Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann ibu rumah tangga

Ibu RT@Germany, a teacher@VHS, a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Exploring Germany", "Exploring Hungary"&"Unbelievable Germany", a Tripadvisor level 6, penerima 2 award dari dubes LBBP RI (Hongaria), Y.M. Wening Esthyprobo Fatandari,M.A tahun 2017, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2013, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2014, nominator Kompasianer of the year Kompasianival 2014.

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Ini Dia Roti Jerman Pembawa Hoki di Tahun Baru

4 Januari 2019   16:56 Diperbarui: 5 Januari 2019   09:12 965 17 7
Ini Dia Roti Jerman Pembawa Hoki di Tahun Baru
Das Neujahrbrezel (dok.Sallys)

Liburan, hari berjalan begitu pelan. Ah, tak terasa sudah berada di tanggal terakhir bulan Desember, 31. Anak-anak sudah ribut soal hadiah apa buat mamanya. Pikir saya, semua sudah punya jadi hanya sehat dan bahagia saja butuhnya. Tetapi, suami tetap memaksa mau beliin hadiah. 

"Ayo, bilang, mau minta hadiah apa?" Suami saya bertanya. Senyumnya mengembang. 

"Ah, nggak mau hadiah ..." Sejak kecil memang nggak pernah dibiasakan dapat hadiah saat ulang tahun. Hanya sekali setahun dapat baju baru saat lebaran. Itu saja. 

"Harus... mumpung aku lagi nggak pelit" Namanya orang Swabia di Jerman Selatan, mereka terkenal sangat hemat dan tidak suka menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang nggak perlu. Dimulai dari hal-hal kecil, makanan misalnya. 

"Ya, udah tiket pesawat ke Norwegia, Swedia atau Portugal" Kesempatan dalam kesempitan, mumpung ada yang mau ngasih hadiah. Saya ngakak begitu sadar bahwa hadiahya kemahalan. 

"Yaaaa ... mahal amat hadiahnyaaaa. Lagian kalau kamu terbang, aku ditinggal. Nggak mau." Muka belahan jiwa saya bersungut-sungut. Kami pun tertawa bareng-bareng. Akhirnya kami mau jalan bareng sajalah, semua ikut. Hadiahnya, saya boleh jadi shopping queen, belanjaaaaa. Anak-anak protes karena bukankah hadiah harus jadi kejutan bagi yang ulang tahun? Kalau saya ikut, sudah nggak heboh lagi tanggal 1 waktu membukanya. Setuju, nggak setuju, berangkatttt. 

Waduh, banyak sekali orang yang belanja di penghujung tahun. Setelah sukses mencari tempat parkir, kami menuju pusat perbelanjaan di Villingen dengan berjalan kaki. Kebanyakan pusat kota di Jerman, seperti alun-alun, dibebaskan dari wira-wiri kendaraan bermotor kecuali pengirim barang. 

Kota yang masih menyisakan tembok tua yang mengelilingi kota tua jaman raja-raja, menara-menara dan bangunan-bangunan tua itu memang menawan. Coba semua kota tua di Indonesia dibuat seperti itu, pasti aset yang bagus untuk pariwisata.

Ohhh, dingin menggigit pipi, mulut kami sesekali mengepulkan asap saat bercakap-cakap dan rintik hujan membasahi bumi. Brrrr.. adem. Payung, mana payung?

Roti ini mirip Neujahrkranz tapi tidak manis (dok.Gana)
Roti ini mirip Neujahrkranz tapi tidak manis (dok.Gana)
Jimat tahun baru yang enak 

Kami melewati Baekerei, toko roti. Di etalase toko terpajang Neujahrbrezel dan Fruechte Brot. Kaki kami berhenti. Neujahrbrezel (neu=baru, Jahr=tahun, Brezel=roti khas Jerman yang biasa dimakan pada pagi hari untuk sarapan, ditaburi garam krasak atau irisan almon, kadang dibelah tengahnya lalu dilapisi mentega. Dengan membuat atau membeli dan menghadiahkan roti itu pada keluarga atau kerabat, orang Jerman percaya ada keberuntungan di tahun baru. 

Roti dipercaya akan menghindari sial, penyakit dan jauh dari bahaya kelaparan. Nggak kelaparan bagaimana, orang rotinya kadang segede gaban. Ok, yang jelas roti itu diakui banyak orang Jerman secara turun-temurun sebagai Gluecksbringer atau pembawa keberuntungan alias jimattttt. Selain berbentuk Brezel, rupanya ada juga yang dibuat berbentuk lingkaran alias Kranz

Kedua bentuk, baik Brezel yang mirip konde tekuk atau lingkaran, sama-sama punya arti ikatan yang baik, mempengaruhi kesehatan dan rejeki manusia.

Sedangkan Fruechte Brot, Fruechte=buah-buahan, Brot=roti. Jadi itu roti berwarna gelap (Dinkel) yang dicampur buah-buahan kering (aprikot, ceri, kurma), kacang-kacangan (almon putih) dan dibuat atau dijual untuk menyambut tahun baru. Konon, awalnya roti yang tahan lama itu untuk memperingati Andreas Tag, hari Andreas, saudara Simon Petrus, pengikut Yesus. 

Hmmm... Neujahrbrezel? Fruechtebrot? Mata kami berpandangan. Beli-tidak, beli-tidak. Kami nggak jadi beli. Alasannya, dengan ukuran raksasa, kami yakin nggak bakal mampu memakan sampai habis dan sisanya bisa mengeras alias rusak dibuang ke sampah pada keesokan harinya. 

Takut mubadzir. Sampah basah Jerman selalu disorot media karena banyak berisi makanan yang sebenarnya masih bisa dikonsumsi tetapi hanya kurang pengaturan saat mengkonsumsinya. Keluarga Jerman harus makin teliti mengatur persediaan bahan makanan dan minuman supaya nggak dibeli percuma dan berakhir di tong sampah. 

Hanya ada pada tanggal 30-31 Desember 

Singkat cerita, akhir tahun diakhiri dengan belanja untuk yang terakhir kalinya di tahun 2018. Kemudian hari begitu cepat berganti. Sehari setelahnya, yakni tanggal 1 Januari, saya ajak anak-anak ke kota, bapaknya titip Neujahrbrezel. Aih, girang bukan kepalang karena di depan toko roti terpampang papan menu apa yang dijual dan titipan suami tertera di sana. Kami pun masuk ke toko. Walahhhh, banyak sekali yang antri, pada lapar tentu. 

Sembari menunggu giliran dilayani, mata kami menerobos pandangan menuju etalase toko. Lah, kok banyak tempat kosong? Mana Brezel raksasanya? Yahhh, kami jadi ingat peribahasa nasi sudah menjadi bubur. Kami kembali ke papan di depan toko dan membaca menu yang tertulis di sana sekali lagi. 

Ah, ada tulisan kecil yang menerangkan kapan roti itu dijual. Hiks, pagi-pagi pengen makan roti tahun baru, nggak bakalan ada di meja. Sebabnya, roti hanya dijual pada tanggal 30-31 Desember saja. Lain kali, harus beli pada tanggal 30-31 Desember, meski tanggal 1-2 adalah tanggal-tanggal pertama di bulan Januari, tahun baru. Satu jam kemudian, kami kembali ke rumah. 

"Papa, kami dataaaang. Oh, mama beli sesuatu dari kota." Anak-anak langsung menghambur ke papanya yang malesan di sofa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2