Mohon tunggu...
Gabryella Sianturi
Gabryella Sianturi Mohon Tunggu... Sedang mondar-mandir di Yogyakarta

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Media

Apakah yang "Baru" dari Sebuah "Media Baru"?

26 Agustus 2019   04:55 Diperbarui: 27 Agustus 2019   13:58 0 0 0 Mohon Tunggu...

Media telah menjadi sebuah kata yang akrab di telinga masyarakat, sampai akhirnya "media baru" muncul menggantikannya.

Berbicara soal media, tidak akan lepas dari topik seputar media cetak dan pers, periklanan, penyiaran (radio dan televisi), penerbitan, fotografi, dll. Begitu juga produk yang diciptakan seperti berita, iklan, film, buku, kaset, dll. Produk-produk media yang di dalamnya terdapat informasi tersebut didistribusikan lalu dikonsumsi oleh masyarakat dan dikendalikan oleh pasar atau negara.

Seperti yang kerap kita lakukan, kita akan bersemangat pergi ke bioskop untuk menonton film baru atau setia menunggu tayangan televisi di rumah. Tetapi, kini hal itu telah menjadi sebuah kebiasaan lama. Trans-medialitas kini telah menjadi kebiasaan kita, dimana terjadi migrasi konten di berbagai bentuk media. Para produsen media mulai melibatkan para konsumennya yaitu kita sebagai masyarakat, untuk terlibat di dalam kontennya.

Sebut saja contohnya konten "citizen journalist" di televisi, yang membuat kita tidak lagi hanya sekedar "konsumen" dan telah bergeser menjadi "produsen" pula. Istilah baru pun timbul, "media baru" muncul di tengah masyarakat. Akan menjadi sebuah pertanyaan, apakah yang baru dari sebuah "media baru"?

Ketika pada tahun 1980-an akhir, dunia media dan komunikasi terlihat sangat berbeda dari beberapa sektor seperti televisi, fotografi, percetakan hingga telekomunikasi. Media seperti itu terus menerus berubah mengikuti perkembangan teknologi, institusi dan budaya.

Salah satu indikasi perubahan yang terkait dengan media baru adalah desakan dari perintah geopolitik terpusat, dimana melemahnya mekanisme kekuasaan dan kontrol dari pusat-pusat kolonial Barat, difasilitasi oleh jaringan media komunikasi baru yang tersebar dan melampaui batas.

Media baru tersebut terperangkap dan dipandang sebagai bagian dari jenis-jenis perubahan. Dalam pengertian ini, kemunculan "media baru" sebagai semacam fenomena zaman, yang telah dan masih dipandang sebagai bagian dari lanskap perubahan sosial, teknologi, dan budaya yang jauh lebih besar dan disebut sebagai teknokultur.

Kata "baru" dalam "media baru" membuat bahwa kekuatan ideologis baru berarti "lebih baik" atau "menarik". Konotasi "baru" ini berasal dari keyakinan modernis dalam kemajuan sosial yang disampaikan oleh teknologi. Seperti sebelumnya, media baru muncul dengan klaim dan harapan bahwa mereka akan memberikan peningkatan produktivitas dan peluang pendidikan dan membuka cakrawala kreatif dan komunikatif baru.

Menyebut 'baru', yang mungkin saja sebenarnya tidak baru atau bahkan serupa, adalah bagian dari gerakan ideologis yang kuat dan narasi tentang kemajuan dalam masyarakat Barat. Narasi ini berlangganan tidak hanya oleh perusahaan yang memproduksi perangkat keras dan perangkat lunak media yang bersangkutan, tetapi juga oleh seluruh bagian komentator dan jurnalis media, seniman, intelektual, teknolog dan administrator, pendidik dan aktivis budaya.

Antusiasme yang tampaknya tidak bersalah ini untuk sebuah hal "baru" jarang sekali netral secara ideologis. Perayaan dan promosi media baru dan TIK yang tak henti-hentinya di sektor negara dan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari bentuk produksi dan distribusi neo-liberal globalisasi yang telah menjadi ciri khas selama dua puluh tahun terakhir.

Karakteristik Media Baru

Sejak pertengahan tahun 1980-an, sejumlah konsep telah muncul dan menawarkan untuk mendefinisikan karakteristik dari "media baru" secara keseluruhan yaitu: digital, interaktif, hiperteksual. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x