Mohon tunggu...
Frida Agistina
Frida Agistina Mohon Tunggu... bismillah..

reach the unreachable

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Perlukah Pemerintah yang Baru Membaca Pesan Novel Ini?

21 Oktober 2019   18:56 Diperbarui: 21 Oktober 2019   19:16 89 1 0 Mohon Tunggu...

Pertama, saya ingin mengucapkan selamat untuk Bapak Presiden dan Wakil Presiden yang sudah dilantik kemarin. :)

Kali ini saya akan "membedah" novel fiksi yang saya sendiri gregetan saat membacanya. Novel Negeri di Ujung Tanduk karya penulis hebat, Tere Liye, merupakan sequel dari novel Negeri Para Bedebah. Namun kasusnya disini saya loncat dari novel pertama ke novel kedua, tapi Alhamdulillah masih nyambung sih, dan menurut saya sendiri ketika sudah baca novel pertamanya, ada peningkatan lah, karena menurut saya lebih bagus yang novel kedua ini. Dan saya memberikan penilaian bagus bukan sekedar cuma-cuma, karena novel ini memang "layak" untuk di sebut bagus, disamping fakta bahwa appreciate is an important thing for me.

Di tengah hiruk pikuk pada demo RUU KPK kemarin, membaca novel ini seperti menemukan benang merah yang tak terlihat. Pada halaman 113, kamu akan menemukan sebuah pemikiran dari penulis yang disampaikan melalui Thomas, tokoh utama dalam novel, mengenai penegakan hukum yang dapat menyelesaikan kasus korupsi. "Korupsi misalnya, ketika hukum ditegakkan tanpa tawar menawar, pelaku korupsi dengan sendirinya akan tumbang berjatuhan. Pisau hukum menebas mereka dengan hukuman berat & serius. Penegak hukum juga akan mengejar hingga keakar-akarnya, tidak peduli siapapun yang mencuri uang rakyat. Pembuktian terbalik dipakai, orang-orang yang tidak bisa membuktikan dari mana semua kekayaannya berasal akan dihukum." -- (halaman 113)

"Saat masyarakat menerima pesan yang kuat bahwa pemerintah tidak main-main dalam menegakkan hukum, hingga level paling rendah, orang-orang akan takut melakukannya. Pungutan liar di kantor kelurahan, pungli di Kantor Urusan Agama saat kau hendak mengurus pernikahan, polisi lalu lintas di perempatan jalan, bahkan tukang parker illegal, pemalak, apapun yang menyakiti rakyat. Mereka akan gentar, takut, karena mereka tahu, pemerintah akan memburu mereka demi penegakan hukum." -- (halaman 113-114)

 Seakan-akan saya membaca opini dari pengamat politik, sungguh menyenangkan. Disamping itu, yang tak kalah menarik perhatian saya ialah saat orasi yang menyayat hati. Orasi, begitu saya menyebutnya, saat Thomas saya rasakan gambarannya berdiri ditengah konvensi partai politik, lalu bertanya siapa yang sebenarnya memiliki partai politik? Ratu? Presiden direktur? Elit politik? Dan saya, benar-benar merasa diajak berkelana memikirkan setiap kalimat yang mengalir, siapa sebenarnya? Untuk lebih lengkapnya dari setiap pertanyaan ini, kalian bisa membacanya di novel tersebut, menyaksikan langsung bagaimana penulis melihat sisi lain dari sebuah partai politik.

Lalu, yang puncaknya ialah: sebuah humor yang tak perlu dibawa hati oleh para pemimpin dimanapun. Yaitu : "Saat sesi Tanya jawab itu, salah satu peserta dari Negara lain, kalau tidak salah dari Kuba, berseru protes, 'Omong kosong kita bisa memberantas korupsi dalam semalam, Tuan Thomas. Tidak ada orang yang bisa melakukannya. Bahkan orang paling berkuasa sekalipun seperti Hitler, Mussolini, dan sebagainya.'

"Dan kau, Thomas, aku ingat sekali, kau hanya santai mengangkat bahu menjawab pertanyaan itu. Kau hanya bilang, 'Tentu saja mungkin. Mudah sekali melakukannya. Kita legalkan saja korupsi. Minta Presiden atau kepala Negara mengeluarkan dekrit malam ini, bahwa mulai besok, saat cahaya matahari menyentuh bumi, korupsi menjadi legal, boleh dilakukan di seluruh negeri. Selesai sudah, korupsi sudah diberantas tuntas dalam semalam.' Bukan begitu jawabanmu, Thomas?" -- (halaman 265)

Sebuah humor yang membuat seluruh bagian tubuh saya ikut tertawa dibuatnya. Humor klasik yang menyentuh sisi politik, tapi jangan sampai dianggap serius yaa teman-teman, bisa-bisa seekor macan akan kehilangan taringnya, begitu penulis menuliskan imajinasinya. :D

Diluar dari isi ceritanya, bagaimanapun juga, penulis memberikan pesan yang dalam bagi seluruh lapisan Negara ini, dan semoga pembacanya (siapapun, pemerintah ataupun masyarakat) dapat memetik buahnya, sebelum menjadi busuk (begitu perumpamaan saya) sehingga semoga pemerintahan baru ini akan menjadi lebih baik dan semakin baik, aamiin.

-Dari saya, penggila nasihat papa tentang Om Thomas. Jangan lupa akan perbedaan akhir yang baik dengan akhir yang buruk adalah kepedulian..

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x