Mohon tunggu...
Yudel Neno (Fresophya)
Yudel Neno (Fresophya) Mohon Tunggu... Penenun Huruf

Anggota Komunitas Penulis Kompasiana Kupang NTT (Kampung NTT)

Selanjutnya

Tutup

Politik

Memintal Poin-Poin "Negatif" Di Balik Harapan dan Peringatan Menjelang Pelantikan

20 Oktober 2019   00:20 Diperbarui: 20 Oktober 2019   00:27 0 0 0 Mohon Tunggu...
Memintal Poin-Poin "Negatif" Di Balik Harapan dan Peringatan Menjelang Pelantikan
Tribunnews.com

Menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI, media sosial dihiasi dengan berbagai himbauan dan peringatan.

Pasalnya, situasi chaos yang pernah terjadi sebelumnya, sebagian besar erat kaitannya dengan pelantikan kursi RI I dan II.

Masyarakat Indonesia mengharapkan momen pelantikan yang berlangsung aman dan harmonis.

Himbauan, peringatan, penjagaan gencar dan ketat, mulai dari pihak keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh politik dan partai-partai politik.

Semua harapan dan peringatan baik adanya. Penghayatan terhadap Pancasila memang harus dihayati dan diwujudkan dengan mengambil bagian, turut menghimbau dan saling memperingatkan, keamanan dan ketertiban bersama.

Saya berada dalam suatu pola pikir yang cukup serius untuk menganalisis, ada apa dibalik berbagai himbauan dan peringatan yang menjulur setinggi langit itu.

Yang pertama: Strategi banting stir

Dibalik harapan berbagai pihak demi keamanan momen pelantikan, saya membaca adanya suatu fenomen banting stir menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden. Tentu tidak salah. Dalam aksi politik, banting stir merupakan pola umum yang biasa berlaku.

Kalaupun itu yang terjadi, maka "pihak-pihak" yang menghimbau dan memberi peringatan itu, tujuan mereka, pertama-tama, sebetulnya bukanlah keamanan, melainkan merupakan suatu strategi banting stir di hadapan pihak RI I dan II demi "apa yang mau didapatkan" pasca pelantikan.

Yang kedua : Strategi pemulihan masa

Politik menjelang pemilu hingga hingga terlaksananya pemilu, panas dimainkan dengan mengambil bentuk saling "berlawan-lawanan". Siapa pilih siapa, turut berpengaruh dalam komunikasi dan relasi. Tidak heran, diskriminasi dan saling mendiskreditkan mudah saja terjadi.

Dalam konteks seperti itu, dapat dianalisis apakah himbauan dan berbagai peringatan menjelang momen pelantikan, hanya sebatas untuk mengembalikan perhatian publik ataukah memang setulusnya demi keamanan.

Yang ketiga : Strategi Menempatkan Jasa Di Depan

Dari berbagai harapan dan peringatan, saya mencoba agak berpikir "negatif", jangan-jangan pihak-pihak tertentu sementara memanfaatkan momen sebelum pelantikan ini untuk memainkan sebuah strategi menempatkan jasa di depan. Maksudnya ialah jangan sampai ada pihak yang kelak ramai-ramai mengklaim lalu "menuntut" jasa karena telah terlibat sebelumnya turut berpartisipasi menjaga keharmonisan berjalan hingga terselesaikannya pelantikan.

Yang keempat : Strategi Ikut Arus

Parahnya lagi, kalau himbauan, peringatan dan harapan yang gencarnya dilakukan itu, digerakkan oleh suatu semangat ikut arus.

Prinsipnya ialah suatu sikap dan perbuatan yang dilakukan karena ikut arus, akan mudah gugur, kalau kelak, dari apa yang dihimbau itu ternyata timbul persoalan yang membutuhkan keterlibatan yang serius.

Dalam arti di atas, strategi ikut arus bukanlah strategi yang tepat untuk momen menjelang pelantikan.

Tentu dibalik empat poin di atas, sebagai Warga Negara Indonesia, saya sangat mengharapkan keamanan dan keharmonisan, menjelang, sementara dan pasca pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024.

Siapapun dia, demi kepatuhan terhadap keamanan dan ketertiban, menghargai momen pelantikan pemimpin apalagi levelnya ialah kursi RI I dan II adalah harga mati.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x