Kuliner Pilihan

Memanjakan Lidah Indonesia di Jogjakarta

9 November 2018   12:00 Diperbarui: 9 November 2018   12:07 129 0 0
Memanjakan Lidah Indonesia di Jogjakarta
Dokpri

Jika anda seorang pendatang yang sedang kuliah atau bekerja bukan di kota asal, terkadang lidah merindukan masakan daerah. Rendang, rawon, pecel, pempek atau Soto Kudus misalnya. Ya, walaupun sekarang ada banyak makanan dan minuman yang hits di Negara lain, lalu merembet masuk ke Indonesia, tapi masakan Indonesia selalu punya tempat.

Di  jaman ini kerinduan akan masakan daerah bisa dengan mudah terobati. Banyak rumah makan atau warung yang menyuguhkan masakan-masakan khas satu daerah. Apalagi di Jogja, kota yang disebut-sebut sebagai Indonesia mini karena banyaknya pendatang dari berbagai daerah. Rasanya tidak sulit menemui masakan daerah. Kalau orang-orang Padang menjadi pioneer untuk mempopulerkan kekayaan kulinernya lewat Rumah Makan Padang nya yang legendaris. Semakin banyak masakan daerah yang beberapa tahun lalu belum dikenal oleh orang Jogja dan masyarakat luas, kini naik daun. 

Misalnya saja, Mie Ayam Lampung, Seblak atau Sambal Matah yang sedang hits jadi topping makanan kekinian. Menjamurnya kuliner khas daerah nyatanya tidak hanya bisa dinikmati oleh orang-orang dari daerah tersebut lho. Namanya juga lidah orang Indonesia, sangat kaya dan terbuka akan cita rasa baru.

Berikut ini adalah beberapa rekomendasi tempat makan atau kuliner dari beberapa daerah di Jogja untuk anda yang rindu masakan rumah atau seorang  yang suka berwisata kuliner.

Pecel khas Jawa Timur

Jawa Timur memang gudangnya makanan enak.  Pecel yang saya maksud bukan lah pecel bersambal terasi dan berlauk gorengan ikan, ayam atau tempe tahu. Ini pecel berisi sayuran rebus dan sambal kacang pedas, asin, manis. Pecel memang bukan makanan asing, sudah banyak diperdagangkan di luar tempat aslinya di Jawa Timur. Sederhana dan murah, makanan ini juga kaya serat. Bumbu pecel siap saji juga tersedia di warung dan pasar. Banyak orang di Jogja mencarinya sebagai menu sarapan. Tapi tahu kah anda jika di Jawa Timur sana, pecel disantap hampir 24 jam. Pagi hari hingga larut malam orang bisa dan biasa mengudap pecel.

Di Jogja ada beberapa penjual pecel yang mendaku khas Jawa Timur, entar Blitar, Madiun, Nganjuk dan lain-lain. Salah satu "sentra" pecel adalah Jalan Laksda Adisucipto. Disini ada beberapa warung tenda yang menjajakan pecel dengan khas kota masing-masing. Salah satunya warung Bu Ramelan yang menggunakan Magetan sebagai kekhas annya. 

Warung ini persis di pinggir jalan, berseberangan dengan Plaza Ambarrukmo. Meski kecil, pengunjungnya datang dan pergi. Rata-rata pegawai Mall atau mereka yang akan bekerja/kuliah. Antusiasme itu rasanya logis melihat porsi yang disajikan memang besar, plus murah. Dibawah Rp.10.000 jika anda memesan pecel dengan lauk telur. Silahkan dicoba jika anda sedang bingung mencari sarapan atau butuh makan sayur.

Selain kulinernya yang enak, Provinsi di ujung timur Pulau Jawa ini juga menjadi kelahiran banyak orang besar. Dari dunia politik lahir Bung Karno di Blitar, sementara musisi legendaris Ahmad Albar lahir di Surabaya. Selain nama-nama itu, ada juga salah satu calon anggota DPD RI dari Jogjakarta, Bambang Soepijanto.  Bambang Soepijanto lahir di Situbondo, ayahnya berdarah Madura. 

Bambang Soepijanto melanjutkan SMP dan SMA nya di Banyuwangi.  Meski bukan asli Jogja, ia memulai pengabdiannya untuk masyarakat di Jogjakarta, khususnya desa Kepek Gunung Kidul. Setelah lulus dari Fakultas Pertanian UPN "Veteran" Jogjakarta, Bambang kemudian menjadi staff Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi Proyek Perencanaan dan Pembinaan Reboisasi dan Penghijauan Daerah Aliran Sungai sebagai petugas lapangan penghijauan golongan II di Gunung Kidul dan Kulon Progo di tahun 1980. Kariernya sedikit demi sedikit naik  hingga akhirnya menjadi Direktur Jenderal Planologi  Kehutanan.

Ketertarikannya pada dunia politik bukannya tiba-tiba. Di tahun 2001 Bambang Soepijanto penah ikut bersaing menjadi Calon Wakil Wali Kota Jogja. Meskipun belum berhasil menjabat Wakil Wali Kota Jogja, Bambang Soepijanto tetap memendam kerinduan untuk menjadi "abdi dalem" masyarakat DIY dalam menyalurkan aspirasi dan merealisasi program-program pembangunan.

Ikan Bakar khas Indonesia Timur

Lebih jauh ke timur, anda yang pernah pergi ke kota-kota di wilayah Indonesia Timur tentu tahu jika kekayaan laut disana melimpah. Banyak ikan dan seafood. Rasanya tak perlu diragukan, karena katanya ikan disana hanya "mati sekali" alias langsung diambil dari laut dan langsung diolah. Daging ikan yang manis dengan jejak amis samar lagi kenyal. 

Disantap dengan sambal dabu-dabu, sagu, pisang atau ubi. Sungguh melenakan diri. Di Jogja ada beberapa tempat penjual ikan bakar khas Indonesia Timur.  Ada Ikan Bakar Katombo khas Sulawesi di daerah Sinduadi Sleman. Beragam ikan laut segar, Kerapu, Ayam-ayam, Kakap, Cumi, Udang, hingga Ikan Kakatua yang diolah beragam. Harga-harga disini memang agak mahal. Untuk datang kesana selain mempersiapkan perut, anda juga perlu mempersiapkan dompet. 

Tapi semua itu sepadan dengan kenikmatannya. Jika ingin versi ekonomis, tetapi tak kalah nikmat ada sebuah warung tenda dengan menu ikan laut bakar atau goring. Tempatnya ada di kompleks Terminal Condong Catur, disisi barat. Dengan harga seporsi Rp.20.000 an anda bisa menuntaskan hasrat pada ikan laut. 

Selamat mencoba!