Mohon tunggu...
Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann Mohon Tunggu... Telah Terbit: “Banyak Cara Menuju Jerman”

Housewife@Germany, student @Fritzerlerschule, teacher@Denkmit, a Tripadvisor level 6, awardee 4 awards from Ambassadress of Hungary, H.E.Wening Esthyprobo Fatandari, M.A 2017, General Consul KJRI Frankfurt, Mr. Acep Somantri 2020; Kompasianer of the year 2020.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Gule Kambing

2 Februari 2021   02:50 Diperbarui: 2 Februari 2021   03:03 155 18 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gule Kambing
Gule bikinan sendiri paling lezat sedunia (dok.Gana)

Hallo Dy, apa kabarmu?

Yah, serasa setahun nggak curhat sama kamu. Padahal cuma 4 hari.

Tahu nggak hari ini aku masak apa? Gule, Dy. Yaaaa, kangen Indonesia sampai bertubi-tubi. Rasa  ingin mencicipi masakan tanah air yang ini membilah dada ini.

Beli dagingnya sudah seminggu yang lalu. Dimasukin freezer begitu, deh. Beli 3 kg. Satu kilonya 12 euro atau dirupiahkan berapa ya, kalau satu euronya sudah Rp 17.000? Sudah 200 K. Atau 600 K untuk 3 kilonya. Di Indonesia berapa, ya, Dy? Sudah lama nggak balik. Ini sudah tahun ke dua, hiks.

Oh iya, Dy. Ini daging fillet, yang empuk sih. Jadi enak di mulut. Apalagi aku masaknya presto pakai panci psikomatik, yang kalau sudah mendidih, suaranya seperti kereta api "Tut-tut-tut ... ces-ces-ces." Begitu kompor mati, daging jadi lembut. Lain kali mungkin hanya 30 menit. Kalau 1 jam hancurrrr. Nah, karena masaknya 2 kg, aku bagi ke tetangga. Teman suami itu nggak punya istri tapi anaknya satu. Dia suka masakan Asia atau yang berbumbu keras, jadi pasti dia suka. Tapi taoge dan kerupuk nggak aku bagi karena limited edition aka hanya sedikit, untuk aku saja, deh. Indahnya berbagi .... menurutku, kalau kita suka memberi pada orang lain, bukan berarti harta kita berkurang, justru bertambah. Cieee ....

Ternyata oh ternyata. Baru diantar sekian menit sudah disantap tetangga, eee ... langsung, deh telepon. Katanya nggak percaya itu daging kambing karena kok nggak bau dan empuuuuk seperti kapuk.  Untung masih ada sisa nasi Bruehe (nasi yang masaknya pakai bubuk kaldu sayur) buat dia. Jadi tambah nendang. Kemarin dulu pernah suami kirim dia 2 kg sambal Indonesia di dalam plastik isi ulang, jadi pedesnya ambil dari sana saja dia. Sengaja gule kambingnya nggak pedas supaya anak-anak bisa makan. Walah, sayang sekali mereka nggak suka kambing, katanya bau. Padahal sih, enggak lah. Heran juga, sih mengapa daging kambing Jerman nggak setrong. Mungkin karena kambing di Jerman pada mandi. Hahaha ...

Nah, waktu kami makan gule ini, Dy, kami membahas pengalaman nggak enak makan di restoran India di Rottweil. Itu kota tertua di negara bagian kami, Baden-Wuerttemberg. Yaoloh Dy, suami pernah 2 tahun di Pakistan, jadinya kalau ada menu kari, dia mau pesan. Kadang geram juga, disuruh masak kari terus. Bosan, ah. Dia juga suka chicken masala. Ayam yang cari masalah sebab kalau menunya itu eneg!

Ah, ternyata di resto "Taj Mahal" yang dekorasinya cantik itu mengecewakan karena sudah rasanya nggak enak dan muahaaaaaal sekali pula. Mosok kari sak upil (gajah) di piring, harganya 20 euro alias 340 K. Ih, romantisme dinner yang tadinya sudah direka-reka, ambyarrrrr. Muka bersungut-sungut dan sumpah nggak bakalan balik lagi ke sana. Memang (Taj) Mahal sekali, harga makanan yang mahal untuk rasa yang bikin sakit hati.

Makanya, Dy, enak juga masak sendiri. Ya gule kambing yang mirip kari India ini tadi. Selain tahu apa saja bumbunya, juga tahu standar kesehatan dan tingkatan rasa yang diinginkan. Apalagi hasil karya sendiri biasanya paling membanggakan. Eaaaa.

Udah, ah, mau nonton Hollywood movie sama suami. Supaya pacaran terus, sampai tuaaaa ... Jangan iri, ya.

Dada, Dy....

VIDEO PILIHAN