Gapey Sandy
Gapey Sandy Writer, Blogger, Vlogger, Reporter, Keblinger, Mblenger

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Wanita Artikel Utama

Harum Sagon Bakar, Harum Kota Tangsel

11 November 2017   08:23 Diperbarui: 12 November 2017   05:47 1354 10 3
Harum Sagon Bakar, Harum Kota Tangsel
Proses pemanggangan Sagon Bakar di kediaman Irma Husnul Hotimah. (Foto: Gapey Sandy)

Sagon. Siapa sih yang enggak kenal panganan ini. Cita rasanya gurih dan lezat dengan tekstur yang tidak lembut. Maklum, Sagon termasuk dalam daftar kue-kue kering.

Setiap kota, kiranya punya produk panganan Sagon sendiri-sendiri. Di Padang ada. Yogyakarta ada. Palembang ada, Medan ada, Betawi pun ada. Dimana-mana ada. Ya, termasuk Sagon yang diproduksi di Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Salah seorang yang memproduksi Sagon di Tangsel adalah Irma Husnul Hotimah. Panggil saja Irma, toh usianya masih lebih muda dari saya. Uuuupppssss, jadi ketahuan deh umur saya, hahahaaa...

Bukan sembarang Sagon yang diproduksi Irma. Ibu dari tiga anak ini membuat Sagon Bakar. Memang sih disebutnya "bakar", tapi sebenarnya di-oven alias dipanggang. "Sudah sejak 2012 saya membuat kue. Biasanya kue-kue kering untuk saya jual sendiri ke teman, tetangga dan lingkungan sekitar. Tapi, sejak 2013 saya fokus memproduksi Sagon Bakar ini," ujar Irma ketika saya wawancarai khusus di kediamannya, Kompleks Pamulang Estate, Pamulang Timur, Tangsel, Jumat, 10 November 2017. Eh, pas di Hari Pahlawan yak!

Irma Husnul Hotimah bersama staf pekerja di dapur produksi Sagon Bakar. (Foto: Gapey Sandy)
Irma Husnul Hotimah bersama staf pekerja di dapur produksi Sagon Bakar. (Foto: Gapey Sandy)

Ide membuat Sagon Bakar, ujar Irma, bermula dari upaya untuk memenuhi permintaan pesanan aneka kue kering para pelanggan menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. "Pada momentum itulah saya kemudian membuat camilan tradisional, ya Sagon Bakar. Tetapi saya melakukan inovasi dengan mengganti bahan dasar pembuatannya yakni menggunakan Kelapa Muda. Ternyata, justru anak-anak kecil pun suka sekali dengan rasanya. Jadi ide awalnya adalah hasil pemikiran saya sendiri untuk bagaimana caranya tetap bisa memproduksi kue kering tradisional dengan jumlah pesanan yang bisa menyamai ketika moment menjelang Lebaran," cerita Irma sembari mengajak saya blusukan di dapur produksinya.

"Saya pilih Sagon Bakar karena juga resep tradisional warisan keluarga 'loch. Saya ingin mengembangkan kue-kue kering tradisional yang maunya saya, tidak kalah set dengan kue-kue kering produk luar negeri," bangga Irma.

Dapur produksi? Eits ... jangan salah kira ya. Dapur produksi yang dimaksud bukan pabrik 'gitu loh. Ini dapur rumah Irma sendiri sebenarnya. Tetapi, luas dan punya space khusus untuk memproduksi Sagon Bakar. Dapurnya resik, bersih. Hawa panas dari oven yang bekerja tidak terlalu menyengat. Maklum, di sisi dapur produksi, Irma punya halaman terbuka dengan rerumputan hijau yang begitu asri. Tak aneh, saya sendiri yang sebenarnya tidak biasa ngendon di dapur, malah jadi betah... eeaallaaaahhh. Maksudnya jadi nyamanlah di dapur produksi Sagon Bakar ini.

Irma Husnul Hotimah menunjukkan proses laminating aluminium foil. (Foto: Gapey Sandy)
Irma Husnul Hotimah menunjukkan proses laminating aluminium foil. (Foto: Gapey Sandy)

Ada tiga pekerja pembuat Sagon Bakar yang sedang sibuk bekerja dengan tangan-tangan terampilnya. Mereka mengenakan sarung tangan dan penutup rambut di kepala. Ini mengartikan Irma benar-benar peduli, care banget soal jaminan mutu, higienitas produksi mulai dari pengolahan bahan-bahan dasar sampai matang siap saji atau dipasarkan. Tuh, catet yaaa ... keamanan pangan dan higienisitas terjamin.

"Sejak fokus memproduksi Sagon Bakar, saya banyak mendapat bimbingan, pelatihan, dukungan juga alat bantu produksi dari Pemkot Tangsel. Sehingga Alhamdulillah bisa berkembang dengan sangat baik sampai sekarang ini," ujar Irma kalem.

Bahan-bahan dasar pembuatan Sagon Bakar gampang diperoleh. Mulai dari Kelapa Muda, sagu, mentega, telur, gula pasir dan keju.

"Kenapa harus Kelapa Muda 'sih?" selidik saya.

"Kalau kelapa muda itu halus, jadi tidak terasa sekali tekstur kasarnya. Ternyata, anak kecil pun juga malah menyukai Sagon Bakar dengan Kelapa Muda ini. Padahal biasanya, anak-anak kecil kurang begitu suka dengan rasa kelapa apalagi kalau teksturnya kasar," jelas Irma seraya menekankan bahwa Sagon Bakar home made-nya tidak menggunakan Kelapa Gongseng.

Cara pembuatannya, Irma menerangkan, dibuat lebih dulu adonan yang merupakan pencampuran antara parutan Kelapa Muda, mentega, sagu, telur dan gula pasir. Adonan ini kemudian dicetak dengan bentuk bulat-bulat berdiameter 4 cm, lalu dipanggang selama 20 menit. Suhunya berbeda, oven sisi atas 150 derajat Celsius, dan sisi bawah 100 derajat saja. Kelar itu, ya mulailah pengemasan, packaging.

Staf pekerja di dapur produksi Sagon Bakar. (Foto: Gapey Sandy)
Staf pekerja di dapur produksi Sagon Bakar. (Foto: Gapey Sandy)
"Membuat adonannya sama seperti membuat kue kering biasa. Adapun oven sisi atas memang harus lebih panas setelannya dibandingkan dengan sisi bawah, karena oven sisi atas adalah untuk mematangkan Sagon Bakarnya. Hati-hati, kalau ada perubahan setelan suhu oven bisa-bisa Sagon Bakarnya nanti malah tidak matang pada sisi bagian dalamnya," tukas Irma yang mengenakan setelan blouse dan jilbab merah hati ini.

Dalam sehari, Irma biasa memproduksi Sagon Bakar hingga 15 kg. "Dengan catatan, ini adalah produksi rutin harian biasa, tanpa adanya pesanan-pesanan dalam jumlah khusus dari pelanggan. Jumlah produksi harian sebanyak 15 kg ini sama dengan kira-kira 100 kemasan. Catatannya, kami punya beberapa kemasan produk, mulai dari bentuk sachet, kaleng dan kotak karton besar. Untuk yang kotak besar itu, biasanya difungsikan pelanggan sebagai souvenir atau oleh-oleh khas Tangsel," tuturnya.

Untuk tipe sachet dengan bahan kemasan aluminium foil yang isinya dua keping memang dikhususkan menyasar jejaring pemasaran ke kafe, salon, pesanan isian snack box, juga warung-warung. Bahan kemasa aluminium foil yang kemudian di-laminating sengaja dipilih karena aman, tidak berlubang, kedap udara dan kelembaban, menjamin kualitas keamanan pangan, tdiak mengubah cita rasa, dan yang pasti membuat masa kadaluwarsa (expired date) Sagon Bakar pun jadi lebih tahan lama. "Saya pernah uji sendiri, masa kadaluwarsa itu bisa sampai satu tahun. Tapi biasanya di kemasan saya mencantumkannya dengan durasi enam bulan saja," ujar Irma.

Adapun kemasan box ukuran besar (250 gram) berisikan 15 keping Sagon Bakar yang tersedia dengan tiga rasa sekaligus. Untuk kemasan kaleng 200 gram bisa dipilih salah satu dari tiga rasa yang tersedia. Juga kemasan box ukuran kecil (85 gram) yang biasa dipesan atau dibeli pelanggan untuk souvenir.

Menjadi salah satu produk unggulan oleh-oleh khas Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)
Menjadi salah satu produk unggulan oleh-oleh khas Tangsel. (Foto: Gapey Sandy)

Dalam hal pemasaran, ternyata Sagon Bakar sudah meruyak kemana-mana. Termasuk dijual juga oleh beberapa swalayan ternama seperti misalnya di gerai Total Buah, Living World, Resto Lubana Sengkol, Telaga Seafood, Dapur Betawi Pondok Cabe, Resto Babeh Sadeli, Apartemen Kuningan, juga Resto Bubur Tinutuan di Wakeke, Manado.

Tidak hanya itu, Sagon Bakar bahkan terpilih untuk masuk dalam katalog maskapai penerbangan kebanggaan bangsa, Garuda Indonesia Airways.

"Ya, selain itu kami juga punya banyak reseller di berbagai wilayah, termasuk yang dijual ke Australia. Kebanggaannya, Sagon Bakar ini pernah diikutsertakan ketika Pemkot Tangsel membuka penjajakan kerjasama perdagangan dengan Pemerintah Jerman." ungkapnya senang.

Wowwww... Sagon Bakar Tangsel sudah merambah pasar global. "Hahahaaa... tapi saya enggak tahu menahu, reseller yang menjualkannya. Saya enggak tahu-menahu soal penjualan ekspor Sagon Bakar itu," ujar Irma seraya menderai tawa.

Jadi penasaran ya, Irma dapat uang berapa dari hasil jualan Sagon Bakar ini, hahahaaa...

Syukurlah, Irma mau buka sedikit rahasia pundi-pundinya.

"Kalau pukul rata-ratanya, dengan produksi rutin biasa sebanyak 15 kg per hari, saya dapat mengantongi penghasilan sebesar Rp 15 juta per bulan," jujurnya.

Sejauh ini, Sagon Bakar produksi Irma punya empat varian rasa: Mocca, Green Tea dan Original. Satu rasa lagi adalah Anti Oksidan Tanpa Gula, tapi untuk sementara produk yang satu ini masih diproduksi secara terbatas. "Kedepannya saya siap untuk meluncurkan inovasi dua varian baru yakni rasa Kurma, juga Kenari," tutur perempuan berdarah Betawi dan Palembang ini.

Jadi jangan ngarep ada varian Sagon Bakar rasa Sayang-sayang'e lochya, hehehehee... just kidding.

Irma Husnul Hotimah menyatakan terima kasih kepada Pemkot Tangsel atas dukungan dan pembinaan yang telah dilakukan. (Foto: Gapey Sandy)
Irma Husnul Hotimah menyatakan terima kasih kepada Pemkot Tangsel atas dukungan dan pembinaan yang telah dilakukan. (Foto: Gapey Sandy)

Irma Husnul Hotimah ketika menerima secara simbolis bantuan teknologi berupa alat oven dari ITI, Serpong. (Foto Gapey Sandy)
Irma Husnul Hotimah ketika menerima secara simbolis bantuan teknologi berupa alat oven dari ITI, Serpong. (Foto Gapey Sandy)

Basis Perekonomian Kota Tangsel

Tangsel, akan berhari jadi yang ke-9 tahun, pada 26 November 2017. Kota berslogan CMORE atawa Cerdas Modern Religius ini disebut-sebut menuju Kota Perdagangan dan Jasa. Maklum, basis perekonomian terbesarnya adalah kelompok lapangan usaha sekunder dan tersier. Primernya sedikit sekali. (lihat tabel)

Data BPS Kota Tangsel menyebutkan, kelompok lapangan usaha sekunder terdiri dari lapangan usaha Industri Pengolahan; Pengadaan Listrik, Gas; Pengadaan Air; juga Konstruksi. [Kelompok lapangan usaha tersier menyumbang 26,05% terhadap pembentukan PDRB Kota Tangsel pada 2015]

Sedangkan kelompok lapangan usaha tersier terdiri dari lapangan usaha Perdagangan Besar dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; Transportasi dan Pergudangan; Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; Informasi dan Komunikasi; Jasa Keuangan; Real Estate; Jasa Perusahaan; Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib; Jasa Pendidikan, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial dan Jasa Lainnya. [Kelompok lapangan usaha tersier menyumbang 73,68% terhadap pembentukan PDRB Kota Tangsel pada 2015]

Untuk lapangan usaha primer, jelas sedikit sekali jumlahnya, seperti Pertanian, Kehutanan, Perikanan, Pertambangan dan Penggalian. [Kelompok lapangan usaha primer menyumbang 0,28% terhadap pembentukan PDRB Kota Tangsel pada 2015.]

Struktur Perekonomian Kota Tangsel. (Sumber: BPS Kota Tangsel)
Struktur Perekonomian Kota Tangsel. (Sumber: BPS Kota Tangsel)
Kelompok lapangan usaha tersier terbukti memberi kontribusi yang sangat masif kepada struktur perekonomian Tangsel. Didalamnya, sudah barang tentu ada geliat usaha UMKM, termasuk usaha Sagon Bakar yang ditekuni Irma.

Dari sisi lapangan kerja, Irma sudah membuktikan bahwa ia sanggup merekrut tenaga kerja. "Sekarang sudah ada tiga pekerja. Semuanya saya arahkan bukan semata untuk bekerja di sini saja, tapi demi menyadarkan mereka bahwa anggap saja apa yang dilakukan adalah sebagai bentuk pelatihan. Nantinya, kalau mereka sudah terlatih dan ingin membuka sendiri lapangan usaha yang sama, silakan. Kalau ingin bermitra usaha dengan saya pun, tentu lebih baik lagi," ujarnya sambil menambahkan bahwa jumlah pekerja bisa mencapai lima orang ketika pesanan kue melonjak jelang Lebaran.

Sekarang ini, Irma mengoperasikan dua oven besarnya. Salah satunya menggunakan listrik dan merupakan bentuk dukungan teknologi nyata dan tepat guna dari Institut Teknologi Indonesia (ITI), Serpong. Secara simbolis, Irma menerima oven berukuran besar - yang mampu memuat empat loyang ukuran besar sekaligus - pada acara Expose Hasil Penelitian dan Abdimas ITI 2017 dengan tema Teknologi Tepat Guna untuk Kemandirian Bangsa, pada Rabu, 4 Oktober kemarin.

"Tak hanya bantuan teknologi nyata berupa oven, Kampus ITI juga terus memantau perkembangan usaha saya, termasuk memberikan pembinaan dan pelatihan yang didalamnya ada juga soal teknik pengemasan, keamanan pangan, pemasaran, online marketing dan lainnya," jelas Irma penuh syukur.

Nah 'tuh, hebat ya Irma...

Laju Pertumbuhan Riil PDRB Kota Tangsel. (Sumber: BPS Kota Tangsel)
Laju Pertumbuhan Riil PDRB Kota Tangsel. (Sumber: BPS Kota Tangsel)

Apresiasi Walikota dan Wakil Walikota Tangsel

Kerja keras Irma memang sedikit demi sedikit mulai menorehkan hasil. Perjuangannya untuk fokus menaikkan gengsi Sagon Bakar sebagai camilan tradisional menuju dunia global memang patut diapresiasi. Tak hanya itu, harus juga diteladani dong.

Apresiasi tertinggi sempat Irma saksikan sendiri, muncul dari dua pucuk pimpinan Tangsel. 

"Alhamdulillah, Pemkot Tangsel sudah mempercayakan produk Sagon Bakar ini dan mereka mengatakan bahwa diantara produk andalan Tangsel adalah Sagon Bakar, dan Bir Pletok. Tanggapan dan apresiasi menggembirakan saya terima dari Wakil Walikota Tangsel, Benyamin Davnie. Bahkan Pak Benyamin begitu membanggakan produk Sagon Bakar. Sampai-sampai kalau ada tamu yang berkunjung menemuinya, beliau sendiri yang langsung membukakan kemasannya sambil mempersilakan tamunya mencicipi Sagon Bakar. Sambil mempersilakan  tamunya mencicipi, Pak Benyamin menegaskan bahwa Sagon Bakar adalah salah satu produk unggulan UMKM Tangsel. Benar-benar produksi masyarakat Tangsel. Ini jelas-jelas membanggakan, sehingga saya seperti memperoleh penghormatan yang begitu besar dari beliau," urai Irma sambil berterima kasih kepada Pemkot Tangsel.

Sambutan hangat, lanjut Irma, juga sempat disampaikan Walikota Tangsel Ibu Airin Rachmi Diany, yang menyambut dengan begitu bangga atas kehadiran Sagon Bakar sebagai salah satu produk unggulan oleh-oleh khas Tangsel.

UKM Pangan Award 2016 yang diraih Irma Husnul Hotimah dengan Sagon Bakarnya. (Foto: Gapey Sandy)
UKM Pangan Award 2016 yang diraih Irma Husnul Hotimah dengan Sagon Bakarnya. (Foto: Gapey Sandy)

Inilah Prestasi Irma

Uuupppssss... bukan Sagon Bakarnya aja yang juara! Bahkan sang empunya, Irma -- yang bendera usahanya bernama Leezat Group --, juga sudah banyak memboyong piala penghargaan.

Pada November 2016, Irma didapuk sebagai Juara I tingkat Nasional untuk UKM PANGAN AWARD dengan kategori Makanan Ringan/Camilan Khas Daerah Skala Usaha Mikro-Kecil yang diselenggarakan Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI. Sagon adalah panganan yang banyak tidak disukai orang.

"Waktu itu, saya sempat tanya kepada dewan jurinya, kenapa Sagon Bakar yang terpilih jadi juara. Mereka menjawab bahwa, Sagon Bakar produksi saya ini unik, dan punya cita rasa yang berbeda bila dibandingkan Sagon Bakar lainnya. Selain itu, Sagon Bakar ini dinilai memiliki inovasi aktif yang sangat bagus, termasuk kemasan produknya yang tidak kalah dengan produk-produk Nasional bahkan mancanegara. Dewan juri juga bilang, Sagon Bakar ini mengangkat derajat camilan (snack) yang berasal dari daerah terpencil, menjadi lebih terkenal dan disukai secara meluas," urai Irma coba mengulang pernyataan dewan juri. 

Sedangkan pada 2017, perempuan berusia 42 tahun ini meraih KICI AWARDS sebagai Perempuan Cerdas Indonesia yang diselenggarakan oleh Komunitas Ibu Cerdas Indonesia (KICI).

"Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menteri Sosial. Kriteria peraih award ini antara lain, sosok Ibu Rumah Tangga yang memberdayakan kaum perempuan sekitar. Saya sendiri melakukan pembinaan dan pemberdayaan perempuan di lingkuangan sekitar rumah saya tinggal dengan cara mengajarkan Tata Boga, yang memang sudah merupakan passion saya. Selain bekerja sebagai narasumber bidang Tata Boga untuk Dinas Pemberdayaan Perempuan," ujarnya. 

Salah satu produk unggulan oleh-oleh khas Tangsel, Sagon Bakar. (Foto: Gapey Sandy)
Salah satu produk unggulan oleh-oleh khas Tangsel, Sagon Bakar. (Foto: Gapey Sandy)

Adapun pada Agustus 2017, Irma memperoleh Piala Siddhakarya yakni Penghargaan Kualitas dan Produktivitas dengan kualifikasi Berkinerja Baik Kategori Perusahaan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Banten.

Wowwww... luar biasa!

Jadi, kalau Anda nanti mencicipi Sagon Bakar Kota Tangsel, ingatlah Irma. Ingat perjuangannya menaikkan harkat dan derajat kudapan lokal tradisional, menjadi Nasional, bahkan mengglobal.

Ingat Sagon Bakarnya, Ingat Tangselnya, Ingat Irmanya ...