Mohon tunggu...
Gabryella Sianturi
Gabryella Sianturi Mohon Tunggu... Sedang mondar-mandir di Yogyakarta

Penulis lepas.

Selanjutnya

Tutup

Film

Menilik Film "Shaterred Glass" lewat Kacamata Jurnalisme

15 Juli 2020   14:30 Diperbarui: 15 Juli 2020   14:34 156 3 0 Mohon Tunggu...

Shattered Glass adalah sebuah film drama Amerika-Kanada pada tahun 2003 yang ditulis dan disutradarai oleh Billy Ray. Film tersebut bertemakan jurnalistik, diangkat dari sebuah kisah nyata media cetak ternama di kota New York yaitu New Republic. Media cetak tersebut pertama kali terbit pada tahun 1994 dan banyak membahas situasi politik Amerika. Cerita ini bermula saat Stephen Glass, seorang jurnalis muda yang sangat disenangi oleh teman-teman redaksinya. Hal itu terlihat dari setiap rapat redaksi yang diadakan, di mana Glass selalu mendapatkan respon yang baik dari teman-teman sesama jurnalis dan editornya. 

Glass yang muda dan pintar itu juga selalu menarik perhatian pembaca lewat tulisannya, sekalipun gajinya menjadi seorang jurnalis terbilang kecil dibanding jam kerjanya. Glass yang ambisius menulis semua apa yang dilihat dan didengarnya ketika mencari berita, sampai akhirnya tiba sebuah masalah awal pada tulisannya yang membahas soal konferensi politik konservatif.

Saat itu, Glass melakukan pencarian berita secara diam-diam di sebuah apartemen dengan orang-orang yang terlibat dalam konferensi tersebut. Setelahnya, ia menuliskan apa yang didapatnya, sampai akhirnya datanglah tuntutan dari orang-orang yang terlibat dalam konferensi politik konservatif tersebut atas tulisan Glass. Saat itu, Mikael yang menjadi editornya mendatangi Glass dan meminta penjelasan. 

Awalnya, Glass mengaku tidak ada yang salah dari tulisannya dan ia berkata telah menuliskan semua yang ada pada catatannya. Kemudian sampai akhirnya ia diminta oleh Mikael untuk datang ke ruangannya, dan di sanalah Glass mengaku salah. Orang-orang yang terlibat dalam politik konservatif itu ternyata menuntut tulisan yang memuat kata "minibar" dalam pemberitaan, padahal mereka berkata bahwa tidak ada minibar di apartemen tersebut.

Akhirnya Glass mengaku bahwa yang dilihatnya saat itu adalah botol-botol yang disusun sehingga ia berasumsi bahwa itu adalah minibar. Ditambah lagi, saat Mikael langsung menghubungi pihak apartemen untuk memverifikasinya, ternyata benar tidak ada minibar di sana.

Dari sana dapat dilihat bahwa Glass, sebegai seorang jurnalis bila dalam konteks pers Indonesia telah melanggar Kode Etik Jurnalistik pasal 1 yaitu "Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk". Akurat yang dimaksud berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi. Sedangkan Glass melihatnya hanya dengan asumsi belaka, yaitu dengan mengira botol-botol yang disusun tersebut seolah-olah adalah minibar. Dari situ Glass telah melihat sesuatu dengan tidak secara objektif sesuai keadaan di dalam apartemen tersebut. Setelah itu, Mikael sebagai editor dan New Republic juga tidak memberikan sanksi pada Glass yang telah melalukan kesalahan.

Setelahnya, muncul lagi konflik kedua yaitu ketika Glass membuat sebuah tulisan yang berjudul "Hacker Heaven". Sebelumnya, saat rapat redaksi untuk melaporkan berita yang akan diterbitkan, Glass bercerita mengenai seorang hacker yang berhasil membobol keamanan sebuah perusahaan software besar. Ia juga mengaku telah hadir dalam acara yang diselenggarakan oleh kelompok hacker tersebut dan melakukan wawancara.

Saat itu para redaksi, termasuk editor baru Glass bernama Chuck menyetujui tulisan tersebut dimuat. Ketika tulisan telah terbit, majalah Forbes yang saat itu mengetahuinya merasa ada sebuah kejanggalan dalam tulisan Glass. Adam Peneberg sebagai penulis di Forbes mencurigai artikel tersebut karena tidak menemukan fakta-fakta yang dimuat dalam tulisan Glass ketika mencarinya di internet. Peneberg mencari perusahaan software yang dimaksud, menelepon para narasumber dengan meminta kontaknya pada Glass, sampai mengecek situs resminya. 

Chuck yang semula percaya pada Glass pun ikut curiga dan memaksa Glass untuk mengantarkannya ke lokasi-lokasi saat ia melakukan pencarian berita. Saat itu, Glass berontak dan merasa dirinya telah dipojokkan oleh Forbes dan Chuck sebagai editornya. Glass juga terpuruk sehingga membuat teman-teman redaksinya merasa kasihan dan semakin membenci Chuck yang tidak membela Glass. Sampai akhirnya Chuck dan Glass menuju langsung lokasi peliputan yang dimaksud Glass, dan kembali lagi menemukan banyak kejanggalan.

Kejanggalan tersebut yaitu seperti lokasi acara pertemuan hacker yang ternyata tutup pada hari yang dimaskud oleh Glass dan sebuah restaurant yang juga waktu beroperasinya tidak sesuai dengan apa yang dituliskan Glass. Kemudian Glass akhirnya mengaku bahwa ia memang tidak hadir dalam acara hacker tersebut dan sebenarnya tak ada pula makan siang bersama di restaurant. Glass mengaku ia menggunakan sumber-sumber di luar untuk menuliskan berita tersebut dan membuat dirinya seolah-olah berada di sana, dengan alasan agar tulisan lebih berwarna. 

Kemarahan Chuck memuncak sampai akhirnya ia mengancam Glass untuk diskors dari New Republic selama 2 tahun. Setelahnya, terungkap lagi kebohongan yang dibuat oleh Glass di mana ia menipu nomor perusahaan yang dimaksud dengan menggunakan nomor telepon saudaranya. Ia juga memanipulasi voicemail, kartu nama, dan website. Chuck akhirnya memecat Glass dari New Republic dan tak lama dari situ teman-teman redaksi yang awalnya memihak pada Glass menjadi tersadar. Pada akhirnya juga saat Glass disidang, terbukti bahwa belasan tulisannya yang banyak digemari pembacanya tersebut hanyalah fiksi belaka. Glass tidak pernah benar-benar melihat sebuah peristiwa tersebut, melainkan ia mengarangnya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x