Media

Menghindari Berita Hoaks pada Media Online

13 Oktober 2017   12:02 Diperbarui: 13 Oktober 2017   12:23 439 1 0
Menghindari Berita Hoaks pada Media Online
Sumber: metro.co.uk

Berita bohong alias hoaxakhir-akhir ini semakin banyak bermunculan. Terlebih semakin maraknya media online yang bermunculan. Hal ini tentu sangat disayangkan. Efek yang ditimbulkan dari hoax juga tidakboleh dianggap remeh. Salah satu contohnya, seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Tersebar secara luas di media sosial foto Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang beberapa waktu lalu mendekam di tahanan Mako Brimob sedang berlibur di kampung halamannya Belitung Timur. Foto tersebut bukanlah foto palsu.

Namun, informasi yang mengikuti penyebaran foto tersebutlah yang paslu. Beberapa pihak langsung meyakini berita tersebut. Namun, setelah diverifikasi kembali foto tersebut ternyata adalah foto miliki jurnalis Kompas. Foto itu diambilnya ketika meliput kegiatan Ahok ketika pulang kampung dalam rangka hari raya Cap Go Meh yang jelas---jelas dilakukan sebelum Ahok diharuskan mendekam di penjara.

Tentu menjadi pertanyaan bagi kita mengapa hoax semacam itu bisa muncul? Selain itu, bagaimana kita dapat mengetahui kalau itu adalah berita bohong atau hoax? Terlebih maraknya situs berita online yang saat ini mampu menyebarkan informasi bahkan hanya dalam hitungan menit. Tentu sangat sulit untuk menanggulangi efek dari tersebar hoax. Itu mengapa penting bagi kita untuk mengetahui apa itu hoax dan mengenalinya.

Apa itu hoax?

Istilah hoax diartikan oleh MacDougall sebagai infromasi yang sesungguhnya tidak benar. Namun, dibuat seolah-olah benar (1958: 6). Sedangkan dilansir dari Antaranews.com menurut Lynda Walsh dalam buku berjudul "Sins against Science" kata hoaxsudah muncul pada tahun 1808. Cambridge Dictionarybahkan mengatakan hoax memiliki arti tipuan atau lelucon. Dengan kata lain hoaxmerupakan berita bohong guna menciptakan kepercayaan terhadap isu atau berita yang diangkat. Padahal si pembuat berita mengetahui bahwa berita tersebut adalah bohong.

Saat ini hoax seringkali dikaitkan dengan kegiatan pembuatan ataupun penyebaran berita bohong yang disebarkan baik melalui media massa ataupun media sosial. Oleh karena itu dalam tulisan ini saya akan menyebut informasi palsu sebagai "Berita hoax". Tujuannya adalah agar dapat dipahami bahwa konteks yang akan dibahas pada tulisan ini adalah berita yang mengandung atau memuat berita bohong yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Keberadaan berita hoax tentunya berbahaya mengingat berarti terjadi penyebaran informasi yang tidak didasarkan pada fakta. Tentu jika kita kembali lagi pada kewajiban jurnalis dalam kode etik jurnalistik jelas dilarang.

Berita Hoaxdari Segi Kode Etik Jurnalistik

Menulis berita hoax seperti yang sudah kita pahami di atas sama dengan menulis berita bohong. Sebagai seorang jurnalis menulis berita bohong adalah sesuatu yang dilarang. Hal tersebut tertera pada pasal 4  kode etik jurnalistik Indonesia yang diterbitkan oleh Dewan Pers Indonesia. Pasal tersebut mengatakan bahwa wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul. Bohong dalam pasal tersebut ditafsirkan sebagai sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.

Perlu untuk kita ketahui juga bahwa berita yang benar sejatinya memiliki ciri dan nilai yang dapat dipelajari dengan mudah. Ciri sebuah berita menurut Sedia Willing Barus, mencakup lima hal. Pertama, Accuracy atau akurat, cermat dan ketelitian. Kedua, universality atau dapat dikatakan berlaku secara umum. Selanjutnya, Fariness yaitu bersifat jujur dan adil. Keempat, ada Humanity atau ada nilai kemanusiaan di dalamnya. Ciri berita yang terakhir adalah immediate yang berarti berita harus segera disampaikan (2010: 31)

Hoax pada Media Online.

Seiring berkembangnya zaman media online mulai menjadi platform utama untuk mengakses informasi. Tidak hanya dari generasi 90-an ke bawah atau yang dikenal dengan istilah generasi millenial. Tetapi juga dengan generasi-generasi di atasnya yang mau tidak mau harus mengikuti perubahan. Sampai Desember 2016 telah ditemukan 800.000 situs penyebar hoax menurut Menteri Kominfo, dilansir dari CNN. Jumlah ini tentunya harus dikurangi. Mengingat media online harusnya memuat berita yang berimbang dan bukannya berita bohong dan fitnah. Hal tersebut didasarkan pada ketentuan kode etik jurnalistik dan undang-undang pers.  

Penyebab HoaxMudah Tersebar

Hoax biasanya tidak mungkin muncul tanpa tendensi terntentu. Dengan kata lain hoaxada karena diciptakan untuk sebuah tujuan. Entah itu tendensi politik, ekonomi ata apapun. Cepatnya penyebaran hoax juga menarik perhatian salah satu pakar komunikasi, yaitu Effendi Gazali. Dilansir dari JawaPos.com, ia mengatakan jika menurutnya ada tiga hal yang cukup mempengaruhi penyebaran hoax,terutama di Indonesia. Faktor pertama menurutnya adalah munculnya media baru di zaman teknologi.

Hal ini juga logis mengingat media baru juga masih rawan untuk disalah gunakan karena masih minimnya peraturan. Selain itu, faktor kedua menurut Effendi adalah kembali lagi pada kurangnya kepastian hukum yang mengatur tentang hoax. Aturan hukum masih dinilai cukup lambat dalam menangani kasus penyebaran hoax. Terutama dalam perihal menjerat pelaku baik sebagai pembuat atau penyebar hoax.

Faktor ketiga yang menyebabkan hoax cepat untuk tersebar adalah masih kurangnya literasi bagi pengguna media sosial. Pengguna media sosial yang juga seringkali ikut menyebarkan berita baik hoax atau bukan harusnya menjadi komunikasi dua arah. Menurut Effendi ketiga hal tersebut dapat mengurangi penyebaran hoax. Selain ketiga faktor yang harus diselesaikan tersebut, kita juga harusnya menjadi lebih kritis dalam mencari berita. Perlu bagi kita untuk mengubah pola pencarian informasi kita agar tidak mudah termakan informasi dan berita hoax.Efffendi mengatakan kita perlu untuk mencari sumber berita yang kredibel sebagai pembandingnya.

Ada satu faktor lagi yang cukup penting sebagai alsan cepatnya penyebaran hoax yaitu kebebasan berbicara yang digunakan dengan salah. Hak berupa kebebasan berbicara ini seringkali salah digunakan. Tradisi memang berasal dari negara-negara liberal. Negara-negara tersebut biasanya tidak menghedaki adanya batasan-batasan dalam menyampaikan pendapat. Kesalahan yang seringkali dilakukan adalah orang-orang tidak hanya mengemukakan pendapat saja. Tetapi mereka juga menciptakan isu baru lewat spekulasi mereka masing-masing. Hal ini yang seringkali memicu kembali munculnya hoax.

Menghindari Hoax

Tidak dapat kita pungkiri kemajuan teknologi juga merupakan penyebab pesatnya perkembangan informasi.  Hoax merupakan salah satu dampak negatif dari perkembangan teknologi tersebut. Meskipun begitu kita dapat menghindari hoax. Saat ini sudah ada aplikasi yang dapat digunakan untuk melaporkan hoax. Website tersebut bernama turnbackhoax.id. pada website tersebut kita dapat melaporkan dan mencari berita hoax yang sudah diverifikasi. Itu merupakan cara yang paling mudah untuk menghindari hoax pada media online. Selain itu, kita harusnya membandingkan media yang sudah kita baca dengan media lainnya. Tujuannya adalah memverifikasi informasi yang kita dapatkan. Apakah informasi tersebut merupakan fakta atau bualan saja.

Untuk mengetahui dan menghindari hoax kita memang harus melakukan verifikasi secara berulang. Sampai mendekati kepada informasi yang paling benar. Selain itu untuk menghindari hoax pada media online kita dapat melakukan satu hal yang cukup mudah namun penting. Kita dapat melakukan pengecekan terhadap susunan redaksi sebuah media online. Sebagai sebuah media online menurut pedoman media siber yang di terbitkan dewan pers mereka tetap harus mengacu pada undang-undang pers, kode etik dan pedoman hak jawab.

Selain itu kita juga dapat memanfaat media lain yang dicantumkan dalam berita. Media lain tersebut yaitu berupa video dan foto. Melalui foto kita dapat melihat secara persis bagaimana suatu peristiwa terjadi. Apakah foto tersebut sesuai dengan berita yang dimuat. Lewat video kita juga dapat melihat lebih lagi apakah berita tersebut relevan dengan berita yang dimuat. Demikian cara yang dapat kita lakukan untuk menghindari maraknya berita hoaxyang bermunculan di media online saat ini.

Daftar pustaka

Andarningtyas, Natisha. 2016. Apa itu Hoax. ANTARA. Diakses pada 1 Oktober 2017 dari  https://www.antaranews.com/berita/605171/apa-itu-hoax 

Barus, Sedia Willing. 2010. JURNALISTIK: Petunjuk Teknis Menulis Berita. Jakarta: Erlangga

Dewan Pers. 2011. Kode Etik Jurnalistik.Jakarta. Diakses pada 1 Oktober 2017 dari dewanpers.or.id

Dewan Pers. 2012. Pedoman Media Siber. Jakarta. Diakses pada 1 Oktober 2017 dari dewanpers.or.id

MacDougall, Curtis D. (1958). Hoaxes. Dover

Pratama, Aulia Bintang.Ada 800 Ribu Situs Penyebar Hoax di Indonesia.CNN. Diakses pada 1 Oktober 2017 dari https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20161229170130-185-182956/ada-800-ribu-situs-penyebar-hoax-di-indonesia/