Mohon tunggu...
Fransiska Isti
Fransiska Isti Mohon Tunggu... Guru - Tulisan adalah jejak kaki yang kita tinggalkan.

youtube.com/@fransisca_otey

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

April

5 April 2021   21:51 Diperbarui: 5 April 2021   21:57 245
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: @fransisca.otey

"Nah, sekarang lo fokus tarik selimut aja. Ini uda pukul berapa ei? Mata gua udah nggak sanggup nih. Gua mau tidur. Lo buruan tidur juga deh daripada besok mata lo kaya habis digebukin. Merah, bengkak gara nangis semalaman gak ada untungnya dari air mata kesedihan lo itu. Aku kelarin ya teleponan ini. Huh, punya sahabat kok gini-gini amat yak, suka ganggu hidup orang."

"Sorry, sorry, lo tidur aja deh, nanti gua susul. Thanks ya, Ndri. Bye."

Tut...tut...tut...telepon terputus begitu saja tanpa balasan Indri.

Indri yang tak pernah bosan memanggilku mami, di mana pun dan kapan pun; selalu bisa membuatku tak pernah merasa sendiri meskipun aku tinggal seorang diri tanpa Elang lagi. Elang, laki-laki yang aku kira nggak akan pernah tega memberi luka. Ternyata, malah setega ini.

Malam ini, mataku kupaksa tidur, tetapi pikiranku berkeliaran menjelajah hati yang terluka. Kenapa bulan April yang menyaksikan kesedihanku, bulan aku lahir di bumi untuk dipertemukan dengan seseorang yang ternyata tak berkomitmen. 

Aku pahami pertemuan dan perpisahan itu tak mungkin tanpa sebab. Dia Sang Penguasa telah mengaturnya. Aku ingin segera bertemu Mei, berangan aku lahir kembali dan dipertemukan dengan seseorang yang paham masalah hati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun