Mohon tunggu...
Galaxi2014 Okepunya
Galaxi2014 Okepunya Mohon Tunggu...

Galindra Cakra Setiaji , Anak Gunung yang datang ke Ibukota karena ingin melihat Indonesia Lebih Baik Lagi.\r\n\r\nFollow me @Galaxi2014

Selanjutnya

Tutup

Politik

Dalang di Balik ‘Berita’ RIP-Jokowi Adalah PKS dan Voa-Islam?

10 Mei 2014   13:25 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:39 3120 21 32 Mohon Tunggu...

Kebetulan belakangan ini ane lagi sibuk jadi beberapa hari kemaren nggak sempat mampir di Kompasiana. Dan berita 2 hari lalu yang hangat di media yang membuat banyak orang terperangah adalah beredarnya sebuah gambar yang mirip dengan format iklan duka cita di media cetak yang biasanya berasal dari warga Negara keturunan tionghoa yang baru saja ditinggal anggota keluarganya.

Ane yakin bahwa semua pembaca sudah melihat dan membaca‘iklan duka cita’ tersebutdimana didalamnya tertulis, “Telah beristirahat dalam damai, Ir. Herbertus Joko Widodo alias Oey Hong Liong di usia 53 tahun dengan gambar Jokowi disamping kirinya’.Kemudian pada bagian bawahnya tertulis yang berduka ibu Iriana Widodo beserta seluruh keluarga besar PDIP.

Ini hal yang sama sekali tidak lucu dan Ini sungguh keterlaluan.Yang begini sudah termasuk serangan keji kepada karakter Jokowi dan tindakan rasis. Bila menurut Bahasa Inteligen format seperti ini bisa dikatakan sebagai intimidasi kerasatau bisa juga merupakan suatu ancaman pembunuhan kepada tokoh yang dimaksud.

Lebih jauh lagi bahwaserangan-seranganseperti ini sungguh sangat merusak demokratisasi yang sedang kita bangun bersama di negeri ini. Dan yang seperti ini tidak bisa dibiarkan terjadi begitu saja. Harus ada yang melakukan tindakan tegas agar pihak-pihak yang ingin merusak demokratisasi dan berniat merusak NKRI harussegera disingkirkan.

Sudah jelas bahwa iklan duka cita tersebut bermotivasi Intimidasi sehinggayang menjadi pertanyaan adalah, siapa sebenarnyaYang Membuat ‘Pesan’ ini dan siapa Yang Pertama Kali Menyebarkannya?

Sewaktu anemembaca beritanya di kompas 2 hari lalu ane lihat di kolom komentar banyak sekali pendukung Jokowi yang menyangkapendukung Prabowo atau cyber armynya Gerindra yang melakukan hal ini. Tapi saat itu juga ane merasa bukan mereka yang melakukannya. Ada ciri yang bisa dikenal dari penyerang tersebut namun ciri tersebut tidak ada pada cyber army Gerindra.

2 ciri atau hal yang tampak dari pelaku serangan tersebut bisa ditandai dari karakternya :

1.Pelaku sangat membenci Jokowi.Kebencian pelaku ini terhadap Jokowi terlihat begitu dalam. Apapun latar belakang atau alasannya yang jelas sudah cukup lama pelaku ataupun kelompok pelaku ini sangat membenci Jokowi.

2.Pelaku sangat membenci Warga Keturunan Tionghoa.Sifat Rasis dari pelaku ataupun kelompok pelaku sangat terlihat sudah lama menaruh dendam, menaruh kedengkian kepada warganegara keturunan Tionghoa.

Dari 2 karakter tersebutbisa kita lihat format serangan pelaku tersebut adalah mengkombinasikan dua hal yang sangat dibencinya sehingga bisa tercipta kreasi gila dari pelaku maupun kelompok pelaku tersebut . Dan jangan lupa bahwa pelaku maupun kelompok pelaku adalah mereka yang cukup mahir dalam software design computer seperti Corel Draw dan Photoshop.

Dari ciri kedua karakter diatas tidak ada satupun yang Nampak ada pada cyber army Gerindra. Pasukan cyber dari Gerindra mungkin benci Jokowi tetapi tidak dalam kebenciannya. Dan mereka tidak pernah/ belum pernah terlihat rasis, baik membenciketurunan tionghoa maupun membenci agama sekuler,sehingga bisa kita yakini bahwa ada pelaku ataupun kelompok pelaku yang lain yang melakukannya.

Dari kubu PDIP sendiri sudah menurunkan Tim Hukumnya dan sedang melakukan penyelidikan kepada siapa sebenarnya yang telah melakukan serangan rasis dan intimidasi tersebut. Mudah-mudahan dari pihak Twitter dan Facebook dapat membantu mereka karena mungkin hanya Facebook dan Twitter yang mempunyai record bahwa akun siapa yang pertama kali men-share “gambar” tersebut ke jejaring social dan disebarkan ke komunitas mana terlebih dahulu.

Mengapa Ane Mencurigai PKS?

Kalau Fahri Hamzah boleh berkali-kali menuduh tanpa dasar kepada KPK dengan tuduhan KPK berkonspirasi dengan Demokrat untuk menjatuhkan PKS, KPK melakukan festivalisasi pada kasus Luthfi Hasan dan lain sebagainya.Begitu juga dengan Anis Matta dan Hidayat Nur Wahid yang kerap menuduh KPK melakukan rekayasa dalam tuntutan hukum Luthif, mengapa orang lain tidak boleh menuduh PKS melakukan suatu tindakan yang buruk pula?

Ane bukan menuduh PKS sebagai dalang serangan intimidasi dan rasis ke Jokowi tetapi anemencurigainya seperti itu.Apa alasannya?

Setahun yang lalu ane bergabung di Kompasiana. Sebelumnya ane sudah sering membaca-baca banyak tulisan di Kompasiana sejak tahun 2012 dan ane paham di kolom polhukam sering terjadi pertarungan opini-opini dari para penulis.

Dan begitu ane mencoba ikut menulis opini di Kompasiana, pada tulisan yang kedua yang ane buat, tiba-tiba ane diserang cyber army dari PKS. Ane di cap sebagai PKI. Padahal ane hanya ingin berbagi opini dan menulis tentang siapa sebenarnya Ahmad Fathanah tanpa sedikitpun mendiskreditkan PKS. Dan sejak itulah ane semakin tidak respek kepada PKS.

Kemudiansetelah itu ada 2-3 tulisan ane yangmencoba mengkritisi mereka tapi tulisan itu langsung diserang habis oleh cyber army dari PKS. Bahkan tulisan ane yang tidak ada sangkut pautnya dengan PKS juga diserang dan dikomentari dengan kalimat-kalimat yang aneh-aneh. Tulisan ane tentang kasus-kasus besar sepertikasus MA, kasus komisi III, kasus pembunuhan Sisca Yofei, kisruh kenaikan BBM dan lain-lainnya selalu dikomentaripedas oleh cyber army PKS ini.

Ane sempat sampai hapal nama-nama akun mereka yang kerap menuduh ane sebagai kaum sekuler,menuduh ane PKI, menuduh ane pemuja Jokowi, menyebut ane kader PDIP dan mengatakan PDIP adalah Rumah Besar Nasrani dan lain-lainnya. Nama-nama akun PKS itu Antara lain, Aldi9, Ade Juanda, Budi Nudi, Ichank Bucek, Juragan Beras, Madong Lubis, Ahmad Saefuloh, Vicky aldino, Paijo Dimejo dan masih banyak lagi mungkin sekitar 10 orang lagi. Nama-nama akun itu masih bisa ditracking pada kolom-kolom komentar pada tulisan-tulisan ane setahun yang lalu.

Selain nama-nama diatas yang bersikap anarkis memang adasekitar 5-7 akun PKS yang tidak anarkis. Tapi kebanyakan dari merekamemang selalu berkomentar-komentar yang mengandung SARA, Anarkis dan kasar.

Kondisi demikian memang terjadi di Kompasiana, jadi apa boleh buat sudah resikonya demikian. Tetapi yang bisa disimpulkan dari cyber army PKS yang aktif pada bulan februari 2013 hingga November 2013 (periode Luthfi Hasan ditangkap hingga di vonis 16 tahun penjara) adalahdari cyber army PKS baik yang anarkis dan tidak bisa disimpulkan bahwamereka ini sangat-sangat membenci Jokowi dan sangat ingin membubarkan KPK.

Jokowi dan KPK adalah 2 hal yang sangat dibenci oleh cyber army PKS ini. Sangat jelas terlihat pada tulisan-tulisan yang mereka buat dan komentar-komentar yang mereka berikan pada tulisan-tulisan tentang Jokowi maupun KPK. Mungkin mereka terinspirasi dari elitenya Fahri Hamzah yang berkali-kali ingin menjatuhkan KPK. Begitu juga dengan Hidayat Nur Wahid yang tidak bisa dihitung berkali-kali selalu menjelek-jelekan Jokowi.Ini mungkin disebabkan dendam pribadi atas kekalahannya di Pilgub DKI yang lalu dimana disisi lain juga ada ambisi besar dari PKS untuk menguasai ibukota setelah berhasil menguasai Jabar dan Sumut. Sayangnya ambisi besar itu dikandaskan oleh seorang Jokowi.

Dan satu lagi jangan lupa bahwa, kebanyakan dari mereka(cyber army PKS) menunjukkan kebencian yang sangat dalam kepada kaum sekuler (kaum nasrani).Itulah karakter yang ada pada mereka.

Investigasi Pribadi Melalui Kompasiana

Kembali lagi kepada berita tentang “ucapan duka cita” RIP-Jokowi, begitu ane membaca nama Tionghoa yang dituliskan pelaku kepada Jokowi dengan nama Oey Hong Liong langsung ane teringat beberapa komentar dari akun-akun yang ane yakin sebagai cyber army PKS yang baru. Ada 2 nama yang bisa ane sebut yaituClarithza dan Aan Ardiansyah.Bahkan Aan Ardiansyah telah membuat 4 akun di Kompasiana dan semuanya dibanned oleh Admin karena kerap kali membuat spam pada kolom-kolom komentar di semua tulisan kompasianer-kompasianer yang sudah dianggap sebagai musuh oleh cyber army PKS . begitu juga dengan tulisan yang berkaitan dengan Jokowi selalu di spam oleh akun Aan Ardiansyah ini.

Baik Clarithza dan Aan selalu membuat komentar yang sangat panjang dan berulang-ulang.Dalam kometarnya selalu memaki Jokowi dan PDIP , menghujat kaum sekuler dan mengata-ngatai kompasianer-kompasianer yang dianggap musuh PKS.

Dan yang paling sering disebut Aan adalah Jokowi bernama asli Oey Hong Liong. Dan Aan selalu mencantumkan link-link sumber dari Voa-Islam.

Kemudian selanjutnya ane mencoba menelusuri link-link yang dituliskan Aan Ardiansyah ke situs Voa-Islam. Dan ternyata benar, situs ini begitu sering mempopulerkan tulisan-tulisan yang menjelek-jelekkan Jokowi. Tulisan-tulisan yang berkaitan dengan nama Oey Hong Liong begitu sering ditampilkan sebagai headline dari situs ini.Sebut saja tulisan-tulisan berikut,

1.Tulisan rasis tentang pendapat SriBintang Pamungkas bagaimana caranya untuk menghancurkan dominasi keturunan tionghoa.Linknya sebaagai berikut, http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/03/14/29492/sri-bintang-pamungkas-mestinya-tidak-sulit-melawan-cina/#sthash.sMzuMoCt.dpbs

2.Tulisan tentang Megawati yang diyakini penulis (anarkis) bahwa Mega lebih mementingkan Konglomerat China dan Kaum Marhaen dibanding rakyat, linknya, http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/03/14/29490/mega-memilih-rakyat-marhaen-atau-konglomerat-cina/#sthash.xzrZ2mDU.dpbs

3.Tulisan yang menyebutkan 68 tahun Indonesia dipimpin kaum sekuler tidak juga sejahtera. Ini tulisan aneh tapi dijadikan headline oleh Voa-Islam. Mana pernah terjadi yang demikian. Ini benar-benar merusak toleransi umat beragama. Linknya, http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/03/07/29418/68-tahun-dipimpin-partai-sekuler-indonesia-belum-juga-sejahtera/#sthash.N0R97Y0r.dpbs

4.Tulisan tentang pendapat tokoh Ridwan Saidi tentang nama china dari Jokowi,http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/05/08/30233/ridwan-saidi-bapaknya-jokowi-bernama-oey-hong-liong/#sthash.y0EY7eIz.dpbs

5.Tulisan tentang pendapatDr. Cipto Subardi bahwa Jokowi itu adalah antek asing. http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/05/07/30146/dr-cipto-subadi-jokowi-bin-oey-hong-liong-itu-antek-asing-aseng/#sthash.Im3VKOcM.dpbs

Dari kelima tulisan yang terdapat di situs Voa-Islam teridentifikasi karakter yang sama pada cyber army PKS yang ada di Kompasiana. Dan dari beberapa penulis di Voa-Islam ane deteksi juga sering menulis di Kompasiana dengan tulisan yang lebih halus. Salah satunya akun Sarifudin Sae. http://www.kompasiana.com/sae

Sedangkan untuk komentar-komentar dari Aan Ardiansyah salah satunya di tulisan ane pada bulan maret lalu, http://politik.kompasiana.com/2014/03/17/hari-pertama-kampanye-prabowo-mendulang-1000-komentar-641956.html

Akhirnya secara pribadi ane menyimpulkan bahwa, ada kecenderungan bahwa sipelaku yang membuat ‘iklan duka cita’ yang bertemakan RIP-Jokowi kemungkinan besar adalah mereka yang terinspirasi oleh i PKS atau situs Voa-Islam.

Tetapi yang pasti yang paling bisa menyimpulkan si pelaku adalah Twitter maupun Facebook.

Salam Blogger

VIDEO PILIHAN