Mohon tunggu...
Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann Mohon Tunggu... Telah Terbit: “Banyak Cara Menuju Jerman”

Ibu RT@Germany, a student @Fritzerlerschule, teacher@Denkmit, a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Banyak Cara Menuju Jerman", a Tripadvisor level 6, penerima 2 award dari dubes LBBP RI (Hongaria), Y.M. Wening Esthyprobo Fatandari,M.A tahun 2017, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2013, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2014, nominator Kompasianer of the year Kompasianival 2014.

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Jangan Remehkan Corona seperti Orang Bergamo, Italia

26 Maret 2020   19:08 Diperbarui: 26 Maret 2020   19:24 4699 32 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jangan Remehkan Corona seperti Orang Bergamo, Italia
Bergamo atas dilihat dari bawah (dok.Gana)

Eropa memang tidak selalu sehangat di tanah air tercinta Indonesia. Untungnya, tinggal di Jerman itu ya, ke luar negeri seperti ke luar kota. Hanya satu-dua jam, sampailah kita ke negara tetangga. 

Mengendarai mobil kita bisa kapan saja-ke mana saja berkunjung, lantaran Jerman adalah negara yang terkunci berbatasan dengan Denmark di bagian utara, Polandia dan Ceko di daerah timur, Perancis dan Luxemburg di daerah barat, di wilayah selatan ada Swiss-Austria-Liechtenstein. Budgetnyapun bisa ditekan, bagus untuk perekonomian keluarga tapi tetap mementingkan piknik sebagai relaksasi dari rutinitas.

Tak heran jika dua tahun yang lalu, kami menggapai mimpi melihat keindahan Bergamo, Italia setelah melintasi negara Swiss. Mengendarai mobil, kami berenam sampai juga ke sana. Saya pikir, "Kalau anak-anak rewel, bisakah kita sampai Italia?"

Namanya pergi sama anak-anak. Pergi dengan mereka itu seperti dengan rombongan lenong, rame, cerewet dan semua harus dibawa. Jalanpun harus selalu pelan-pelan. Cepat sedikit, sudah ada yang rewel. Alhamdulillah, pergi dengan anak-anak adalah anugerah. Kalau tidak sekarang kapan lagi? 

Jika mereka sudah dewasa, mereka punya dunia dan interest sendiri. Kalau diajak ke Italia, mungkin mereka pengennya ke New York atau Bali. Hikmahnya, ketika mengajak mereka ketika masih di bawah umur, ada doktrin kami yang tertanam; berkunjung ke obyek wisata yang bersejarah demi nutrisi otak dan hati, nggak sekedar hura-hura belaka.

Akhirnya kami semua sepakat bahwa ke Bergamo, kota tua yang punya banyak sejarah jaman pertengahan di mana dinasti kerajaan Lombardi berjaya itu, nggak rugi deh.

Kota bawah (dok.Gana)
Kota bawah (dok.Gana)
Jerman-Swiss-Italia, Bergamo! (dok.Gana)
Jerman-Swiss-Italia, Bergamo! (dok.Gana)
Bergamo Atas

Sesudah lebih dari sejam meninggalkan Swiss, kami sampai. Mobil sudah diparkir, anak-anak keluar dengan ceria. "Horeee, pantatnya bebas!"

Menyusuri jalan utama Bergamo yang agak lengang, pandangan mata kami menyebar seperti pemburu mencari kijang. Terkesima melihat bangunan kuno di sana-sini, patung-patung di beberapa sudut bagai magnet mengundang kaki untuk menghampiri. 

Gaya ini-gaya itu, cekrek sana-cekrek sini, kamipun mengikuti komando suami saya untuk bergegas pergi ke kota atas Bergamo. Setelah berjalan beberapa kilometer mengikuti jejak google map, kami sampai juga di depan stasiun Citta Alta. Itu panggilan kota lama Bergamo, yang ada di daerah atas. 

Betul pemikiran kekasih hati saya, lebih awal lebih baik karena takut ketinggalan kereta naik ke atau dari kota atas. Tanpa naik kereta yang sudah dipakai sejak 120 tahun yang lalu itu, kami harus memanjat atau lewat dari mana? Bukit yang jadi kota atas itu setinggi 245 meter. Alamakkkk, kaki bisa mbledhos, meledak seperti balon jika harus naik pakai kaki. Itulah faktor U.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN