Mohon tunggu...
Frederikus Suni
Frederikus Suni Mohon Tunggu... Suara Milenial dari Kampung Haumeni

Rasa ingin tahu adalah nadi dari ilmu pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Aku Terpesona di Bawah Bayangan Mentari Pagi

24 Februari 2021   05:52 Diperbarui: 24 Februari 2021   06:08 227 32 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Aku Terpesona di Bawah Bayangan Mentari Pagi
Terpesona di bawah bayangan mentari pagi. Foto dari Pixabay.

Lentikan bulu mataku, masih berjuang untuk mengibas mentari. Aku kembali terpesona akan segala keindahan dari Semesta.

Semesta kembali menerawangi diriku. Layaknya para dukun pintar di era 21. Era 21 telah menghadirkan kejutan, sekaligus ketajaman logika. Logika tersesat dan logika lurus. Lurus berarti berpikir yang benar. Sementara logika tersesat berarti berpikir kebalikan.

Berpikir terbalik atau berlawanan, sama saja aku berusaha untuk menjerumuskan diri ke dalam kawanan singa. Singa Afrika yang terkenal ganas. Seganas pikiran sahabatku.

Sahabat adalah orang yang tahu kelebihan dan kelemahanku. Namun, tetap menerima aku apa adanya. Menerima segala kelebihan dan kekuranganku, sama seperti mentari yang kembali menyinari semesta. Mentari kembali bersinar menerangi siapapun. Sekalipun orang jahat. Aih, sebenarnya tidak ada orang jahat! Orang jahat hanya mengabsenkan atau mengistirahatkan pikirannya.

Pikiran yang tak dipakai bisa berakibat fatal. Fatalnya pikiran lebih sulit, daripada kehilangan indra perasa. Kok bisa sih? Ya bisa dong. Sebab-musabab pikiran yang tak dipakai, berpotensi untuk melakukan tindakan kejahatan. Tapi, dalam moral, kejahatan untuk menyelamatkan kebaikan adalah benar. Loh, gimana sih logika kamu? Kok, pikiran kamu dibolak-balik sih!

Kejahatan untuk menyelamatkan orang lain tak dipersoalkan. Tapi, akan menjadi masalah, tatkala logika ini dipakai dalam kehidupan banga Indonesia. Di mana, yang benar disalahkan. Sementara, yang salah dibenarkan.

Itulah hukum yang harus dibayar, selagi kita masih menganut hierarki kepemimpinan. Aku kembali terpesona, tatkala moralku tak didengarkan oleh mereka yang fanatik hierarki kepemimpinan. Boleh fanatik, asalkan kefanatikan anda memberikan kepuasan batin bagi semua orang.

Aku terpesona setiap kali mengamati keindahan mentari di pagi hari. Anehnya, banyak orang yang berusaha untuk menyelamatkan bumi. Lalu, melupakan manusianya. Segala materi dikorbankan untuk kelestarian lingkungan. Tapi, hanya segelintir orang yang peduli pada kemanusiaan.

Apakah bumi lebih penting daripada kemanusiaan? Ya, keseimbangan adalah jawabannya. Tapi, prioritas utama kita harus pada humaniora. Bukan kepada alam. Karena alam hadir dengan sendirinya. Apapun yang terjadi pada alam, ia tak membutuhkan manusia. Kita manusia yang membutuhkan alam.

Segala peristiwa yang menimpa alam, itu disebabkan oleh ulah kemanusiaan kita. Kita semakin bernafsu untuk membuang sampah sembarangan. Selain sampah, lingkungan sekitar kita berbau semen rabat. Akibatnya, tatkala musim hujan turun, tak ada lagi ruang terbuka. Ya, jalan terakhir adalah kita berenang di dalam air hujan, alias banjir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x