Mohon tunggu...
Gagas Mabrur
Gagas Mabrur Mohon Tunggu... Hidup untuk hidup

Penilik aksara, Penikmat kopi pahit. "manusia terbatas, aku bebas" http://gagasmabrur.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Novel

Mawar yang Tumbuh (Bagian 1)

11 Februari 2020   14:38 Diperbarui: 11 Februari 2020   14:37 49 1 0 Mohon Tunggu...
Mawar yang Tumbuh (Bagian 1)
picture:pixabay

Ini adalah hasil angan yang kususun secara singkat dalam perjalanan menuju pulang dari pendakian gunung, dengan harapan dapat kutuangkan menjadi sesuatu hal yang bisa kubaca suatu saat nanti. Seluruhnya, buah pikiran yang kukeluarkan satu persatu. Hari ini adalah hari Senin, tak seperti hari-hari Senin sebelumnya, selalu berada di dalam ruang-ruang kelas. Hari ini nampaknya kulalui dengan singkat, seperti biasanya. entah hanya prasangkaku saja atau bagaimana, "hari" dan "sekarang" semakin cepat menjadi kata "masa lalu".

Kurasa memang begini, waktu telah bergulir tanpa henti mengedari seluruhnya, yang hidup dalam semesta, tanpa pengecualian. Ya, waktu adalah sesuatu hal yang paling egois dalam dunia, ia selalu meninggalkan yang lambat,mengasingkan yang berbeda, dan membunuh yang lemah. Akan tetapi, ia menyadarkan segalanya jika "kita akan dapat berpikir ketika mulai menyadari sesuatu yang berbeda dengan kita atau biasanya." 

Dan semakin berpikir pula, kita selalu terjebak dalam persoalan-persoalan yang harus kita hadapi. Begitulah kehidupan, "kita hidup dalam ruang-ruang persoalan yang menuntut untuk segera terselesaikan."

Sedari aku turun dari pendakian Gunung Penanggungan, sampai saat ini, yang lokasinya masih terlihat gapura dengan tulisan "Selamat Jalan" yang artinya aku baru saja beranjak keluar dari Kecamatan Trawas, sedikit aneh pula perasaan yang ada dalam diri ini. Rasanya tak menentu, entah itu suatu hal yang sifatnya "mendapatkan" atau bahkan suatu yang "melepaskan". Perasaan itu seperti hantu. Tiba-tiba muncul, dan tak mau pergi. Eh, bukan hantu deh....entah apapun dan apalah analogi yang tepat, yang pasti itu sangat menggangguku. 

Melihat keramaian kendaraan motor berlalu-lalang, apalagi yang berknalpot bocor, asapnya melebar kemana-mana. Masuk ke hidung, masuk ke rumah, masuk ke Rumah Sakit, dan juga masuk kepalaku. Sepertinya sangat sulit benar untuk menghindar dari kerumunan asap itu,ia selalu mengikuti kemana perginya, toilet sekalipun. Ditambah dengan hancuran ban yang semakin bertumpukan tiap harinya. Aneh memang rasanya, tempat sejuk ini semakin bercampur dengan kehidupan kota.

Nampaknya itu semakin membuatku jengkel sendiri. Kenapa juga orang tak mau sedikit bersikap selayaknya penjaga kebersihan itu, ia memunguti apapun yang terjatuh, ia menyapu apapun yang mengotori jalanan. Tanpa minta disuruh. Semuanya membuat pikiranku sempit dan ingin memaki siapapun yang terlihat beda dengan apa yang kuinginkan.

Padahal, Trawas merupakan surga yang paling dicari oleh seseorang-seseorang untuk sekedar melepaskan penat ataupun rekreasi dengan keluarga. Disekeliling jalan mulai nampak pohon-phon yang berbaris rapi dengan daun-daun hijau rindang yang menawan, rumah-rumah tingkat berfasilitas hotel (villa), warung-warung yang terdesain seperti rusun (rumah susun) ditengah-tengah pepohonan menjadikan mata untuk sangat tertuju padanya,

Adapula seseorang yang bertampilan seperti juru kunci gunug, dengan baju oblong, berselempang sarung menjajakan villa-villa untuk barang sebentar seseorang tinggal. Dan terdengar sedikit lirih di telinga:

"villa mas, monggo"

"murah kok mas, ayo silahkan"

"Villa.....Villa...villaaa"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
VIDEO PILIHAN