Mohon tunggu...
EF Fauziyah
EF Fauziyah Mohon Tunggu... Lainnya - blogger

#kisahpeneliti #kisahfiksi #tentangrasa #duniapns #maniakkorea

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Rumah

6 Mei 2020   12:15 Diperbarui: 14 Mei 2020   16:43 50 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Gambar karya L. Sajna (5 tahun) | Dok. pribadi

"Mi aku mau pulang, gak betah di sini" ucap anakku yang berusia 5 tahun.

"Pulang ke mana sayang?"

"Ke rumah kita Mi, ke Jakarta."

Padahal di Jakarta juga kita masih mengontrak, rumah tipe 40 yang sudah kita tinggali hampir 5 tahun tersebut, sudah menjadi rumah yang sesungguhnya bagi ia, bagi anakku. Baginya, definisi rumah adalah tempat ia kembali, tempat ia menjalani kehidupannya dari bangun tidur sampai tertidur lagi. Selama di Jakarta hidup kami berjalan cepat dan terstruktur. Ia bangun pukul 06.00, lalu mandi dan sarapan, pukul 07.00 dia sudah masuk ke kelasnya, sampai sekitar 11.30 / 12.00 . Anak lain mungkin menganggap sekolah adalah tempat yang menyebalkan, namun tidak dengan anakku, dia menikmati kelasnya. Jika saya terlambat menjemput karena ada rapat di kantor, dia tak keberatan menunggu sambil bermain di dalam kelas.

"Tapi di Jakarta ada Corona sayang, dan kita tidak boleh kemana-mana dulu. Nanti kita beli rumah lagi ya di Bandung? Tapi sebelumnya Omi butuh waktu untuk jual rumah yang di Jakarta. Bersabar sedikit lagi gpp?"
"Kenapa sih harus ada Corona. Aku kan jadi ga bisa sekolah!."

Ia mengalihkan pembicaraan, tidak menjawab ya atau tidak terhadap pertanyaanku. 

Mungkin, jika ia mampu berkata-kata lebih dalam, ia ingin mengatakan bahwa ia tidak menikmati kehidupannya di sini. Dia tidak betah.

Harus ku akui, setelah tinggal setidaknya 8 minggu di dua tempat yang berbeda, di rumah orang tuaku dan di rumah mertua.

Aku, suami, dan anakku merasa 'we are not belong here'. Walaupun lahir dan tumbuh bersama kedua orang tuanya selama 15 tahun, sisanya ia hidup mandiri di perantauan. Begitupun denganku, total 15 tahun juga hidupku bersama orang tua, sisanya aku lebih memilih tinggal di asrama selama SMP dan kuliah (di kosan). 

Mungkin terlalu lama aku dan suami tidak tinggal di rumah orang tua kami, sehingga kami merasa tidak betah dan tidak lagi menjadi orang sini. Sementara anakku yang tumbuh dan sekolah di Jakarta, ia merasa Jakarta adalah rumah yang sesungguhnya. 

Setelah menimbang, menghitung, dan mencari; kami putuskan untuk membeli rumah di Bandung. Orang lain mungkin akan berfikir kami agak gila. Saat semua orang berlomba menyimpan uangnya dalam bentuk tunai, kami malah mengeluarkan uang untuk membeli rumah. Walaupun secara KPR tetap saja membutuhkan biaya-biaya yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan