Mohon tunggu...
Galuh Pramesti Regita Andini
Galuh Pramesti Regita Andini Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Nasional

Seseorang yang gemar membaca dan mengagumi tokoh fiksi.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Ironi Sinetron Indonesia: Mengejar Kuantitas Dibanding Kualitas

19 Juli 2022   10:51 Diperbarui: 19 Juli 2022   10:56 41 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Dunia sudah memasuki era informasi. Seluruh aspek kehidupan manusia tak pernah lepas dari pengolahan, pengiriman, dan penerimaan informasi. Manusia diterpa derasnya arus informasi, perkembangan zaman yang semakin pesat memungkinkan adanya kemudahan dan keterbukaan informasi dalam media, salah satunya melalui media televisi. Televisi merupakan media massa yang banyak digandrungi seluruh lapisan masyarakat mulai dari orang tua, remaja, hingga anak-anak. Meski internet atau sejumlah media lainnya seperti Youtube dan Tiktok mulai diminati orang-orang, televisi tak kehilangan eksitensinya.

Tayangan televisi pada dasarnya dimaksudkan untuk memberi hiburan, informasi hingga edukasi kepada masyarakat. Dengan memadukan audio dan visual dalam tayangan programnya, televisi memungkinkan penikmatnya dapat terbawa suasana, dan bahkan terpengaruhi. Serupa dengan pernyataan Littlejohn dan Foss (2005) bahwa televisi merupakan bagian dari kekuatan lembaga masyarakat, yang memiliki dampak kuat dalam konstruksi realitas sosial dan budaya Dengan kata lain, televisi efektif untuk menyampaikan sebuah pesan dan membentuk pola pikir khalayak.

Namun nyatanya, tak semua program yang ditayangkan oleh televisi layak untuk dinikmati masyarakat, bahkan sebagian dapat dikatakan tidak mengedukasi. Wajar jika hal ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Adapun tayangan yang seringkali disoroti dan mendapat kritik dari masyarakat biasanya merupakan tayangan yang mengandung muatan seksual dan pornografi yang mana dinilai tak layak dan membawa pengaruh negatif bagi masyarakat khususnya terhadap anak-anak. Tak hanya itu, tayangan televisi juga kerap menampilkan adegan kekerasan dianggap bersebrangan dengan jati diri bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah, dan cinta damai.

Tak heran bila program dalam televisi seringkali memicu pro dan kontra di masyarakat, sebab dari program yang ditayangkan dapat menimbulkan dampak baik dan buruk bagi masyarakat.

Dari sisi kategori program, salah satu program televisi yang sering mendapat sorotan dan kritik dari masyarakat umum adalah sinetron. Sinetron sendiri merupakan sinema elektronik atau bisa dikatakan sebagai film bersambung yang umumnya menayangkan dan memotret kehidupan masyarakat sehari-hari dalam bentuk kisah nyata maupun kisah yang didramatisasi (Anwas, 2010). Dalam laman Quora dibuka diskusi dengan pertanyaan "Apa yang ingin kamu kritik dari sinetron Indonesia?" kemudian beberapa masyarakat memenuhi kolom komentar pada pertanyaan ini, salah satunya Muhammad Miftah yang menyampaikan opini dan kritikannya tentang adegan sinetron di Indonesia, "Terlalu banyak adegan kekerasan, kelicikan, bahkan adegan saling menjatuhkan satu sama lain, serta plot monoton dimana protagonis selalu ditindas oleh antagonis. Menurut ane, itu perlu diperbaiki" (Muhammad Miftah, 2021).

Masih dalam forum diskusi yang sama, Emha Daffa mengkritik perihal tayangan sinetron Indonesia yang seharusnya melakukan riset lebih dulu jika ingin menayangkan adegan yang memerlukan pengetahuan khusus atau melibatkan ahli dan suatu profesi. "Bayangin kalo yang nonton itu dokter atau polisi, wah, jelas gak terima mereka. Selain itu, jika ada riset sebelum adegan dan hasilnya lumayan akurat dengan keadaan sesungguhnya, bisa buat menambah pengetahuan masyarakat meski sedikit-sedikit" (Emha, 2021).

Dan benar adanya, seolah tak terima, salah seorang dokter umum Mohammad Caesario turut menyentil dan mengkritik tayangan sinetron Indonesia dalam forum diskusi tersebut, "Seumur-umur saya melakukan defib ke pasien tentu pasien dalam kondisi telanjang dada dan tidak boleh dalam kondisi pakai baju dan di sinetron pakai baju lengkap ini bisa berisiko terbakar dan alat pacu kejut jantung tidak akan berguna sama sekali" (Mohammad, 2020). Mohammad juga mengkritik beberapa kesalahan lainnya seperti pemasangan selang pernapasan yang seharusnya masuk ke tenggorokan tapi malah dipasangkan masker asal-asalan bahkan terbalik, hingga kesalahan adegan kejut jantung pasien yang anehnya bisa langsung sadar dan berdiri.

Melihat banyaknya kritik yang dituai oleh tayangan sinetron Indonesia muncul pertanyaan, mengapa sinetron masih ditampilkan dan tak pernah sepi peminat meski banyak adegan yang dikritik masyarakat? apa yang membuatnya bertahan?. Stevan Lucky (2021) berpendapat bahwa rendahnya kualitas dan buruknya konten justru merupakan tujuan produk, bukan hasil kesalahan. Stevan juga menyatakan bahwa kualitas media nasional yang seperti inilah yang memang disukai sebagian masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dari sinetron yang memiliki rating tinggi adalah sinetron yang menawarkan cerita dan adegan yang bersebrangan dengan adat dan norma yang berlaku (Savitri, 2018).

Pada akhirnya semua demi rating semata, sinetron Indonesia terlihat hanya ingin mencari untungnya saja. Berusaha mengejar kuantitas dan mengabaikan kualitas hingga kini kita kesulitan melihat adanya nilai moral, kelogisan adegan, dan kreativitas dalam sinetron-sinetron Indonesia. Memang tidak mengejutkan, karena tayangan sinetron Indonesia selalu memiliki pola yang khas, yakni jika rating sinetron naik, maka sinetron tersebut akan diperpanjang hingga ratingnya turun (Savitri, 2018).

Dalam diskusi yang digelar KPID Riau 2017 seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau, Darnita, dengan tegas mengungkapkan "Jangan hanya mementingkan rating dan ekonomi serta politik dibelakang layar, sebab korbannya adalah kita semua, yang menikmati media massa" (TEKAD, 2018). Kritikan oleh Darnita adalah benar, terlebih persoalan rating ini juga akan berimbas pada program-program yang sebenarnya penting dan bermanfaat bagi kita, misalnya program pendidikan yang akhirnya menjadi terabaikan dan sepi penikmat. Disinilah peranan KPI dibutuhkan untuk menyaring program televisi yang layak tayang.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan