Mohon tunggu...
Frederikus Suni
Frederikus Suni Mohon Tunggu... Suara Milenial dari Kampung Haumeni

Rasa ingin tahu adalah nadi dari ilmu pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tuhan Tahu Apa yang Kita Butuhkan, Bukan Apa yang Kita Inginkan!

28 Januari 2021   21:53 Diperbarui: 28 Januari 2021   22:10 549 52 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tuhan Tahu Apa yang Kita Butuhkan, Bukan Apa yang Kita Inginkan!
Latihan ekstra dan terus mencari dan mengejar impian menjadi Jurnalis. Sumber; Pexels.com

Ekspektasi selalu bertolak belakang dengan realita. Tuhan kasih apa yang kita butuhkan, bukan kasih apa yang kita inginkan!

Sobat, saya baru sadar dengan ungkapan dari salah satu Kompasinaer senior, sekaligus penulis Yasasan Thamrin Dahlan, yakni Pak Ajinatha. Di mana salah satu artikelnya yakni berjudul,"Crew Sinetron dan Film Tidak Beda Kasta."

Tentu saya tidak tidak mengupas apa yang sudah dikisahkan oleh Pak Ajinatha. Tapi, saya mau mengisahkan bagaimana ekspektasi saya selalu bertolak belakang dengan realita.

Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Berkali-kali saya gagal masuk Media. Padahal menjadi Jurnalis adalah cita-cita saya. Namun, kenyataan yang saya alami di lapangan selalu tidak seindah dan semenarik imajinasi.

Jujur saya sudah gagal di beberapa Media, ya awalnya saya rasa, barangkali saya tidak punya passion di sana. Apalagi persyaratan masuk Media juga minimal Diploma. Padahal saya hanya tamatan SMA, jauh jauh dari ekspektasi pemilik Media.

Tapi, malam ini saya sangat bersyukur bahwa dengan artikel Pak Ajinatha, saya mendapat pencerahan bahwasannya Tuhan tidak akan kasih apa yang kita inginkan. Tapi, Tuhan kasih apa yang kita butuhkan.

Kemungkinan kita memiliki peluang yang kecil untuk mencapai apa yang kita inginkan. Sebagai pendekatan kontekstual, gini deh, kita sudah menulis dengan sepenuh hati. Harapannya adalah bisa masuk label pilihan, atau menjadi artikel utama. Namun, tak kunjung kita dapatkan ekspektasi itu. Lalu kita sedih, kadar atau semangat berjuang kita terkikis oleh harapan kita yang tak sesuai ekspektasi.

Kita sadar juga bahwa  orang lain berhak mendapatkan kesempatan itu. Ya, karena di sanalah Tuhan sudah mempersiapkan kemampuan yang sepadan dengan perjuangan mereka. Sementara, kita yang belum mendapatkan kesempatan itu, tentunya kita harus bekerja lebih ekstra lagi. Yang terpenting kita membuka kelima panca indera kita untuk menyadari hal apa yang sudah kita raih dalam sebulan, setahun. Itulah berkat yang Tuhan sediakan untuk kita.

Bila flasback mengenai kehidupan selama ini, tentunya saya sudah menerima berkat dari Tuhan, berupa 3 karya yang sudah saya terbitkan di Media Cetak. Bukankah ini adalah hadiah dari apa yang saya butuhkan? Bila saya ngotot untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, saya akan menemui masalah. Kira-kira potretan kisah saya juga mirip dengan pencarian kita akan kondisi psikologis bangsa saat ini. Ah, daripada out of the box, mendingan kita lanjutkan topiknya.

Meminjam istilah para Filsuf Yunani bahwa jangan mencari apa yang sudah terkandung di dalamnya. Artinya kita jangan mencari kebahagiaan yang sudah kita dapatkan dari Tuhan.  Karena semakin kita mencari keinginan kita, penderitaanlah yang kita dapatkan.

Tapi, saya juga menyadari bahwasan kita tak pernah puas dengan apa yang kita dapatkan. Ya, karena kodrat kita adalah mencari.
Wes, kita bermain di ranah filsafat ya, sobat. Tapi, next time ajalah sobat. Karena filsuf Plato dalam etika Nikomachea mengatakan bahwa, pencarian tertinggi dan terakhir dari manusia adalah kebahagiaan."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN