Mohon tunggu...
Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann Mohon Tunggu... Telah Terbit: “Banyak Cara Menuju Jerman”

Ibu RT@Germany, a teacher@VHS, a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Banyak Cara Menuju Jerman", a Tripadvisor level 6, penerima 2 award dari dubes LBBP RI (Hongaria), Y.M. Wening Esthyprobo Fatandari,M.A tahun 2017, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2013, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2014, nominator Kompasianer of the year Kompasianival 2014.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Sekolah Diliburkan, Anak-Anak Tetap Belajar di Rumah

20 Maret 2020   13:49 Diperbarui: 20 Maret 2020   16:07 55 5 2 Mohon Tunggu...

Tepat hari Minggu, 15 Maret 2020 seorang guru wali kelas anak kedua kami menelpon rumah. Kaget sekali, “Anak saya salah apa?“ Alhamdulillahhhh … Rupanya, ia hanya mengabarkan bahwa ia dikarantina sepulang dari Austria. Bersama beberapa guru dan anak-anak yang ikut acara ski, ia tidak boleh masuk wilayah sekolah. Padahal sekolah baru libur hari Selasa, 17 Maret 2020. Praktis, Senin, 16 Maret yang merupakan hari terakhir masuk sekolah, beliau tidak bisa datang. Mereka baru bisa bertemu tanggal 20 April nanti. Masih untung mereka masih boleh kembali ke tanah air, meski lock down dilakukan Jerman dan negara-negara tetangganya seperti Austria, Italia, Swiss, Polandia dan Perancis.

Sekolah On Line

Jika di Berlin, beberapa sekolah benar-benar melakukan sekolah on-line, misalnya dengan Lo-net, di mana ada chat video, skype dan konferensi yang dilakukan guru dengan murid-muridnya, tidak dengan anak-anak kami. Mereka di kota besar itu memang sudah terbiasa melakukan proses belajar-mengajar dengan sistem on line, khususnya ketika guru sedang sakit atau berhalangan, berada di tempat lain.

Anak kedua kami yang sekolah di Realschule (sekolah untuk tingkatan kelas V-X) menerima bekal berupa tugas pada hari terakhir sekolah pada hari Senin. Itu berupa lembaran kertas yang harus diselesaikan. Selain itu, guru wali kelas sudah wanti-wanti agar kami mengirim email ke alamat beliau supaya ia bisa memberikan link dropbox. Di sana, sudah tertata rapi beberapa tugas dari masing-masing guru mata pelajaran seperti Bahasa Inggris, matematika, Bahasa Jerman dan lainnya.

Bapak guru yang ganteng itu berpesan bahwa untuk mengecek apakah jawaban tugas benar atau tidak, ada kuncinya dan disarankan dipegang orang tua. Supaya anak-anak tidak mengkopi paste jawaban demi mempercepat penyelesaian tugas. Ditambahkannya, jika anak-anak kembali ke sekolah, ada tes kecil untuk menguji apakah anak-anak benar-benar belajar di rumah atau tidak. Jadi, tidak sekedar mengerjakan PR tapi juga mengulanginya lagi sampai nempel di kepala.

Berbeda dengan anak bungsu kami di Gymnasium (sekolah dengan tingkatan kelas V-XII). Ia harus setiap hari mengecek di web Untis. Dengan akun dan kata kunci yang dimiliki setiap anak, mereka harus mengunduh daftar tugas setiap hari. Saking banyaknya pengguna di web, server kadang KO. Untung ada Whatsapp group kelas, sehingga solusi tetap ada. Siswa tetap tahu tugas harian yang harus diselesaikannya. Untuk urgensi, bisa mengirim email ke wali kelas atau guru mapel.

Sejauh ini, anak-anak belum ngomel atau memprotes banyaknya tugas yang diberikan. Mereka mengerjakannya setelah makan pagi dan selesai sebelum makan siang tiba. Sesekali saya tambahi belajar privat untuk menutupi kekurangan dalam memahami materi pelajaran di sekolah selama ini.

Sekolah Libur Bukan Berarti Anak Bebas Pergi Liburan

Di sebuah group facebook, para orang tua Jerman si sebuah kota berbagi peringatan bahwa penutupan sekolah itu berarti bahwa anak-anak dan remaja tidak boleh berada di tempat umum seperti pusat perbelanjaan, taman bermain, halaman sekolah dan sejenisnya. Itu dianggap beresiko tinggi lantaran di sanalah banyak orang bertemu.

Seberat apapun, orang tua diharapkan menasehati anak-anak dan remaja untuk berada di rumah.

Sekolah libur bukan berarti tambahan liburan bagi mereka. Pemerintah menutup sekolah demi meredam penyebaran virus corona. Jika orang tua tidak membantu upaya ini, sia-sialah ide cemerlang itu.  Orang tua harus ikut bertanggung-jawab dengan tidak cuek terhadap masalah ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN