Mohon tunggu...
Fajr Muchtar
Fajr Muchtar Mohon Tunggu... Tukang Kebon

menulis itu artinya menyerap pengetahuan dan mengabarkannya http://fxmuchtar.com

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Kompasiana, Dari Tulisan ke Layar Kaca

21 Juni 2015   07:40 Diperbarui: 13 Juli 2015   05:31 0 21 15 Mohon Tunggu...

"Menulislah dan biarkan saja tulisanmu mengalir mengikuti nasibnya"

Seperti kata-kata keramat, ujaran Hamka selalu terbukti dengan aliran waktu. Beberapa kali saya membuktikan aliran nasib tulisan saya yang tak seberapa bagus dibanding teman-teman Kompasianer lainnya. Saya mesti belajar stamina dan kedalaman tulisan pada Kang Gapey Sandi. Saya juga mesti belajar konsistensi dari Pak Tjiptadinata yang tulisannya mengalir tapi menghanyutkan. Saya mesti belajar dari Kang Topik yang tak pernah putus asa… Dari Kompasianer yang tak disebutknan satu per satu, saya mesti mengambil pelajaran.

Kembali pada nasib tulisan, dari sekian Kompasiana Bandung yang super keren-keren, ada beberapa artikel yang akan diangkat ke layar kaca. Akan difilmkan? Bukan. Tulisan kompasianer akan divisualkan dan dijadikan referensi tayangan Kompas TV bertajuk Cerita Indonesia.

Dari Kompasiana Bandung ada beberapa juga yang tulisannya diangkat ke layar kaca. Bunda Maria yang menulis tentang Dewi Tapa (Desa Wisata Tahan Pangan) Cireundeu, Kang Bheni tentang biogas di Cimahi, Teh Anilawati tentang lebaran hijau dan tulisan saya tentang Desa Wisata Ciburial.

Menurut Yessi dari Kompas TV yang menghubungi saya, benang merah dari pemilihan artikel ini adalah yang kaitannya dengan lingkungan hidup. Jadi berbagai macam tulisan Kompasianer lainnya tinggal menunggu nasibnya saja untuk dilayarkacakan.

Sejak senin yang lalu (15-06-15), Yessi sudah menghubungi saya dan mengabarkan bahwa tulisan-tulisan saya di Kompasiana akan divisualkan. Tahu ndak senangnnya sampai mana? Senangnya sampai lauhil mahfudz (jangan pakai MD). Memang saya tahu bahwa ada tulisan Kompasiana yang akan divisualkan, seperti tulisan Kang Benny, namun saya tak menyangka kalau tulisan saya juga ikut divisualkan.

Akhirnya pada malam Jum’at (18-06-15) kami bertemu di café dekat didekat rumah. Dari Kompas TV datang Yessi, Ridwan dan Anjas. Sejam lebih lamanya kami membicarakan spot-spot yang ada dalam tulisan saya dan juga kemungkinan waktunya. Sebelumnya Yessi meminta tulisan saya di Blog dipindahkan ke Kompasiana untuk melengkapi tulisan yang sudah ada sebelumnya.

Dari pembicaraan itu, dipilih tiga spot liputan, Pesantren Babussalam dengan Kampung Madunya, Komunitas Hong, Eco Camp dan Taman Hutan Raya Djuanda. eh, itu mah empat ya bukan tiga. Beberapa spot lainnya belum akan diliput mengingat waktu yang sangat terbatas.

Yang jelas, proses memvisualkan tulisan, membuat kita seperti kembali meniti waktu dan seperti menyusun kembali puzel memori saat awal menuliskannya. Maka bertemulah saya dengan tempat, tokoh dan kejadian dalam tulisan saya.

Liputan pertama, tentang Kampung Madu Pesantren Babussalam Bandung yang dipimpin oleh Aepudin. Aep adalah generasi ketiga yang membudi dayakan madu di Desa Ciburial dia adalah cucu dari H. Embing yang merupakan generasi pertama. Saat mendatangi rumah H. Embing saya teringat masa kecil dulu. Rumah H. Embing merupakan rumah tempat saya bermain apalagi kalau sedang musim jambu dan madu.

Sayangnya, proses peliputan ini dilakukan saat bulan Ramadhan ketika semua sedang puasa jadi para kru tidak bisa mecicipi manisnya madu dari Kampung Madu ini. Beruntung Aep membekali kami dengan madu sarang yang tadi dijadikan sarana demo.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x