Mohon tunggu...
Frengky Septiyan
Frengky Septiyan Mohon Tunggu... UIN SUKA

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga 20107030005

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Tempe Berusaha Meski Pandemi Meraja

19 Juni 2021   11:10 Diperbarui: 19 Juni 2021   11:16 195 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tempe Berusaha Meski Pandemi Meraja
Sumber: Dokpri (produk tempe)

Usaha mikro, kecil, menengah, atau yang biasa disebut dengan UMKM menjadi salah satu usaha yang memiliki kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian negara secara makro. Kementerian Koperasi dan UKM RI melaporkan bahwa secara jumlah unit, UMKM memiliki pangsa sekitar 99,99% (62.9 juta unit) dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia (2017).

Disamping itu, dengan adanya pandemi seperti sekarang ini memberikan berdampak begitu besar bagi para pelaku usaha, salah satunya UMKM. Tidak sedikit pula para pelaku usaha yang harus gulung tikar karena perekonomian yang bobrok karena pandemi yang sudah setahun lebih di Indonesia. Namun masih ada juga pelaku UMKM yang terus bertahan hingga saat ini meskipun mendapat tekanan dari berbagai sektor. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Paiyem (63), seorang pelaku usaha mikro pembuatan tempe tradisional di Pacitan Jawa Timur. Paiyem mengawali usahanya seorang diri sekitar tahun 2015 untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Paiyem (63) merupakan wanita paruh baya yang tinggal suaminya bernama Satiman (70) di Desa Jatigunung, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tinggal di rumah yang sederhana seluas 56 meter tidak membuatnya putus asa untuk tetap berwirausaha.

Paiyem bersama suaminya merintis usaha pembuatan tempe tradisional di tempat tinggalnya.

Usaha yang dirintis sejak 5 tahun lalu ini bisa berjalan dan bisa bertahan di saat krisis ekonomi seperti sekarang ini.

Usaha ini dilakukan di rumah seluas 56 meter dengan tungku api di sudut ruangan. Karena pembuatannya yang tradisional dan juga omset penjualan yang tidak begitu besar, maka dari itu tidak ada keinginan Paiyem untuk menyediakan tempat khusus pembuatan tempenya. Cukup dengan dirumahnya sendiri dan bekerja seorang diri, hal tersebut sangat di tekuni Paiyem karena usaha tersebutlah yang menghidupinya selama ini.

Sumber: Dokpri (kedelai siap kemas)
Sumber: Dokpri (kedelai siap kemas)
Usaha pembuatan tempe Paiyem ini termasuk masih tradisional. Pembuatannya tidak mengunakat alat-alat khusus seperti yang ada sekarang ini, dalam pembuatannya dia hanya menggunakan alat-alat tradisional seperti kuali untuk merebus kedelainya, kemudian menggunakan tungku api dengan bahan bakar kayu kering yang didapatkannya dari kebun.

Meskipun pembuatannya masih tradisional, tetapi kualitas tempe Piyem tetap terjaga dan tidak kalah dengan pembuatan tempe modern yang menggunakan alat-alat khusus pada pembuatannya.

Pada proses pembuatannya pun tetap terjaga kebersihannya. Hal tersebut semata-mata supaya pembeli tidak kecewa ketika sudah membeli tempe buatannya.

"Usaha ini kira-kira sudah saya lakukan sekitar 5 tahun, dan alhamdulillah hingga saat ini usaha yang saya tekuni masih tetap bertahan. Usaha saya ini saya rintis seorang diri dengan bermodalkan pengalaman saya dulu belajar membuat tempe dengan tetangga saya, namun untuk saat ini tentangga saya sudah berhenti ber usaha karena sudah terlalu tua" ucap Paiyem ketika diwawancarai.

Sumber: Dokpri (dokumentasi liputan)
Sumber: Dokpri (dokumentasi liputan)
Untuk pembuatan tempe ini Paiyem membeli kedelai sejumlah 50 kg dengan harga Rp 500.000 di pasar. Kemudian untuk pembuatan tempe dilakukan 2 hari sekali tergantung dengan banyak atau tidaknya pesanan. Karena tempe juga memerlukan waktu untuk pembuatannya dan juga setelah dikemas, tempe tidak bisa langsung di jual, harus mengunggu 1-2 hari sampai tempe matang dan baru kemudian bisa di jual.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN