenek buyut anda begitu dahsyatnya. Maka anda ingin bangun restoran. Anda tak mau kecil-kecilan dulu, maunya langsung besar (gengsi dong kalau kecil). Minimal 10 meja. Anda perlu modal besar yang tak anda miliki. Maka anda pergi ke bank dan 'menyekolahkan' sertifikat rumah. Restoran berdiri, pengunjung sepi, setahun tutup, rumah hilang. Terdengar familiar?

Hilman punya cerita tentang kisah sukses sahabatnya. Begini.

Saya punya teman sejak SMA, Umy Novita namanya. Dulu ia bekerja sebagai staf di sebuah sekolah internasional di Balikpapan. Suatu hari ia keluar karena ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga dan memulai usaha sendiri. Umy pandai membuat kue.

Ia menerima banyak pesanan kue yang dipromosikan dari mulut ke mulut atau media sosial. Ia tak punya toko kue, semuanya dikerjakan di rumah dan dibantu oleh keluarga. Kue yang ia buat hanya berdasarkan pesanan. Merk usahanya bernama Bakul Wadai (Bahasa Banjar: kue).

Tiba hari dimana Umy melakukan lompatan: menjual burger sebagai produk khas. Merknya Burger "Si Lamak" (Bahasa Banjar: gemuk). Usahanya tetap home kitchen dan memproduksi sesuai pesanan. Sampai suatu saat pesanan begitu banyaknya dan konsumen makin menuntut adanya kios. Akhirnya dia menyewa sebuah kios kecil di sentral kuliner di Balikpapan.

 Dari hanya 1 menu burger, kini Umy punya beberapa model burger yang ia hadirkan secara bertahap. Bisnisnya ramai. Dan kini Umy meningkatkan lagi usahanya dengan usaha roti di luar burger, tapi masih home kitchen. Umy memang belum bisa beli mobil sport 7 buah dari hasil usahanya. Tapi Umy sukses menumbuhkan usaha kreatifnya secara sehat dan punya daya tahan.

e. Mulai Dari Yang Sederhana

Apa yang dilakukan Umy mencontohkan, memulai bisnis dengan produk yang sederhana, tapi bisa memecahkan masalah dasar. Namun produk dasar itu bisa terus dikembangkan secara bertahap. Orang ingin burger, ya dikasih burger. Tidak neko-neko. Tidak diberi kemasan mahal nan cantik berharga mahal. Tidak pakai bendera burger.

Tidak pakai kartu nama. Tidak pakai segala yang tidak perlu untuk memecahkan masalah dasar akan kebutuhan burger yang enak. Dengan demikian ia bisa menekan biaya yang otomatis mendapatkan laba yang baik. Produk seperti ini dinamakan minimum viable product (MVP); produk yang bisa memecahkan masalah dasar dan bisa terus dikembangkan. Tujuan utama MVP adalah memulai proses belajar, bukan mengakhirinya.

Metode ini juga kontra intuitif karena biasanya pencipta ingin barangnya langsung sempurna ketika sampai di pasar. Pengusaha punya visi yang membayangkan produknya berkualitas begitu tingginya hingga bisa mengubah dunia, buka coba-coba. Padahal, produk yang ia anggap sempurna itu belum tentu berhasil di pasar. Tak hanya itu, membuat produk sempurna akan membutuhkan waktu, tenaga dan uang sangat besar. Yang ketika gagal, bayangkan pemborosan yang dihasilkan.

f. Banting Setir

Banting setir atau pivot adalah koreksi arah yang terstruktur untuk menguji hipotesis fundamental baru tentang produk, strategi, dan mesin pertumbuhan. Bisnis yang produktif bukanlah yang banyak mengeluarkan barang atau fitur baru. Tapi yang mampu menggiring pekerjaannya menjadikan bisnis yang terus tumbuh. Dengan kata lain, banting setir dengan benar adalah keterampilan esensial untuk menciptakan usaha yang berkesinambungan. Seringkali, dalam banting setir ini kita mesti kembali ke langkah nomor 1 atau 2.

Harus diakui banting setir membutuhkan keberanian, terutama bila produk kita sebelumnya sudah sukses bertumbuh. Tak hanya harus keluar dari zona nyaman, tapi kembali dihadapkan pada sesuatu yang tak pasti. Sementara bertahan dengan produk yang sudah habis siklus hidupnya atau purwarupa yang gagal, hanya akan mengantarkan kita kepada kematian usaha dan kerugian lebih besar.

g. Tumbuh dan Ukur

Bisa jadi ini pekerjaan yang paling membosankan, paling rumit, tapi sekaligus paling penting. Bila tak bisa diukur, berarti bukan bisnis. Bisnis selalu harus bisa diukur dan dihitung. Kita jelas punya target usaha di awal, tugas kita selanjutnya adalah mendekatkan nilai riil yang kita dapat dengan nilai ideal (target) yang kita tetapkan di awal. Acuannya hanya 3: Pertumbuhan, Kecepatan, dan Efisiensi.

Mulailah dengan target pertumbuhan, jangan kuantitas. Bila memulainya dengan angka volume, maka kita akan terjebak dalam batch besar. Yang penting adalah usaha yang bertumbuh, dan pertumbuhan itu terjadi dalam kecepatan yang tepat.

Salah satu cara meningkatkan laba adalah menekan biaya. Upaya menekan biaya harus menjadi pekerjaan yang berkelanjutan. Tak hanya menyingkirkan biaya yang tak berdampak langsung pada keberhasilan produk, tapi juga memaksimalkan hasil pada setiap sumberdaya yang kita miliki. Misal, kita bisa mengganti kemasan produk yang lebih efisien tapi tak mengurangi nilai di mata konsumen. Atau, bila kita memiliki anggaran beriklan di media, kita bisa menghapusnya dengan cara memanfaatkan dan mengoptimasi media sosial.

h. Daya Tahan

Pebisnis kecil juga seringkali hanya sibuk dengan hari ini, tapi tidak memetakan apalagi merancang masa depan. Proyeksi bisnis paling jauh yang biasa kita buat adalah ketika mencapai titik impas, 2-3 tahun. Kita seringkali tidak bertanya apa yang terjadi dengan bisnis kita 10 tahun mendatang? Pertanyaan ini sulit dijawab, tapi mudah dikhayalkan.

Ingat selalu bahwa kita ingin membangun usaha yang berkesinambungan, bukan yang 1 tahun tutup. Untuk mencapai kesinambungan dan kelanjutan itu, kita mesti punya visi kuat sebagai bekal menciptakan nilai. Contohlah Dagadu. Kaos mereka dibajak habis-habisan. Dagadu marah, tapi tidak bangkrut, makin hari makin maju. Karena daya tahan mereka tidak terletak pada kata-kata atau kualitas kaos -- sesuatu yang sangat mudah direplikasi. Tetapi dari daya kreativitas yang mengantarkan nilai dan pengalaman yang tak bisa diberikan para pengekor. Anda tak bisa mencontek daya kreatif, karena ia bermula dari visi kuat, penempaan dan pembelajaran yang terus-menerus. Tak ada mesin yang bisa mereplikasi itu semua.

Sampai 11 Januari 2018, tulisan strategi pemasaran ini sudah dibaca 1030 kali. Semoga banyak yang sukses usahanya sesudah pembaca meresapi dan mempraktikkan ilmunya.

o o o O o o o

Screenshot tulisan Hilman Fajrian di Kompasiana.
Screenshot tulisan Hilman Fajrian di Kompasiana.

4. RIP Yahoo: Tak Ada yang "Too Big To Fail"

Swear, ini tulisan Ekonomi paling nge-boom sepanjang 2017 di Kompasiana. Bukan cuma judulnya yang eyecatching tapi juga content mendalam yang mengupas Yahoo sejak kelahiran, masa gemilang, hingga masuk kamar operasi dan terbukti sekarat.

Kenapa saya bilang nge-boom, tengoklah pembacanya yang sampai 11 Januari 2018 sudah menembus 6 digit atau 172161 views. Bahkan COO KompasianaIskandar Zulkarnaen pun ikut menge-share di laman Facebook-nya.

Hilman mengawali tulisannya dengan penuh rasa empati kepada Yahoo:

Tak ada alasan tak berterima kasih kepada Yahoo. Yahoo adalah pusat gravitasi di masa-masa awal bisnis internet merebak tahun 1990-an. Karena Yahoo, kita mengenal email, chat room, dan mesin pencari. Perusahaan yang didirikan Jerry Yang dan David Filo ini adalah salah satu katalis terbesar dot com booming (dan bubble) di akhir 1990-an yang dampaknya kita rasakan hingga saat ini. Sekarang Yahoo sudah selesai. Dijual $ 4,48 miliar kepada Verizon, jauh meninggalkan valuasinya di masa keemasan senilai lebih dari $ 100 miliar. Sang pelopor akan berganti nama menjadi Altaba, sebuah merek perusahaan holdingmilik Alibaba di mana Yahoo memiliki 15% saham di sana.

Mengapa Yahoo sampai pada kondisi 'Nyahoo'? Inilah fase-fasenya seperti dijelaskan Hilman:

* Terdisorientasi oleh uang.

* Krisis identitas.

* Hilangnya hacker-culture.

* Kegagalan di era smartphone.

* Menularkan kegagalan.

Akhirnya, Hilman hanya bisa mengingatkan agar siapa saja, pelaku usaha baik besar maupun kecil, mapan maupun yang masih beralaskan papan, harus ancang-ancang sesegera mungkin melakukan inovasi. Lagi-lagi, kita ketemu kata kuncinya yaitu fenomena "Disruption".

Buku tentang perjuangan Marissa Mayer menyelamatkan YAHOO! (Sumber: getabstract.com)
Buku tentang perjuangan Marissa Mayer menyelamatkan YAHOO! (Sumber: getabstract.com)

Pada bagian akhir tulisannya, Hilman bertutur:

Kita tak hanya harus berterima kasih kepada Yahoo karena telah memperkenalkan kita kepada internet. Namun juga memetik pelajaran tentang ilusi kesuksesan yang mampu meruntuhkan sebuah kerajaan besar internet yang menjadi pusat gravitasi pada suatu masa. Ilusi ini bahkan bisa hinggap dan membunuh sebuah perusahaan teknologi yang secara alamiah berdiri di atas semangat inovasi. Kita tengah menyaksikan sebuah perusahaan teknologi paling inovatif pada masanya harus mati karena mereka gagal berinovasi, lengah, pongah, dan menganggap dunia ini statis. Dunia berubah, dan Yahoo tidak.

Lalu, bagaimana dengan perusahaan yang malah tidak mau berinovasi? Bila Yahoo bisa mati, begitu pun semua perusahaan di dunia ini. Sony, Kodak, Nokia, RIM, Panam, sampai Lehman Brothers, pastilah setuju.There is no such thing as too big to fail in a free market.

o o o O o o o

5. Setiap Usaha Perlu "Growth Hack"

Tulisan ini merupakan bukti profesionalisme Hilman sebagai konsultan dibidang media plus pemasarannya. Selain, ia banyak juga meluangkan waktu untuk "ngamen" ke sana-sini sebagai konsultan kehumasan.

Di Balikpapan yang merupakan kota dengan biaya hidup termahal se-Indonesia, Hilman berkonsentrasi sejenak melalui tulisan ini, dengan melihat trend penggunaan alokasi APBD. Tentu dikaitkan dengan sisi pemanfaatan media massa dan ruang publik.

Bacalah paragraf awal tulisan yang diunggahnya pada 16 November 2017, dan sudah mengantongi views per 11 Januari 2018 sebanyak 1965 klik.

Di awal 2000-an otonomi daerah di Indonesia dimulai. Daerah tak hanya punya uang APBD lebih banyak, tapi Pemda juga memiliki juga keleluasaan dalam menentukan dan mengelola anggaran dibanding era sebelumnya. Salah satu pos anggaran yang diperbesar adalah kegiatan kehumasan. Pemda jadi rajin beriklan khususnya di media cetak, baik dalam bentuk iklan display (seperti iklan ucapan selamat) atau advertorial (berita bersponsor).

Perusahaan koran sebelum era reformasi yang giat berekspansi ke daerah adalah Jawa Pos Grup (JPG). Terutama dilakukan dengan cara mengakuisisi koran-koran kecil di daerah. Ketika otonomi daerah dimulai, koran-koran lokal JPG mendapatkan pemasukan yang besar dari anggaran kehumasan Pemda. Tapi bukan itu yang terpenting. Melainkan ditemukannya sebuah model bisnis baru dan growth hack dalam bisnis koran yang mengubah peta industri media di Indonesia.

Screenshot tulisan Hilman Fajrian di Kompasiana.
Screenshot tulisan Hilman Fajrian di Kompasiana.

Apa sih urgensinya growth hack? "Karena setiap orang ingin usahanya tumbuh dengan cepat," tukas Hilman. Masalahnya, cara pemasaran mainstream sudah jenuh. "Kita beriklan, jutaan orang lain juga beriklan. Kita memberi diskon, semua juga begitu. Kita menjual harga murah, penjual lain bisa lebih murah. Cara mainstream ini adalah area yang sangat padat, brutal, dan berdarah-darah. Red ocean. Kalau kita melakukan cara yang sama, hanya akan menambah satu darah lagi. Bicara soal iklan, iklan hanyalah accelerator, bukan asal pertumbuhan. Bila kita mengandalkan iklan untuk tumbuh, berarti ada yang salah," terangnya.

Setiap usaha pasti memiliki model bisnis. Namun setiap usaha yang sukses pasti telah mengujicoba berbagai model bisnis sampai akhirnya mereka sukses menemukan salah satu yang tepat. Dalam model bisnis kita menentukan mesin pertumbuhan.

Setiap bisnis adalah perjalanan dan pembelajaran. Temukan growth hack Anda. Jangan pernah takut mengubah atau memodifikasi model bisnis dan mesin pertumbuhan. Jadilah first mover dalam growth hack Anda sendiri. Jangan takut berpikir berbeda. Percayai apa yang Anda mau percayai meski itu bertentangan dengan keyakinan umum. Seringkali ide yang terbukti paling sukses adalah ide yang awalnya dianggap paling konyol.

o o o O o o o

Hilman Fajrian (kanan) dan kutipannya. (Sumber: Facebook Hilman Fajrian)
Hilman Fajrian (kanan) dan kutipannya. (Sumber: Facebook Hilman Fajrian)

Okelah, kalau ada yang mengoreksi bahwa gelar "Rhenald Kasali" Kompasiana dianggap terlalu prestisius untuk seorang Hilman, ya monggo saja. Tapi, kalaulah ingin dikoreksi, maka pendulumnya justru beralih ke sosok Goenawan Mohamad, penulis Caping alias Catatan Pinggir di Majalah Tempo. Walaaahhh ... kok jadi makin semua orang-orang hebat diborong sama Hilman?

Begini jawabannya.

Pernah dalam satu kesempatan, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa tulisan esai Capingnya adalah karena hendak mengajak orang atau pembaca untuk berpikir. That's it! Ini juga toh yang menjadi ciri khas tulisan-tulisan "Sang Fajar". Hampir semua tulisan Hilman membuat kita semakin mengasah pikir. Memikirkan guliran ide-ide yang dituangkannya, sampai memikirkan Hilman ini makanan pokoknya apa sampai-sampai ia bisa menulis se-ciamik begitu. Hahahahaaa ... kidding!

Hal lain, Goenawan Mohamad juga pernah mengaku bahwa beliau acapkali mengutip sejumlah buku. Bukan untuk supaya tulisannya kelihatan gagah-gagahan, tapi karena waktu Caping dibuat, banyak buku-buku bagus yang masuk ke Indonesia. Ada semangat Goenawan Mohamad untuk mengajak orang mencari dan membaca buku-buku bagus tersebut. Nah, setali tiga uang dengan Hilman. Banyak tulisannya yang diperkaya dengan kutipan bermutu sesuai konteks yang ditulisnya. Sepertinya, "Sang Fajar" memang seperti "Mentari". Meski tak pernah diminta untuk memberi cahaya dan hangatnya sinar surya, tetapi selalu saja "Mentari" memberi tanpa perlu merasa itu adalah "gagah-gagahan" atau menunjukkan level intelektualnya.

Yup, kita sudahi kurasi ini. Ngeri, Hilman Fajrian sudah siap meng-copy paste link tulisan ini dan segera ia akan sebarkan ke seantero negeri.

Tabik.