Cerpen Pilihan

Cerpen | Anak Kerbau

7 Desember 2018   08:31 Diperbarui: 8 Desember 2018   15:17 236 0 0
Cerpen | Anak Kerbau
(dok. pribadi)

"KASIAN juga aku liatnya, Mak." ujarku.

Istriku tak menyahut, ia asyik mengaduk nasi dalam periuk. Daguku terangkat tinggi, kepalaku bersandar ke daun pintu rumah kami yang terbuka. Di lantai semen kasar aku duduk sambil mene-rawang ke lembaran seng-seng berkarat yang langsung jadi langit-langit rumah kami.

Beberapa menit kami berdua hanya terdiam, sebelum akhirnya istriku berbicara, "Apalah yang mau kita buat, Pak?"

Sekarang dia sibuk mondar-mandir, entah apa yang dikerjakannya, di dapur, di kamar mandi dan sesekali keluar rumah lalu masuk lagi.

"Aku pun kasian juganya," katanya setelah kembali ke dalam rumah. "Itulah hidup ini... Tak seindah rencana kita."

"Enggak kau tengok, Mak? Macam orang stres kutengok dia sekarang," kataku lagi.

"Yah, memang udah streslah dia itu. Bukan ‘macam’ lagi," tukas istriku.

"Iya, maksudku stres kayak orang gila." Aku mengoreksi ucapanku.

"Iyalah. Siapa yang nggak stres, bapaknya ninggal, gak ada uang, trus putus sekolah pula," sambar istriku.

Pikiranku melayang-layang. Sebentar memba-yangkan perasaan yang sedang dialami si Maston—sosok yang sedang kami bicarakan, sesaat kemudian mengenang bapaknya—si Eben—yang merupakan teman baikku. Bayangan yang terakhir diselingi cuplikan-cuplikan kisah masa lalu kami. Aku bisa memaklumi perasaan bangga dan penuh angan-angan yang dialami anak sulung Eben itu ketika pertama kali menginjakkan kaki di perguruan tinggi negeri di Medan, kota besar yang letaknya jauh dari kampung kami. Bapaknya pun bangga sekali saat itu. Harapannya semakin besar diletakkan di bahu Maston yang tengah bersiap menjadi tulang punggung keluarga kelak.

Namun hidup tak dapat ditebak, Eben meninggal tiga bulan lalu di jalan lintas antar kota. Kejadiannya sepele, hanya karena sopir mengantuk yang terlalu ke pinggir. Di sini kami memang tak mengenal trotoar, pejalan kaki menggunakan bagian tepi badan jalan yang sama dengan kendaraan bermotor. Segera keluarga itu tergoncang. Baik dari sisi mental maupun ekonomi, karena semua penghasilan keluarga selama ini hanya berasal dari sang bapak semata.

Memasuki bulan ketiga, persediaan uang dari sumbangan belasungkawa kerabat dan tetangga menyusut dengan cepat. Mamak Maston masih bingung harus mencari uang dengan cara apa. Tanpa uang kiriman dari kampung, Maston pun harus meninggalkan Kota Medan dan mengubur dalam-dalam impiannya menjadi sarjana. Melepas ritme kehidupan metropolitan yang mulai diakrabinya hampir setahun. Meninggalkan semua teman-teman di kampus birunya tercinta. Tam-paknya ia belum siap menerima itu semua.

Dua minggu setelah kepulangannya ke kampung aku dirundung gundah. Aku juga tak terima kenyataan pahit itu harus ditelan Maston di usianya yang masih labil, apalagi ia anak seorang teman lama. Setiap hari pikiranku terganggu melihat keluarga murung yang tinggal hanya beberapa rumah dari gubuk kami itu. Aku selalu berpikir bahwa aku harus berbuat sesuatu, meski sesungguhnya tidak tahu bagaimana.

Satu malam sehabis makan, aku dan istriku duduk bersantai di ruang makan—yang sekaligus ruang tamu kami. Aku di sofa satu-satunya milik kami, lalu istriku seperti biasa merajut benang-benang wol di kursi makan.

"Mak... Kalo kuingat dulu baiknya si Eben sama aku..." Kalimatku terputus, seperti tak mampu kuceritakan semua kebaikan bapaknya Si Maston itu kepadaku. Setelah beberapa saat aku menyambung lagi, "Kurasa, kalo gak ada dia, kita gak bisa kayak gini sekarang."

Istriku diam saja sambil merajut.

"Dia dari dulu sering nolong aku,” kataku lagi. “Mulai dari tugas sekolah, hingga mengerjakan sawah. Kau tau kan? Aku dulu gak ada apa-apa. Sekolah enggak jelas, mau bertani pun sawah tak punya, ternak pun tak ada."

"Kalau gak dikasinya aku anak kerbau waktu kita kawin dulu, enggak punya ternak kita seperti sekarang."

Tanpa menoleh, istriku menanggapi, "Kasian ya, Pak. Orang baik itu sering kali cepat mati. Padahal kalo si Maston itu berhasil, kan bisa membantu adek-adeknya."

"Enggak kau liat Si Maston itu kayak apa sekarang?" tanyaku. "Oooh, Kayak linglung-linglung dia. Kasian, bah... Kasian. Lewat pun orang di depannya enggak peduli lagi dia," kataku menggeleng-geleng dengan penuh iba.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3