Mohon tunggu...
Fajr Muchtar
Fajr Muchtar Mohon Tunggu... Guru - Tukang Kebon

menulis itu artinya menyerap pengetahuan dan mengabarkannya https://www.youtube.com/c/LapakRumi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ikatan Mistik Jalaluddin Rumi dan Syuhada Karbala

8 Agustus 2022   20:04 Diperbarui: 8 Agustus 2022   20:15 1439
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Peristiwa karbala adalah peristiwa besar dan menggetarkan siapa saja yang mengetahuinya. Jauh hari Rasulullah sendiri sudah menubuatkan bahwa pembantaian karbala ini adalah sebuah api yang tak akan pernah padam. Rasulullah Saw bersabda "sungguh peristiwa pembantaian Huseinku, akan selalu jadi bara api di hati seorang mukmin yang tak akan pernah dingin dan padam selamanya (Mustadrak wasail j 10 hal 318). Tak terkecuali untuk seorang Jalaluddin Rumi.

Bagi Rumi, peristiwa karbala adalah pengajaran yang luar biasa dan merupakan paket lengkap pengajaran cinta dan kesucian. Dari medan laga yang tak seimbang itu Rumi menuliskan syair-syair pujian untuk para syuhada karbala. Bagi Rumi, kecintaan pada Al Husein khususnya adalah bukti kecintaan pada Sang Nabi. Kata Rumi, "Kecintaan kepada anting (Husain) sama dengan kecintaan kepada telinga (Nabi Muhammad saw)"

Fragmen asyura sesaat ditinggal al husein (Alif.id)
Fragmen asyura sesaat ditinggal al husein (Alif.id)

Dalam posisi pencapaian ruhaniah, Jalaluddin Rumi menggelari Imam Husein sebagagi Raja langit  dan ruh murni. Karena itulah dalam pandangan Rumi, peristiwa ini haruslan diingat dan dipelajari agar mukmin hakiki tak terlelap dalam jeratan kezaliman dan keduniawian. Rumi berkata, "Tidakkah engkau tahu bahwa hari Asyura adalah hari duka cita bagi satu jiwa yang lebih utama ketimbang seluruh abad? Bagaimana bisa tragedi ini dianggap ringan oleh seorang Mukmin hakiki? Kecintaan kepada anting (Husain) sama dengan kecintaan kepada telinga (Nabi Muhammad saw). Dalam pandangan Mukmin sejati, duka cita kepada ruh murni lebih agung ketimbang ratusan banjir pada (zaman) Nuh."

Untuk mereka yang melupakan dan berupaya menutup nutupi peristiwa agung ini, Jalaluddin Rumi menukas, "ke mana aja kamu selama ini? Mengapa kamu tak memakai baju derita? Tangisilah dirimu sendiri. Karena kalian telah mati dengan sejelek kematian karena melupakan peristiwa ini.

(SUmber : irnapress.com)
(SUmber : irnapress.com)

Menangislah untuk orang seperti Imam Husein dan Syuhada Karbala. Menangis untuk mereka menghidupkan hati. Dalam pandangan Rumi tangisan untuk para syuhada memiliki nilai yang sangat tinggi dan bahkan setara dengan darah syuhada itu sendiri.  

Begitulah, Rumi memandang para syuhada Karbala sebagai pelopor dan raja diraja Rabbani. Dalam syair pujiannya Rumi berkata :

Di mana dikau, hai para syuhada Rabbani nan kelana

Para penantang bala, di Padang Karbala

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun