Edukasi

Kentang Transgenik Tahan Terhadap Penyakit Busuk Daun (Phytophthora Infestans)

30 Desember 2018   02:51 Diperbarui: 30 Desember 2018   15:42 147 0 0


Fulgensia Aso, Mahasiswi UNINDRA

Kebutuhan akan sumber makanan pokok di dunia semakin meningkat. Sehingga diperlukan suatu peningkatan jumlah produksi bahan makanan pokok. Namun para petani memiliki sebuah kendala, yaitu hama. Hama adalah organisme yang dianggap merugikan para petani, karena dapat merusak tanaman sehingga dapat menurunkan hasil produksi petani dan juga menyebabkan kerugian.

Saat ini perkembangan bioteknologi juga mampu menciptakan produk yang memiliki keindahan dari segi bentuk serta mampu meningkatkan jumlah produksi. Otomatis keuntungan yang didapatkan akan lebih banyak . Salah satu contoh produk transegik adalah kentang.  Kentang (Solanum tuberosum L.) adalah salah satu tanaman pangan yang paling produktif dan ditanam hampir diseluruh dunia. Kentang juga memiliki gizi yang tinggi sebab mengandung konsentrasi vitamin C yang cukup tinggi dan asam amino essensial yang baik untuk nutrisi manusia. Namun kendala utama dalam budidaya tanaman kentang adalah penyakit-penyakit tanaman  yang dapat menurunkan produksi tanaman kentang.
Salah satunya adalah penyakit Penyakit Busuk daun (Phytopthora infestans)Serangan penyakit busuk daun terjadi pada kondisi lingkungan dingin, berkabut, lembap atau musim hujan. Mula-mula terjadi serangan pada permukaan bawah daun, daun busuk berwarna abu-abu sampai kehitaman dan basah, di bawah permukaan daun bagian bawah tampak miselum berwarna abu-abu, umbi terserang menjadi busuk, mengeras, berwarna kehitaman sampai kecoklatan dan tangkai daun dan batang menjadi busuk berwarna hitam dan mengering. Pengendalian penyakit busuk daun dapat dilakukan baik secara preventif  yaitu dengan penyemprotan fungisida yang berbahan aktif mancozeb maupun kuratif yaitu dengan mencabut tanaman yang terkena penyakit busuk daun.

Melalui rekayasa genetika, suatu tanaman yang disisipi dengan gen-gen ketahanan terhadap penyakit dan juga gen yang dapat meningkatkan produksi serta kualitas produksi. Salah satu produk dari rekayasa genetika tersebut adalah Kentang Bt. Merupakan tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, dimana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringiensis (Bt), yang sudah digunakan dalam dunia pertanian sebagai pestisida hayati oleh petani yang aman selama 30 tahun. B.thuringiensis adalah bakteri yang menghasilkan crystal protein (cry) yang bersifat membunuh serangga (insektisidal) sewaktu mengalami proses sporulasinya.

Namun tanaman transgenik yang menggunakan Basillus thuringiensis  masih memiliki pro dan kontra , disamping memberikan beberapa keuntungan dan kelebihan, seluruh tumbuhan hasil transgenik dikhawatirkan memiliki efek yang berbahaya bagi seluruh makhluk hidup yang mengonsumsinya termasuk manusia. Adanya gen marker pada tumbuhan transgenik telah menjadi perhatian publik bahwa gen tersebut akan ditransfer ke organisme lain. Pada kasus merker resisten antibiotik, ada ketakutan bahwa hal tersebut akan menyebabkan resistensi antibiotik pada bakteri. Pada kasus marker resisten herbisida, dikawatirkan hal tersebut menyebabkan pembentukan rumput (gulma) yang agresif.