Mohon tunggu...
Inovasi

Tekan Tombol Remotmu!

23 September 2015   10:51 Diperbarui: 23 September 2015   11:29 162
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Media. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Free-photos

Dibandingkan dengan media komunikasi massa yang lain seperti radio, koran, majalah, atau tabloid, televisi merupakan media komunikasi massa yang saat ini paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Kemudahan khalayak dalam menangkap pesan yang disampaikan oleh televisi, merupakan faktor utama mengapa televisi banyak diminati. Kita tidak perlu susah-susah membaca atau mendengarkan secara seksama, kita hanya perlu duduk manis di depan sebuah kotak yang memiliki sebuah layar yang menyodorkan berbagai pilihan informasi.

Pada tahun 1980-an, televisi dianggap sebagai barang mahal. Bagi yang ingin menonton televisi harus pergi ke kantor desa atau kantor kelurahan, sehingga dapat dikatakan hanya orang-orang tertentu saja yang dapat memiliki pesawat televisi. Perkembangan teknologi komunikasi yang semakin lama semakin berkembang, memungkinkan kepemilikan televisi semakin meningkat. Dalam sebuah rumah, tidak mustahil bahwa hampir di setiap kamar memiliki pesawat televisi. Bahkan kini, pesawat televisi dapat kita liat lewat media komunikasi lainnya seperti di telepon genggam.

Stasiun televisi membuat program-program acara yang menarik ketika dilihat oleh para penonton. Semakin banyak yang menonton program tersebut, semakin tinggi pulalah rating yang diraih. Untuk berkompetisi dalam memperebutkan rating ini, berbagai stasiun televisi menampilkan acara-acara yang dirasa mampu mengendalikan pusat perhatian para penontonnya. Sehingga seringkali, program-program tersebut lupa atau sengaja melupakan nilai-nilai yang bersifat positif. Kelalaian ini dapat berdampak buruk bagi penontonnya, karena sebagian besar penonton televisi beranggapan bahwa apa yang berada dalam kotak tersebut berisi realita-realita yang sebenarnya.

Penulis menyimpulkan tiga kelalaian utama program-program televisi masa kini, yaitu:

  1. Kekerasan bertopeng komedi

Tidak hanya berita kriminal saja yang menampilkan adegan-adegan kekerasan, banyak program-program televisi dalam acara komedi yang juga menampilkannya. Acara komedi semakin lama semakin tidak memperhatikan nilai-nilai kesusilaan dan nilai-nilai kesopanan. Tidak hanya secara non-verbal, tetapi kekerasan-kekerasan verbal juga dapat kita lihat di dalam acara komedi. Kekerasan ditonjolkan untuk mengundang tawa para audience, sehingga secara perlahan penonton akan merasa bahwa pukulan atau cacian adalah sesuatu yang wajar, sesuatu yang lucu dan pantas untuk ditertawakan.

 

  1. Erotisme Layar Kaca

Selain mengundang tawa, program-program acara melihat bahwa ketertarikan penonton khususnya laki-laki akan semakin meningkat ketika menonjolkan unsur ‘nakal’ didalamnya. Perempuan sebagai ikon utama, didandani sedemikian rupa sehingga tampak cantik dalam riasan make-up dan balutan busana yang minim. Bahkan seringkali busana yang dikenakan nyaris memperlihatkan tubuh sang ikon, dari lekuk tubuh sampai belahan dadanya. Tidak hanya dalam program-program acara, tetapi iklan, film, sinetron sampai video klip musik pun terdapat unsur pornografi didalamnya. Jangan Bugil di Depan Kamera! (JBDK) adalah suatu gerakan yang dibentuk oleh Sony Adi Setiawan karena rasa prihatin terhadap fenomena ini. Beliau tidak heran, bahwa banyaknya kasus-kasus hamil di luar nikah, aborsi, dan seks bebas semakin lama mengalami peningkatan.

 

  1. Kepentingan khalayak atau keuntungan suatu pihak?

Seringkali televisi menyodorkan informasi yang sebenarnya tidak perlu diketahui penonton. Seperti misalnya, acara pernikahan artis, kasus perceraian dan hak asuh anak, sampai konflik antar artis. Informasi-informasi seperti ini sesungguhnya bukanlah sesuatu hal yang harus diperlihatkan kepada penonton. Namun, cerdasnya media memperlihatkan bahwa berita-berita seperti itu layak untuk dikonsumsi masyarakat. Tanpa masyarakat sadari bahwa ada suatu pihak yang diuntungkan atas penayangan informasi tersebut. Misalnya, artis-artis tersebut sengaja mencari sensasi untuk mendongkrak popularitasnya, atau berita-berita tersebut dibuat sedemikian heboh untuk menutupi kasus-kasus korupsi para pejabat sehingga kasus-kasus yang seharusnya diketahui oleh masyarakat tidak lagi dianggap penting.

 

Pengaruh media massa yang sangat kuat terjadi karena mereka membangun theater of mind sebagaimana gambaran realitas oleh media massa tersebut. Hal ini terjadi seperti yang dikatakan Jean Baudrillard, dalam kehidupan masyarakat muncul hiper-reality yaitu suatu kondisi dimana masyarakat dijebak dalam satu ruangan yang disadarinya sebagai kenyataan, meskipun sesungguhnya semu, maya atau khayalan belaka. (Rini, 2012: 58) Seperti contohnya iklan televisi :

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun