Mohon tunggu...
Frial Ramadhan
Frial Ramadhan Mohon Tunggu...

Terus berjuang dengan ikhlas...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Jalan-jalan Tempoe Doeloe: Pelabuhan Cirebon

22 Januari 2012   02:18 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:35 413 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jalan-jalan Tempoe Doeloe: Pelabuhan Cirebon
13271964551592376859

Pernahkah kalian mendengar nama 'Cirebon'? Mungkin ada yang sebagian pernah dan sebagian belum. Kalau mendengar kata 'Cirebon' maka tak dapat lepas dari keraton dan Sunan Gunung Jati, pemimpin Walisongo yang terkenal dalam cerita-cerita rakyat di Jawa. Pernahkah kalian ke Cirebon? saya rasa mungkin sedikit yang pernah ke Cirebon. Mungkin masyarakat di Indonesia, khususnya di pulau Jawa akan lebih sering bepergian ke Bandung, Jakarta atau Surabaya daripada ke kota kecil seperti Cirebon. Ya, tulisan ini ingin memberikan sedikit refreshing, namun refreshing kita kali ini bukan berupa tontonan film atau bacaan komik tapi JALAN_JALAN Tempoe Doeloe. Kali ini kita akan berjalan-jalan ke Cirebon lewat lukisan dan foto yang belum banyak diketahui oleh orang-orang.Jalan-jalan Tempoe Doeloe ini akan memfokuskan pada pelabuhan Cirebon. Cirebon memang dikenal sebagai kota pelabuhan maka tidak ada salahnya untuk melihat pelabuhan Cirebon tempoe doeloe. foto 1 [caption id="attachment_157686" align="alignnone" width="400" caption="Pelabuhan Cirebon tahun 1880 : sumber foto KITLV"][/caption] Foto yang akan diambil adalah hasil dokumentasi dari KITLV ( lembaga penelitian yang mengkaji masalah sosial budaya oleh Belanda. lembaga ini sudah ada sejak abad 19 di Hindia Belanda). Lukisan ini digambar dengan pensil. Lukisan ini memperlihatkan Pelabuhan Cirebon pada tahun pada tahun 1880. Pada lukisan itu terlihat Gunung Ciremai yang menjulang tinggi. Gunung Ciremai merupakan gunung yang tertinggi di Jawa Barat. Dalam lukisan ini wilayah Cirebon pun masih terlihat begitu asri dengan pepohonan lebat. Wilayah yang masih natural ini memungkinkan kita untuk melihat Gunung Ciremai dari arah pelabuhan. Dua kapal besar dan beberapa kapal kecil yang berlalu lalang di sekitar pelabuhan. Kapal-kapal besar itu tidak memiliki layar, ini menunjukkan bahwa teknologi pelayaran pada saat itu sudah menggunakan mesin uap sehingga tidak lagi tergantung pada angin musim. Para pedagang dari berbagai negara dapat datang dan pergi kapanpun, tidak lagi dipengaruhi oleh bulan-bulan pelayaran tertentu. Teknologi mesin uap ini membuat perdagangan, khususnya di pelabuhan Cirebon semakin bertambah ramai. Pada waktu itu pelabuhan Cirebon mengekspor berbagai macam produk perkebunan seperti kopi, gula dan indigo. Pelabuhan Cirebon dijadikan tempat untuk bersandarnya kapal-kapal dari berbagai negara untuk kemudian mengangkut hasil produksi Karesidenan Cirebon ke berbagai negara. Dalam gambar itu lautan pun terlihat begitu tenang. Pantai Utara memang memiliki lautan yang "tidak ganas" seperti pantai selatan sehingga memungkinkan terjadinya perdagangan yang kondusif. Pelabuhan Cirebon pun dapat berkembang karena faktor alam berupa lautan yang kondusif untuk berdagang. foto 2 [caption id="attachment_157692" align="alignnone" width="400" caption="Perahu di Cirebon tahun 1911 (sumber : KITLV)"]

13271974461034621423
13271974461034621423
[/caption] Dari gambar tersebut kita melihat perahu-perahu yag bersandar. Didekatnya ada bangunan-bangunan yang kemungkinan sebagai tempat untuk meletakkan hasil tangkapan mereka dari laut. Perahu-perahu yang berada di pantai utara antara lain adalah perahu Compreng dan perahu Mayang. Perahu yang ada [ada gambar tersebut memiliki layar. Para nelayan yang menggunakan layar akan sangat terpaku pada waktu. Mereka biasanya melaut pada malam hari dan  pulang kembali pada pagi hari. Ikan yang didapat dari perairan ini adalah ikan lemuru, kembung laki-laki, kembung perempuan, bandeng, teri, tengiri dan layang. Ikan-ikan ini kemudian menjadi makanan bagi orang-orang disekitar pantai juga digunakan sebagai industri perikanan. Cirebon memang wilayah yang memiliki industri perikanan yang cukup maju karena Cirebon dianugerahi bentang alam berupa laut yang kaya akan plankton. Ikan layang seharusnya tidak berada di pantai utara tetapi karena ada plankton maka mereka bermigrasi dari Flores. [caption id="attachment_157695" align="alignnone" width="400" caption="orang Belanda di Kapal layar tahun 1911 (sumber :KITLV)"]
1327198424706211986
1327198424706211986
[/caption] Dari gambar tersebut kita melihat ada orang Belanda di samping kapal layar. Lalu dibelakangnya ada seorang pribumi yang memakai pakaian tradisional yakni sarung dan blangkon. Gambar ini memperlihatkan bahwa pada masa itu orang Belanda sangat mendominasi perdagangan di kota Cirebon. Selain orang Belanda ada juga orang-orang lain seperti Inggris dan Amerika. orang-orang Barat ini memiliki jaringan bisnis yang luas. Untuk lalu lintas bisnis, mereka menggunakan laut sebagai 'Jalan raya' sehingga pelabuhan memiliki arti yang sangat penting. Pelabuhan memang memiliki pengaruh yang penting. Laut seperti jalan raya. Kapal-kapal laut berlalu lalang layaknya mobil-mobil di jalanan Jakarta masa kini. Ini menunjukkan bahwa negara kita adalah negara yang terikat pada kebudayaan maritim yang kuat namun pengembangan dunia maritim Indonesia masih sangat minim. Dulu mungkin kita sering berslogan "Jangan Lupa Daratan" namun sekarang kita tambah dengan slogan "Jangan Lupa Lautan"

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x