Mohon tunggu...
Fransisca Asri
Fransisca Asri Mohon Tunggu...

Saya, seorang perempuan biasa yang sedang belajar menulis. Menulis apa? Apa saja yang saya rasa menarik untuk ditulis.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Melodi dari Palestina, Pesan Damai dalam Harmoni Orkestra

2 April 2013   09:48 Diperbarui: 24 Juni 2015   15:52 0 0 1 Mohon Tunggu...
Melodi dari Palestina, Pesan Damai dalam Harmoni Orkestra
1364895342843929204

Pernikahan adalah salah satu momen puncak dalam kehidupan manusia.  Seluruh keluarga berkumpul , makanan terbaik disajikan, musik indah diperdengarkan, agar hadirin larut dalam kebahagiaan yang dirasakan mempelai.  Namun bagi mereka yang tinggal di Palestina,  keadaan mungkin sedikit berbeda.  Di tengah kebahagiaan pesta, ada rasa was-was yang menyelimuti, karena tak ada yang tahu kapan serangan akan terjadi. Kebahagiaan, dalam sejenak bisa berubah menjadi tangis air mata.  Bahagia di tengah kegetiran, mungkin itulah yang ingin disampaikan oleh komponis Palestina, Kinan Azmeh, dalam karyanya "Wedding" yang ditampilkan dalam Konser Palestine National Orchestra, di Aula Simfonia Jakarta, 30-31 Maret lalu. Kinan Azmeh adalah salah satu dari 48 musisi kelas dunia - sebagian besar berasal dari atau memiliki darah Palestina - yang bergabung dalam orkestra yang didirikan tahun 2004 ini.  Palestine National Orchestra(PNO) berisi gabungan dari musisi asal Palestina maupun diaspora Palestina di berbagai negara, yang bersatu dengan tujuan menunjukkan wajah Palestina yang damai dengan bahasa universal yang harmonis: musik.  Sebagian pemusik PNO merupakan anggota berbagai orkestra simfoni dunia seperti Royal Academy of Music (London), Paris Conservatoire dan Los Angeles Orchestra. Dipimpin konduktor Matthew Coorey, Palestine National Orchestra memukau publik Indonesia dengan menampilkan paduan dari komposisi klasik seperti Mozart, Rossini, dan Beethoven, dengan karya komponis Palestina Kinan Azmeh dan Wissam Boustany.  Yang berbeda dengan penampilan PNO sebelumnya, khusus untuk Indonesia, mereka mempersembahkan lagu Tanah Airku yang dibawakan dengan sangat apik oleh soprano cantik blasteran Palestina - Jepang Mariam Tamari.  Persembahan lagu nasional Indonesia ini diberikan sebagai wujud terima kasih PNO kepada Indonesia yang tak pernah putus dalam mendukung perjuangan bangsa Palestina. Musisi-musisi yang tergabung dalam Palestine National Orchestra berdomisili di Palestina dan berbagai negara.  Hampir seluruhnya telah bermain untuk orkestra kelas dunia, seperti Los Angeles Orchestra, London Royal Academy of Music, San Antonio Symphony Orchestra, dan lain-lain.  Orkestra ini menampilkan konser perdananya di Ramallah pada Malam Tahun Baru 2010, kemudian di Yerusalem di tahun baru 2011 dan Haifa.  Salah satu violinisnya  yaitu Charlie Bisharat bahkan pernah bekerja sama dengan penyanyi kenamaan Michael Jackson.  Dilihat dari kualitas musisi pendukungnya, jelas bahwa Palestine National Orchestra bukanlah orkestra sembarangan, tetapi berkelas dunia. [caption id="attachment_235928" align="alignnone" width="602" caption="Penampilan Palestine National Orchestra di Jakarta"][/caption] Menurut manager PNO, Tim Pottier, bukan hal yang mudah mengumpulkan berbagai musisi dari penjuru dunia di antara jadwal kegiatan mereka, untuk tampil bersama di bawah panji Palestine National Orchestra.  Kecintaan yang mendalam terhadap tanah Palestina-lah yang menyatukan hati seluruh musisi pendukung sehingga mereka berusaha untuk bisa bertemu dan menampilkan performa terbaik mereka.  Di Palestina sendiri, menurut Tim, tak jarang para musisi ini harus mengambil resiko ketika mencoba melewati barikade perbatasan antara Israel dan Palestina untuk berkonser.  Karena faktor situasi Palestina yang jauh dari kondusif, izin konser yang amat sangat sulit didapat, musisi-musisi PNO terpaksa lebih sering tampil di luar Palestina. Sungguh ironis, karena sebetulnya rakyat Palestina-lah yang lebih memerlukan hiburan di tengah konflik yang seolah tak berujung.  Karena itulah,  hingga saat ini para musisi ini tetap berjuang untuk Palestina bukan dengan senjata, melainkan dengan musik, membawa pesan perdamaian serta menunjukkan sisi lain Palestina. Dalam sambutannya sebelum konser, Duta Besar Palestina Fariz Nafi Medawi memaparkan bahwa saat ini Palestina tidak hanya membutuhkan bantuan yang terkait melulu dengan perang, tetapi lebih kepada bantuan untuk membangun ekonomi dan sosial budaya.  Beliau mengungkapkan keprihatinannya akan kondisi psikis bangsa Palestina yang sekian lama selalu dihadapkan pada kekerasan.   Mereka membutuhkan bantuan dari sisi yang berbeda, seperti melalui musik.  Musik dipercaya memberikan ketenangan dan damai, yang pada akhirnya akan menurunkan tensi kekerasan dan amarah yang sudah mengakar. Bantuan di bidang sosial budaya seperti untuk membangun sekolah musik di Palestina, misalnya, dipercaya mampu memulihkan rakyat Palestina dari trauma pasca perang, menumbuhkan kepercayaan diri untuk membangun negeri mereka. Dipimpin Coorey, PNO mengawali penampilannya dengan Symphony No. 41 'Jupiter' karya Mozart dilanjutkan dengan Non si da Follia Maggiore karya Rossini.  Mariam Tamari, soprano blasteran Palestina-Jepang menunjukkan kualitas suaranya dalam karya Rossini ini.  Tamari, yang berkarir sebagai solis dan resitalis di Jepang dan Amerika membuat penonton menahan napas menyaksikan kepiawaiannya sebagai penyanyi opera kelas dunia dengan kemampuannya menanyikan karya rumit secara ekspresif.   Penampilan Tamari menambah kesempurnaan penampilan orkestra secara keseluruhan. Menutup babak pertama, hentakan repertoar  "Wedding"  karya Kinan Azmeh membawa audiens berpindah dimensi dari klasik ke modern.  Nuansa Palestina terasa sangat kental dengan unsur perkusi yang dominan.  Azmeh adalah orang Arab pertama yang memenangkan penghargaan Nikolai Rubinstein pada 1997 dalam Kompetisi Internasional Moskow.  Dalam "Wedding", Azmeh begitu piawai memasukkan elemen jazz dengan petikan cello dan kontrabass, membuat komposisi ini terdengar begitu berjiwa, rancak, sekaligus penuh emosi.  Audiens seakan diajak untuk menyelami suasana pernikahan di Palestina, bagaimana bangsa Palestina merayakan bahagia di tengah kekalutan dan kekhawatiran akan datangnya desingan peluru.  Standing ovation panjang usai repertoar ini dimainkan, menegaskan inilah salah satu tampilan yang paling mengesankan. Di babak kedua, Wissam Boustany dengan solo flute mengajak audiens menikmati suara alam  dengan repertoar "And The Wind Whispered" .  Kita akan terpukau menyaksikan Boustany dengan flute-nya berkomunikasi dengan penonton.  Jemari Boustany dengan lugas memainkan energi untuk menterjemahkan 'bisikan angin' dalam komposisinya yang magis dan imajinatif.  Selain berkarir sebagai Profesor Musik Flute di Royal Northern Music of Manchester, Boustany juga telah mengeluarkan lima album CD dan serta berbagai tur ke daratan Eropa dan Amerika telah dijalaninya.  Boustany yang berdarah Palestina namun lahir di Lebanon ini telah memenangkan berbagai penghargaan kelas dunia di bidang musik dan saat ini bermain untuk London Symphony Orchestra. Malam itu, Palestine National Orchestra mengakhiri penampilannya secara sempurna dengan membawakan komposisi  "Tanah Airku".  Mariam Tamari kembali tampil memukau mengunjukkan kebolehannya dengan mengenakan kebaya rancangan Anne Avantie.  Salut dengan pelafalan bahasa Indonesia Tamari yang tanpa cela saat menyanyikan karya Ibu Soed ini.  Aransemen dari Addie MS, konduktor Twilite Orchestra, membuat karya ini terdengar agung dan megah.  Sulit dipercaya sekaligus membanggakan, ketika musisi-musisi kelas dunia dengan sangat apik berkenan membawakan sebuah repertoar Indonesia yang juga diaransir oleh musisi Indonesia. Mendukung penampilan PNO, selain Addie MS dan managemen Twilite Orchestra, beberapa musisi Indonesia seperti pemain harpa Rama Widi, pemain biola Michelle Siswanto dan Adi Nugroho, serta pemain perkusi I Nyoman Minartha turut andil dalam berkolaborasi bersama musisi Palestina dalam penampilannya di Jakarta. [caption id="attachment_235924" align="alignnone" width="300" caption="Berpose bersama Mariam Tamari, soprano Palestine National Orchestra"]

1364895048281156107
1364895048281156107
[/caption] [caption id="attachment_235925" align="alignnone" width="300" caption="Bersama Naseem Al-Atrash, pemain biola"]
1364895158358547947
1364895158358547947
[/caption] [caption id="attachment_235932" align="alignnone" width="300" caption="Penyelenggara Konser PNO berfoto bersama konduktor Matthew Coorey, Wissam Boustamy dan Addie MS"]
1364895596782326902
1364895596782326902
[/caption] Penampilan Palestine National Orchestra di Jakarta membuktikan bahwa meskipun didera konflik, Palestina menyimpan permata-permata berharga berupa  seniman-seniman yang bertalenta.  Sungguh merupakan kesempatan yang langka karena saya bisa menyaksikan langsung kebolehan mereka.  Rasa kagum saya terhadap kesungguhan dan kepiawaian para musisi itu tak mungkin habis diungkapkan dengan kata-kata. Bahagia sekaligus sedih, karena saudara-saudara mereka di Palestina saat ini belum sepenuhnya bisa menikmati karya mereka. Saya sungguh berharap agar dukungan dari kita, sebagai saudara, kepada bakat-bakat Palestina ini terus mengalir.  Sebagai seorang Ibu, saya juga ingin anak-anak di Palestina bisa belajar, bermain dan bermusik dengan riang, seperti anak-anak kita di sini.  Saya juga sangat berharap agar kelak, masyarakat Palestina bisa menikmati karya anak bangsa mereka seperti kita di sini telah menyaksikan mereka.  Semoga.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x